Karhutla di Kalbar Meluas, Polusi Udara Pontianak Capai Level Berbahaya
Kota Pontianak di Kalimantan Barat memimpin daftar wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada Senin (10/8) pagi. Dari pantauan situs IQAir pukul 07.12 WIB, kualitas udara Pontianak tergolong berbahaya dengan poin AQI 424.
Dalam kategori tersebut, semua orang rentan mengalami efek kesehatan parah. Karena itu, IQAir menyarankan setiap orang untuk menghindari olahraga di luar ruangan, serta merekomendasikan penggunaan masker polusi di luar ruangan dan hanya keluar rumah jika diperlukan. Warga pun diminta memperhatikan arahan dari kewenangan setempat mengenai upaya-upaya yang harus dilakukan.
“Ketika kualitas udara berbahaya, setiap orang berisiko tinggi mengalami iritasi parah dan efek kesehatan negatif yang dapat memicu penyakit pernapasan dan kardiovaskular," demikian dikutip dari laman IQAir pada Senin (10/8).
Penurunan kualitas udara Pontianak terjadi seiring meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Menurut data SiPongi Kementerian Kehutanan, sepanjang Januari-Juni 2026, luas karhutla di provinsi tersebut telah mencapai 28.680 hektare. Angka tersebut bahkan melampaui total luas karhutla Kalimantan Barat sepanjang 2025 yaitu 26.703 hektare.
Selain Pontianak, beberapa wilayah lainnya juga tercatat memiliki kualitas udara buruk pagi ini. Berikut daftarnya:
1. Pontianak, Kalimantan Barat, dengan poin AQI 424 atau dalam kategori berbahaya,
2. Bandung, Jawa Barat, dengan poin AQI 156 atau dalam kategori tidak sehat,
3. Jakarta, dengan poin AQI 155 atau dalam kategori tidak sehat,
4. Palembang, Sumatera Selatan, dengan poin AQI 153 atau dalam kategori tidak sehat,
5. Pekanbaru, Riau, dengan poin AQI 153 atau dalam kategori tidak sehat.
Sementara itu, Kabupaten Badung di Bali memiliki kualitas udara paling sehat pagi ini dengan poin AQI 55. Begitu pula Palangkaraya di Kalimantan Tengah, dengan poin AQI 56. Namun, kualitas udara keduanya masih tergolong dalam kategori sedang.
Di lingkup global, kota besar dengan kualitas udara paling sehat hanya mencatatkan poin AQI 6, tepatnya di Melbourne, Australia. Berikutnya, ada Sydney di Australia dengan poin AQI 9 dan Dublin di Irlandia dengan poin AQI 15. Kualitas udara ketiganya masuk kategori baik.
Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, sejumlah kota besar di dunia justru memiliki kualitas udara yang tergolong tidak sehat. Jakarta termasuk di dalamnya, berikut daftarnya:
1. Lahore, Pakistan, dengan poin AQI 188 atau dalam kategori tidak sehat,
2. Kampala, Uganda, dengan poin AQI 179 atau dalam kategori tidak sehat,
3. Kuching, Malaysia, dengan poin AQI 176 atau dalam kategori tidak sehat,
4. Kuwait City, Kuwait, dengan poin AQI 173 atau dalam kategori tidak sehat,
5. Doha, Qatar, dengan poin AQI 156 atau dalam kategori tidak sehat,
6. Jakarta, Indonesia, dengan poin AQI 155 atau dalam kategori tidak sehat.
Indeks AQI adalah konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.
Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori.
Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.
Sementara itu, kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.
Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.