Strategi Jakarta Menuju Kota Global, Dari Branding hingga Penataan Ruang
Gubernur Pramono Anung menargetkan Jakarta masuk 50 besar kota global pada 2030 dan berada dalam jajaran Top 20 Global City pada 2045. Namun, bagi Pemprov DKI, target tersebut bukan sekadar soal peringkat dunia, melainkan bagian dari upaya membangun Jakarta sebagai kota yang nyaman dihuni dan mampu bersaing di tingkat global.
Atika Nur Rahmania, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta menyampaikan, transformasi tersebut diarahkan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang mampu menarik investasi, melahirkan inovasi, menjadi rumah bagi talenta terbaik, sekaligus memberikan lingkungan yang nyaman bagi masyarakat.
“Karena itu, identitas yang ingin kami bangun bukan sekadar sebagai ibu kota administratif, melainkan sebagai global business city yang livable, inovatif, sustainable, dan globally connected,” ujar Atika dalam wawancara tertulis kepada Katadata.
Berdasarkan kajian Jakarta RISE #20, Jakarta memiliki modal yang kuat untuk mewujudkan visi tersebut. Sebagai penyumbang sekitar 17 persen produk domestik bruto (PDB) nasional, Jakarta telah menjadi pusat jasa keuangan, perdagangan, pemerintahan, bisnis, ekonomi digital, sekaligus gerbang Indonesia menuju pasar global.
Untuk mencapai visi tersebut, terdapat tiga isu utama yang menjadi fokus pembangunan. Pertama, memperkuat Jakarta sebagai pusat ekonomi berbasis inovasi dan jasa bernilai tambah tinggi melalui pengembangan ekosistem talenta, riset, perusahaan global, startup, dan investasi.
Kedua, menghadirkan kota yang nyaman untuk ditinggali melalui penguatan transportasi publik, ruang terbuka hijau, lingkungan yang sehat, keamanan, budaya, dan pelayanan publik modern.
Ketiga, memperkuat posisi Jakarta sebagai hub internasional Indonesia melalui peningkatan konektivitas global, diplomasi kota, penyelenggaraan berbagai agenda internasional, serta penguatan iklim investasi.
Pembangunan Diukur dengan Standar Global
Transformasi menuju kota global ini pun dilakukan secara terukur. Selain menggunakan indikator pembangunan daerah, Atika mengatakan, pihaknya mengadopsi berbagai standar internasional sebagai acuan untuk mengevaluasi daya saing Jakarta dibandingkan kota-kota besar dunia.
“Salah satu indikator utama yang digunakan adalah Global Cities Index (GCI) yang diterbitkan Kearney. Indeks tersebut mengukur lima dimensi utama, yakni aktivitas bisnis, sumber daya manusia, pertukaran informasi, pengalaman budaya, serta keterlibatan politik,” terangnya.
Hasilnya menunjukkan tren yang positif. Pada Global Cities Index 2025, posisi Jakarta meningkat dari peringkat 74 pada 2024 menjadi peringkat 71 dunia. Kenaikan ini menjadi sinyal penting karena berhasil membalikkan tren penurunan yang terjadi selama sekitar satu dekade sebelumnya.
Untuk memastikan proses transformasi berjalan secara transparan, Pemprov DKI Jakarta juga mengembangkan Jakarta Global City Dashboard yang berfungsi memantau perkembangan berbagai indikator kota global sekaligus menjadi sarana evaluasi berbasis data bagi pemerintah maupun masyarakat.
Mewujudkan kota global tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik. Dalam kajian Jakarta RISE #20 terdapat tujuh pilar pembangunan yang saling melengkapi. Namun, untuk jangka pendek 1-2 tahun ke depan, penguatan aspek governance, institutions & financing dinilai menjadi fondasi utama.
Penguatan tata kelola, kelembagaan, serta pembiayaan pembangunan menjadi prasyarat agar transformasi ekonomi, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan ketahanan iklim dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Kolaborasi Jadi Kunci
Di sisi lain, Atika tak memungkiri bahwa perjalanan menuju kota global juga menghadapi berbagai tantangan.
“Tantangan fundamental saat ini adalah bagaimana menemukan titik keseimbangan strategis, yaitu memastikan pemenuhan layanan dasar masyarakat tetap terpenuhi secara optimal, sekaligus terus menjaga momentum visi transformasi Jakarta menuju 20 besar Kota Global pada tahun 2045,” kata Atika.
Di tambah lagi, ambisi ini membutuhkan nilai investasi yang sangat masif. Sementara anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) cukup terbatas. Artinya, APBD tidak dapat menjadi satu-satunya sumber pendanaan untuk mewujudkan infrastruktur berstandar global.
Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta mendorong berbagai skema pembiayaan kreatif seperti kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) serta persiapan penerbitan obligasi daerah guna mendukung proyek-proyek strategis.
Selain persoalan pendanaan, tantangan lain datang dari kompleksitas persoalan perkotaan yang melibatkan kawasan aglomerasi Jabodetabekpunjur. Isu seperti kemacetan, polusi udara, banjir, hingga ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah penyangga, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
Investasi pada SDM
Dalam transformasi menuju kota global, Pemprov DKI Jakarta juga melihat investasi kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur.
Berbagai program seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), LPDP Jakarta, pelatihan vokasi, Mobile Training Unit (MTU), hingga program pemagangan terus diperkuat agar masyarakat memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Bersamaan dengan itu, Jakarta memperluas kerja sama antarkota, memperkuat jejaring internasional, serta membangun kemitraan dengan berbagai universitas, lembaga riset, dan organisasi global sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Jakarta di panggung internasional.
Target Realistis, Asal Persoalan Dasar Kota Dibenahi
Pengamat tata kota, Nirwono Yoga menilai, target Jakarta masuk 50 besar kota global pada 2030 dan Top 20 pada 2045 masih terbilang realistis. Melihat dari capaian di tahun 2015 Jakarta berada di posisi 54, ia optimis ibukota bisa mencapai posisi tersebut kembali.
“Akan tetapi, seluruh program pembangunan harus diarahkan untuk meningkatkan lima indikator yang digunakan Kearney, yakni aktivitas ekonomi, kualitas sumber daya manusia, pertukaran informasi, pengalaman budaya, dan keterlibatan politik internasional,” ujar Nirwono kepada Katadata, Selasa (4/8).
Di sisi lain, Nirwono mengingatkan bahwa Jakarta masih memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari banjir, kemacetan, hingga polusi udara. Menurutnya, persoalan-persoalan tersebut menjadi fondasi penting sebelum Jakarta dapat bersaing dengan kota-kota global lainnya.
"Jakarta memiliki potensi besar menjadi kota global. Tinggal bagaimana potensi yang sudah ada, seperti Blok M, Kota Tua, dan kawasan TOD, benar-benar dioptimalkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menarik perhatian dunia," ujar Nirwono.
Dengan fondasi ekonomi yang kuat, tata kelola yang semakin adaptif, serta pembangunan yang menempatkan kualitas hidup masyarakat sebagai prioritas, Jakarta berupaya membangun identitas baru sebagai kota global. Bukan hanya kompetitif di tingkat dunia, tetapi juga menjadi kota yang nyaman, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.