Prabowo Bantah MBG Picu Pelemahan Rupiah dan Anjloknya Bursa Saham
Presiden Prabowo Subianto menanggapi narasi yang menyebutkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan membebani keuangan negara hingga memicu krisis ekonomi. Ia menilai berbagai kekhawatiran tersebut tidak memiliki dasar kuat.
Prabowo menyampaikan hal itu saat memberikan taklimat dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/7).
Ketua Umum Partai Gerindra itu menjelaskan pemerintahannya menjadikan kesejahteraan masyarakat sebagai tolok ukur utama dalam menjalankan kebijakan. Hal itu mencakup mengupayakan harga pangan terkendali, pupuk tersedia bagi petani dengan harga terjangkau, serta anak-anak sekolah memperoleh MBG.
“Saya diserang karena ingin memberi makan bergizi untuk anak-anak Indonesia. Memberi makan untuk ibu-ibu hamil, untuk orang-orang lansia, dianggap pemborosan,” kata Prabowo.
Ia juga menepis pernyataan yang mengaitkan MBG dengan potensi memburuknya kondisi ekonomi nasional. Prabowo menyebut kritik tersebut berkembang hingga memunculkan sejumlah narasi seperti pasar saham dan nilai tukar rupiah akan mengalami kejatuhan.
Menurut Prabowo, kritik tersebut tidak sejalan dengan kondisi yang dihadapi masyarakat, terutama persoalan gizi anak. Ia menilai negara justru memiliki kewajiban ke generasi muda untuk memperoleh asupan gizi yang memadai sejak dini.
“Sebagian besar anak-anak tidak makan berangkat sekolah, kita dituduh pemborosan. Kita dibilang ekonomi mau collapse, harga saham akan ambruk. Mata uang akan melemah, alasannya karena boros,” kata Prabowo.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Pertahanan 2019-2024 itu turut mempertanyakan mengapa kritik terhadap penggunaan anggaran negara begitu keras diarahkan kepada program pemberian makanan bergizi.
Di sisi lain, ia menilai dugaan hilangnya uang negara dalam jumlah besar selama puluhan tahun tidak pernah memicu reaksi serupa dari para pengamat maupun pihak-pihak yang selama ini menyoroti Program MBG.
“Memberi makan untuk anak-anak Indonesia, ibu hamil, lansia, dianggap pemborosan. Tapi ribuan triliun yang menguap, pergi dari bumi Indonesia, tiap tahun selama 34 tahun tidak ada komentar. Tidak ada pakar yang protes, tidak ada investigasi,” ujarnya.