Pemerintah Bidik Wisata Olahraga Jadi Sumber Pendapatan Negara

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kanan) bersama Pelatih Timnas Indonesia John Herdman (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai bertemu Presiden Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026).
2/7/2026, 17.21 WIB

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menilai sport tourism atau wisata olahraga dapat menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. Ia berpendapat sektor bisnis ini memiliki potensi untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Salah satu komponen terbesar di parawisata itu yang namanya sport tourism. sport tourism itu nilainya itu kurang lebih hampir US$ 625 miliar atau Rp 9.700 triliun sampai Rp 9.800 triliun, besar itu,” kata Erick dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Jakarta, pada Kamis (2/7).

Erick berpendapat olahraga seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban anggaran negara, melainkan sebagai sektor yang mampu menghasilkan pendapatan. Ia menguraikan berbagai penyelenggaraan ajang olahraga telah menunjukkan dapat menggerakkan roda ekonomi, mulai dari meningkatkan tingkat hunian hotel hingga mendorong konsumsi masyarakat.

Sebagai contoh, Indonesia saat ini memiliki sekitar 104 ajang maraton dengan total peserta mencapai 10,4 juta pelari. Jumlah peserta itu disebut dapat mendorong transaksi lanjutan di berbagai sektor, mulai dari penjualan perlengkapan olahraga, akomodasi, hingga kuliner.

“Bayangkan berapa transaksi sepatu larinya. Kalau saya melihat beberapa pameran olahraga sudah banyak mulai brand local. Menariknya kalau maraton ini weekend, jadi kota-kota besar yang bukan tujuan wisata seperti Jakarta, Medan, Malang hotelnya penuh. Kayak di Bandung saja total pendaftarnya 15 ribu sampai 20 ribu,” ujarnya.

Selain lari, Erick menilai Indonesia memiliki peluang mengembangkan wisata olahraga berbasis alam seperti surfing dan hiking. Ia menyebut sejumlah destinasi selancar kelas dunia, seperti Banyuwangi dan Krui di Lampung, masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk menarik wisatawan.

Ketua Umum PSSI itu juga menyoroti dampak ekonomi penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, ajang balap internasional tersebut telah memberikan dampak ekonomi sekitar Rp4,9 triliun.

Ia mengatakan kehadiran MotoGP turut mendorong tumbuhnya investasi di kawasan Mandalika, mulai dari pembangunan vila, bertambahnya restoran, hingga berkembangnya destinasi wisata di sekitar Lombok.

"Sekarang kalau ke Mandalika, restoran sudah mulai banyak. Orang mulai investasi villa. Ketika ada MotoGP, wisata lain seperti Gili Trawangan maupun wisata religi di Lombok juga ikut terisi," ujar Erick.

Erick menambahkan penyelenggaraan ajang olahraga berskala internasional tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada lokasi pertandingan, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap sektor pariwisata, transportasi, perhotelan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Jadi tolong olahraga ini bukan cost center, tapi ini investment yang menghasilkan revenue, dan national branding kita jadi mahal karena olahraga,” kata Erick.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu