Satyawan Pudyatmoko dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Ini merupakan badan khusus baru yang dibentuk Presiden untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan memperkuat tata kelola di lahan basah. Satyawan akan didampingi wakilnya, Mayjen TNI Sriyanto.
Sebelum didapuk menjadi Kepala BPGMN, Satyawan berperan mengepalai Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) di Kementerian Kehutanan sejak 2023.
Rimbawan kelahiran Boyolali, 9 Agustus 1971 itu mendapatkan gelar S1-nya di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada 1995. Pada tahun yang sama, dia diangkat sebagai staf pengajar di almamaternya.
Satyawan kemudian melanjutkan pendidikan master kehutanan tropika di George August University Goettingen, Jerman, dan menyelesaikannya pada 2001. Kala itu, tesisnya membahas tentang ekologi burung-burung raja udang di Taman Nasional Baluran. Kemudian, gelar doktor diraih Satyawan di universitas yang sama, setelah merampungkan pendidikan dan disertasi tentang ekologi banteng di Taman Nasional Baluran.
Pada 2020, Satyawan telah dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pengelolaan satwa liar Fakultas Kehutanan UGM.
Mengutip laman resmi UGM, Satyawan aktif di berbagai seminar konservasi satwa liar, baik sebagai peserta maupun pembicara. Dia bahkan bergabung dalam himpunan ilmuwan internasional, terdaftar sebagai anggota International Union of Forest Research Organizations (IUFRO) dan Wild Cattle Specialist Group International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Sebelum dipercaya mengepalai BPGMN, Satyawan memiliki rekam jejak menempati jabatan struktural di UGM, seperti Kepala Laboratorium Satwa Liar, Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Kerja Sama, Alumni, dan Kemahasiswaan, hingga Dekan Fakultas Kehutanan.
Dia juga pernah dipercaya Rektor UGM sebagai Ketua Kelompok Kerja Gambut di kampus tersebut. Satyawan pun memiliki pengalaman memimpin Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia, yang menghimpun lebih dari 300 ilmuwan dari seluruh Indonesia.