Prabowo Tanggapi Pidato AHY yang Sempat Picu Tafsir Politik 2029
Presiden Prabowo Subianto menanggapi narasi pidato Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang sebelumnya dianggap memicu tafsir politik mengarah ke kontestasi Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2029.
Prabowo menilai pidato AHY justru sebenarnya menunjukkan sikap dan komitmen Partai Demokrat untuk bekerja bersama pemerintah demi kepentingan rakyat. Prabowo menyampaikan hal tersebut saat menyampaikan sambutan Perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena Senayan, Jakarta, pada Rabu (9/9), malam.
Ketua umum Partai Gerindra itu turut menyinggung penilaian sejumlah kalangan yang menganggap pidato AHY pada 5 September lalu sebagai bentuk kritik tajam terhadap pemerintah.
AHY saat itu menyampaikan pidato dalam peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat di Gedung Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat. Dalam kesempatan itu, dia mengingatkan kadernya bahwa kekuasaan memiliki batas waktu dan pada akhirnya harus kembali kepada rakyat.
Menurut Prabowo, kritik dan koreksi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan negara yang menjalankan demokrasi.
“Memang kemarin itu ada kalangan yang menilai pidato Pak AHY beberapa hari yang lalu, katanya adalah kritik tajam. Tapi Saudara-Saudara, memang bangsa yang besar, yang sudah memilih jalan demokrasi, harus berterima kasih atas kritik dan koreksi,” kata Prabowo, sebagaimana disiarkan oleh kanal YouTube Partai Demokrat.
Pada kesempatan tersebut, Prabowo sempat memuji pidato AHY dalam peringatan puncak HUT ke-25 Partai Demokrat malam ini. Prabowo menilai AHY menyampaikan pidato secara sistematis dan tegas.
Prabowo lalu membandingkan gaya penyampaian pidatonya dengan AHY. Prabowo mengaku lebih sering berbicara tanpa teks dan menyampaikan pemikirannya secara langsung saat berada di podium. Sementara AHY menurutnya mampu menyusun gagasan secara sistematis dalam pidato politiknya.
“Tapi yang jelas beliau (AHY) tegas menyampaikan iktikad beliau dan iktikad Partai Demokrat yaitu bersama-sama kita bekerja untuk rakyat,” ujar Prabowo.
Sebelum sambutan Prabowo, AHY juga berbicara di podium, salah satunya untuk meluruskan maksud pidato 5 September di hadapan Prabowo. Ia menjelaskan bahwa pidato politik yang disampaikan empat hari sebelumnya merupakan bagian dari refleksi perjalanan 25 tahun Partai Demokrat.
AHY mengatakan, pidato tersebut bertujuan memperkuat kembali nilai dan jati diri perjuangan Partai Demokrat. Menteri koordinator bidang infrastruktur dan pembangunan kewilayahan itu juga menyebutkan, pidatonya saat itu bertujuan untuk memastikan agar seluruh kader memahami tanggung jawab partai yang saat ini menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo.
“Pada kesempatan yang baik ini, izinkan saya mempertegas isi dari pidato politik tersebut karena saya khawatir ada yang salah tafsir. Posisi Demokrat jelas, kami ingin pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berhasil,” kata AHY.
Putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menilai keberhasilan pemerintahan Prabowo bukan hanya menjadi keberhasilan presiden, kabinet, atau partai-partai yang berada di dalam pemerintahan. Melainkan juga menjadi keberhasilan seluruh masyarakat dan Indonesia apabila pemerintah mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan lapangan pekerjaan, menjaga stabilitas, memperkuat perekonomian, dan membawa Indonesia semakin maju.
“Yang berhasil bukan hanya presiden, bukan hanya kabinet, bukan hanya partai-partai yang berada dalam pemerintahan, tetapi yang berhasil adalah kita semua, yang berhasil adalah Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, pidato AHY yang menyebutkan kekuasaan memiliki batas waktu dan pada akhirnya harus kembali kepada rakyat memicu reaksi dari Wakil Ketua Umum DPP Golkar Bidang Pemenangan Pemilu, Ahmad Doli Kurnia. Ia menilai pernyataan ketum Demokrat itu menunjukkan sinyal kesiapan AHY menjadi salah satu kontestan dalam Pemilihan Presiden 2029.
"Dilihat dari cara penyampaian, gestur, dan standing position-nya, AHY seperti memberi sinyal kuat bahwa beliau siap menjadi salah seorang contender dalam pilpres mendatang," kata Doli, melalui keterangan tertulis saat dihubungi lewat pesan singkat WhatsApp pada Selasa (8/9).
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menilai setiap partai politik memiliki strategi masing-masing dalam mengonsolidasikan kekuatan sesuai dengan perhitungan momentum politik yang dilihat oleh masing-masing parpol.
Kendati demikian, Sugiat berharap seluruh partai koalisi yang berada di eksekutif maupun legislatif tetap menjalankan tugas yang diberikan. Ia meminta para menteri dari partai koalisi perlu berfokus menuntaskan persoalan masyarakat. Sementara anggota legislatif perlu menjaga soliditas untuk mengawal kebijakan pemerintahan Prabowo.
“Sebenarnya ini biasa saja, cair-cair saja, itu domain internal dari partai politik masing-masing,” kata Sugiat saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Selasa (8/9).
“Tapi sebagai teman koalisi, sekali lagi kami sangat berharap, kita bersama-sama menyukseskan agenda utama dulu di pemerintahan Prabowo Subianto.”