El Nino Godzilla Makin Dekat, Prabowo Bahas Mitigasi Kekeringan dan Karhutla
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (28/7), untuk membahas langkah antisipasi menghadapi potensi El Nino Godzilla atau Super El Nino yang diperkirakan datang lebih cepat dan berpotensi memicu cuaca kekeringan ekstrem.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan jalannya rapat berfokus pada dua isu utama, yakni menjamin ketersediaan air selama musim kemarau serta memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemerintah menyiapkan langkah pengelolaan sumber daya air agar pasokan air bersih bagi masyarakat dan kebutuhan irigasi pertanian tetap terjaga. Pemerintah juga berencana melakukan operasi modifikasi cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna menjaga debit air waduk dan danau terisi selama musim kemarau.
AHY juga menyampaikan upaya pencegahan karhutla dengan menjaga lahan gambut tetap basah dan mengendalikan potensi munculnya titik api agar. “Tanah lahan gambut itu juga harus tetap dalam kondisi yang basah. Ini untuk memitigasi potensi kebakaran hutan,” kata AHY.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan Prabowo menggelar rapat khusus karena BMKG memprediksi fenomena El Nino terjadi lebih cepat dari siklus normal empat tahunan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kering datang lebih awal dan berakhir lebih lambat sehingga membutuhkan langkah antisipasi sejak dini.
Raja Juli menilai penanganan El Nino Godzilla perlu disikapi secara serius karena dapat memicu kebakaran hutan. Ia menilai dampak kebakaran hutan tidak hanya memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga dapat menghambat aktivitas ekonomi, operasional bandara, hingga kegiatan belajar di sekolah.
Pihaknya mengatakan telah mewaspadai perluasan wilayah rawan kebakaran karena potensi kemunculan titik panas di sejumlah daerah, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Yang tradisional itu kan di daerah gambut seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Tapi ini ada tren baru di luar enam provinsi itu, di NTT, kemudian di NTB,” kata Raja Juli.
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menyebut pemerintah telah menekan luas kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa periode El Nino. Luas karhutla tercatat menurun dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015 menjadi sekitar 2,1 juta hektare pada 2019.
Raja Juli menyebut luasan itu turun lagi menjadi sekitar 1,1 juta hektare pada 2023. “Tahun lalu juga turun dari 375 hektare menjadi 350 hektare. Jadi sebenarnya kita bisa menekan itu, hanya saja butuh koordinasi yang lebih rekat lagi. Climate change is real. Jadi kita perlu bersama-sama mengantisipasi,” ujarnya.
Amran: Ada Potensi Gagal Panen Terbatas
Di sektor pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pertanian.
Pemerintah telah menyebar sekitar 100 ribu pompa di berbagai daerah, memperbaiki jaringan irigasi seluas sekitar 900 ribu hektare bersama Kementerian Pekerjaan Umum, hingga menyediakan benih tahan kekeringan.
Selain itu, pemerintah turut mengoptimalkan lahan rawa hingga sekitar 800 ribu hektare, mencetak lebih dari 200 ribu hektare sawah baru, serta membangun embung, sumur dangkal, dan sumur dalam.
Amran menjelaskan kondisi cuaca hingga pertengahan tahun masih diwarnai curah hujan tinggi di sejumlah wilayah sehingga memberikan keuntungan bagi sektor pertanian. “Kemarin Jawa Timur dan beberapa provinsi seluruh Indonesia ada hujan lebat. Jadi ini berkah untuk petani,” kata Amran.
Amran juga menyampaikan bahwa kementeriannya menjamin stok pangan nasional tetap berada pada level aman. Cadangan beras pemerintah di gudang Bulog mencapai sekitar 5,2 juta ton, sementara tanaman padi yang sedang tumbuh diperkirakan menghasilkan sekitar 10–11 juta ton.
“Standing crop nilainya kurang lebih 10-11 juta ton. Standing crop yang ditanam sekarang daerah irigasi, itu kan tetap produksi kalaupun ada kering,” ujarnya.
Amran Sulaiman juga menyatakan dampak El Nino mulai dirasakan di sektor pertanian melalui munculnya kekeringan di sejumlah daerah. Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut belum memengaruhi situasi pertanian secara nasional. “Kalau sektor pertanian ada beberapa daerah kering. Tetapi secara nasional, Insyaallah aman,” kata Amran.
Ia juga memperkirakan potensi gagal panen hanya terjadi secara terbatas di beberapa wilayah sehingga tidak akan berdampak terhadap ketersediaan stok pangan nasional. Menurutnya, kondisi tersebut juga tidak diperkirakan memicu kenaikan harga bahan pokok karena pemerintah masih memiliki cadangan beras sekitar 5,2 juta ton di Gudang Bulog.
“Mungkin ada kecil-kecil (gagal panen), tapi itu tidak akan berpengaruh pada stok nasional. Insyaallah tidak (mengerek harga bahan pokok),” ujar Amran.
Rapat terbatas kali ini juga turut dihadiri oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, hingga Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii.