Menag Nasaruddin hingga Gus Yahya Masuk Bursa Calon Pimpinan PBNU

Noor Muhammad Rizki/TVNU
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar kegiatan sosialisasi Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKM-NU) untuk wilayah Provinsi Jawa Timur di Surabaya pada Rabu (7/6/2023). Agenda kegiatan ini meliputi sosialisasi gambaran kerja GKMNU, satuan tugas nasional GKMNU, pengorganisasian GKMNU dan rencana kerja GKMNU. Selain agenda sosialisasi tersebut, terdapat pula arahan pembentukan satuan tugas wilayah dan cabang NU.
8/5/2026, 16.04 WIB

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar muktamar pada Agustus 2026. Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan setidaknya ada dua nama yang masuk bursa pimpinan PBNU untuk dipilih dalam muktamar.

Dua nama yang telah masuk bursa adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Ketua Umum NU saat ini Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Seperti diketahui, Gus Yahya sempat diberhentikan dari Ketum NU pada November 2025 sebelum akhirnya kembali menjadi Ketum NU pada Januari 2026.

Menurutnya, pertimbangan utama masuknya Nasaruddin dan Gus Yahya dalam bursa Ketum NU adalah pernah menjadi Sekretaris Jenderal Syuriah NU atau Khatib Aam. "Jadi semua tokoh yang masuk bursa sebenarnya punya potensi, tinggal berkenan atau tidak menjadi Ketua NU," kata Gus Ipul di Gedung Merah Putih KPK, Jumat (8/5).

Gus Ipul juga mengatakan, saat ini telah banyak nama yang masuk bursa Ketum NU. Namun dia tidak mengonfirmasikan dengan pasti berapa banyak jumlah calon yang siap mendaftar.

Menurutnya, nama dalam bursa Ketum NU akan terus bertambah lantaran pengurus NU di tingkat kabupaten/kota akan mengajukan nama lain. Walau demikian, Gus Ipul mengatakan dirinya tidak akan masuk dalam bursa Ketum NU dalam Muktamar NU Agustus 2026.

"Saya sudah sampaikan berulang-ulang, saya merasa tidak mencukupi syarat untuk bisa jadi Ketua Umum NU," katanya.

Gus Ipul mengatakan NU akan mengadakan beberapa kegiatan sebelum Muktamar Agustus 2026, yakni Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU. Menurutnya, kedua kegiatan tersebut akan digelar pada Juni 2026.

Gus Ipul yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial menjanjikan pemerintah tidak akan mengintervensi pemilihan Ketua NU dalam Muktamar Agustus 2026. Sebab, Presiden Prabowo Subianto sangat memahami peran strategis NU dalam pemerintahan.

"Saya percaya pak presiden akan menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan pimpinan Nahdlatul Ulama kepada Muktamar," katanya.

Kepengurusan PBNU terpecah menjadi dua faksi pada akhir tahun lalu. Kelompok pertama yakni faksi kepengurusan Zulfa Mustofa setelah berlangsungnya Rapat Pleno pihak Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar di Hotel Sultan Jakarta pada 9-10 Desember lalu.

Faksi ini turut didukung oleh Mantan Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Menteri Agama Nasaruddin Umar, hingga Ketua Pengurus Harian atau Tanfidziyah PBNU sekaligus Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Sementara faksi kedua merujuk pada kelompok PBNU pimpinan Gus Yahya yang berbasis di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta. Sejumlah ulama tergabung di dalamnya, termasuk Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU Ulil Abshar Abdalla.


Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief