Kopdes Merah Putih Kelola Pabrik CPO dan PLTS, Mulai Beroperasi Agustus
Koperasi Desa/Kelurahan atau Kopdes Merah Putih mulai memperluas ruang usahanya ke sektor energi dan industri. Pemerintah menjadwalkan peresmian pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Koperasi juga dijadwalkan bakal mulai mengelola pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada bulan serupa.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, saat menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Minggu (12/7).
Ferry mengatakan pihaknya telah menjadwalkan peresmian pabrik CPO milik Koperasi Unit Desa Sejahtera di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, pada Agustus mendatang.
Pada bulan yang sama, pemerintah juga berencana meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas sekitar 0,5 hingga satu megawatt yang dikelola koperasi di Sembur Laut, Pulau Galang Baru, Kepulauan Riau.
“Kami dengan izin dan perkenan Bapak ingin meresmikan pembangkit listrik tenaga surya skala setengah sampai dengan satu mega di Semburlaut,” kata Ferry, sebagaimana dikutip dari siaran kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Senin (13/7).
Ia turut melaporkan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah menyelesaikan penerbitan sekitar 83 ribu badan hukum koperasi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 15.845 koperasi telah memiliki bangunan fisik berupa gudang, gerai, dan fasilitas pendukung yang rampung dibangun. Sementara itu 19.539 lainnya masih dalam tahap konstruksi. “Jadi total kurang lebih 35 ribu, Bapak Presiden,” ujar Ferry.
Pada kesempatan serupa, Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan di balik pembentukan 81 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ia mengatakan, program itu bertujuan untuk memutus ketergantungan petani terhadap praktik rentenir atau lintah darat sekaligus memperbaiki tata niaga dan penyaluran berbagai barang bersubsidi hingga ke tingkat desa.
Prabowo menyampaikan hal itu saat menyampaikan pidato puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Minggu (12/7).
Ketua Umum Partai Gerindra itu menceritakan gagasan membangun Koperasi Merah Putih muncul dari pengalamannya saat bertugas sebagai prajurit di berbagai pelosok desa.
“Konsep Koperasi Merah Putih ini sudah lama ada di benak saya, puluhan tahun. Saya waktu di tentara bertugas di desa-desa, di gunung. Bisa berbulan-bulan di sebuah kecamatan. Saya lihat ada rakyat yang mati kelaparan dan saya tidak bisa berbuat apa-apa karena makan saya terbatas untuk kompi saya,” kata Prabowo, sebagaimana dikutip dari kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Senin (13/7).
Pengalaman tersebut membuatnya meyakini bahwa pembangunan ekonomi nasional harus dimulai dari desa. Ia kemudian menyimpulkan koperasi bisa menjadi instrumen efektif untuk melindungi kelompok masyarakat paling bawah.
Prabowo menjelaskan jumlah target pembangunan 81 ribu koperasi mengikuti jumlah desa dan kelurahan yang ada di seluruh Indonesia. Melalui koperasi tersebut, masyarakat diharapkan memeroleh akses pinjaman berbunga rendah sehingga tidak lagi bergantung pada praktik lintah darat.
Selain menyediakan layanan simpan pinjam, pemerintah juga menjadikan koperasi sebagai pusat distribusi berbagai barang bersubsidi. Penyaluran pupuk bersubsidi, dan LPG 3 Kg, nantinya dilakukan melalui Koperasi Merah Putih untuk menekan praktik penyimpangan.
“Hampir semua barang-barang subsidi bisa disalurkan melalui koperasi supaya tidak diselewengkan. Karena banyak barang subsidi diselewengkan tidak sampai ke rakyat,” ujarnya.
Pemerintah juga berencana mengembangkan koperasi sebagai pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi. Setiap koperasi dirancang memiliki toko sembako, layanan kredit mikro, apotek desa, gudang logistik, hingga fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage guna menjaga kualitas hasil pertanian dan perikanan.
Di wilayah pesisir, pemerintah menyiapkan koperasi nelayan yang dilengkapi pabrik es, gudang pendingin, dan kapal penangkap ikan yang dikelola secara kolektif. Skema tersebut dirancang agar nelayan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mencicil investasi usaha melalui hasil tangkapan mereka.
Prabowo memproyeksikan keberadaan Koperasi Merah Putih dapat mendorong perputaran ekonomi desa hingga Rp223 triliun setiap tahun. Lebih jauh, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani, peternak, dan nelayan sekitar Rp202 triliun melalui penguatan ekosistem ekonomi berbasis koperasi.