Purbaya Batal Ibadah Haji Tahun Ini, Jadwal Ulang Berangkat Tahun Depan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membatalkan rencana keberangkatan ibadah haji yang sebelumnya dijadwalkan pada 21 Mei 2026. Purbaya mengatakan pembatalan itu tidak berkaitan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto maupun tugas negara.
“Belum saatnya mungkin. Tidak (diminta Presiden), belum rezekinya,” kata Purbaya di Istana Merdeka Jakarta, pada Kamis (21/5).
Ia mengatakan keputusan itu berlaku untuk seluruh anggota keluarganya. Purbaya mengatakan berencana kembali menjadwalkan ibadah haji pada tahun depan. Ia berharap rencana keberangkatan bersama keluarga dapat terlaksana tanpa kendala nantinya.
“Tahun depan lah naik hajinya. Doakan ya, tahun depan tidak batal lagi,” ujarnya.
Dalam kunjungan ke Istana kali ini, Purbaya mengatakan dirinya memenuhi panggilan dari Presiden Prabowo guna mematangkan mekanisme kerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai lembaga yang akan mengelola transaksi ekspor sumber daya alam (SDA).
Prabowo Panggil Sejumlah Pejabat Bahas Skema Badan Ekspor
Sejumlah pejabat yang dipanggil ke Istana adalah Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perdagangan Budi Santoso, hingga Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Purbaya mengatakan, ia membawa sejumlah catatan daftar perusahaan yang diduga melakukan praktik manipulasi harga crude palm oil (CPO) dalam transaksi ekspor ke luar negeri, salah satunya ke Amerika Serikat (AS).
Catatan itu berisi perbedaan selisih antara nilai ekspor yang tercatat di Indonesia dan nilai impor di negara tujuan. Praktik-praktik ini memicu menurunkan pendapatan negara. Ia mengatakan, dalam laporan tersebut nilai barang yang tercatat saat ekspor dari Indonesia lebih rendah dibandingkan nilai impor yang tercatat di AS.
"Ada sepuluh perusahaan besar, tiga perusahaan pengapalan, masing masing perusahaan saya pilih secara acak. Mereka kelihatan melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat. Jadi, harganya di sini (Indonesia) itu cuma seperempat atau sepertiga yang ada di AS," kata Purbaya.