Prabowo Hadiri Acara Puncak KTT ASEAN ke 48 di Filipina, Bahas Ketahanan Energi
Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara puncak Pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat (8/5). Agenda rutin kawasan ini membahas tiga isu utama, mulai dari ketahanan energi hingga pangan.
Kedatangan Prabowo disambut tuan rumah Presiden Filipina, Ferdinand Romualdez Marcos Jr. dan Ibu Marie Louise Cacho Araneta Marcos. Agenda diawali dengan upacara pembukaan KTT ke-48 ASEAN.
Upacara pembukaan KTT ke-48 ASEAN ditutup dengan sesi foto bersama yang memperlihatkan para pemimpin negara ASEAN berdiri bergandengan tangan sebagai simbol persatuan dan solidaritas kawasan.
Dalam sesi tersebut, Presiden Prabowo tampak berdiri di antara Sultan Brunei Darussalam, Yang Mulia Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet.
Kehadiran Presiden menegaskan peran aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas, memperkuat kolaborasi regional, serta mendorong ASEAN tetap menjadi kawasan yang solid, damai, dan resilien di tengah tantangan global yang dinamis.
Terkait pembahasan, dalam sambutannya Presiden Marcos mengatakan ada tiga hal utama yang difokuskan dalam konferensi ini.
Pertama, kepastian keamanan dan ketahanan energi kawasan, terlebih di tengah volatilitas global yang tinggi. Asean harus menjaga stabilitas pasokan energi yang dilakukan bersamaan dengan pengembangan sumber energi alternatif, untuk melindungi perekonomian kawasan dari ancaman lebih lanjut.
“Kita juga harus memanfaatkan inovasi, termasuk penerapan kecerdasan buatan yang inklusif dan bertanggung jawab,” kata Marcos dalam sesi plenary KTT ASEAN ke-48, Jumat (8/5).
Kedua, kerja sama ASEAN untuk menstabilkan ketahanan pangan. Menurut Marcos, gangguan perdagangan dan transportasi akibat penutupan Selat Hormuz dengan cepat memengaruhi harga dan pasokan pangan, terutama pupuk, dan pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat ASEAN.
“Tugas kita memastikan ASEAN tetap responsif dalam memperkuat dan memperluas perdagangan intra-ASEAN serta membangun kapasitas untuk menjaga dan memperkuat sistem pangan di seluruh kawasan,” ucapnya.
Ketiga, menjamin keselamatan warga negara ASEAN di tengah kondisi krisis saat ini antar anggota harus melindungi masyarakat bersama-sama. Perlindungan ini dilakukan melalui penguatan sistem peringatan dini, meningkatkan koordinasi konsuler, dan memastikan penyaluran bantuan secara tepat waktu.
“Hari ini kita berkumpul untuk menghadapi bersama dampak gejolak Timur Tengah, serta berkomitmen untuk memajukan perdamaian, stabilitas, kemakmuran, serta memastikan manfaat kerja sama ASEAN dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.