Atmosfer Sempat Diselimuti Asap, Cek Kualitas Udara Jabodetabek Pagi Ini
Atmosfer Jabodetabek sempat diselimuti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang parah di Sumatra dan Kalimantan. Namun, menurut pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebaran asap itu mulai menjauhi Jabodetabek pada Sabtu (17/10).
Hasil pemantauan BMKG pada Minggu (18/10) sore juga demikian. Asap tidak lagi terdeteksi di atmosfer Jabodetabek. Kendati demikian, beberapa wilayah di Jakarta tetap mencatatkan kualitas udara tidak sehat.
Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kualitas udara di sekitar tiga stasiun pemantauan, mencakup Lubang Buaya di Jakarta Timur, Bundaran HI di Jakarta Pusat, dan Kebon Jeruk di Jakarta Barat tergolong tidak sehat. Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) ketiganya melampaui 100, sehingga dikategorikan tidak sehat.
Dalam kondisi tersebut, KLH menyarankan agar setiap orang mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan. Sementara itu, penderita penyakit gangguan pernapan seperti asma, dianjurkan untuk selalu mengikuti petunjuk kesehatan dan selalu menyimpan obat asma.
Kualitas udara tidak sehat juga harus jadi perhatian penderita penyakit jantung. "Gejala seperti palpitasi atau jantung berdetak lebih cepat, sesak napas, atau kelelahan yang tidak biasa mungkin mengindikasikan masalah serius," demikian dikutip dari pernyataan resmi KLH, Senin (19/10).
Sementara itu, wilayah di titik pemantauan lainnya memiliki kualitas udara tergolong sedang dan baik. Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, memiliki kualitas udara paling sehat di Jabodetabek, dengan nilai ISPU hanya 18.
Merah dan Hitam Pekat di Kalimantan-Sumatra
Sementara itu, kualitas udara di Kalimantan dan Sumatra belum menunjukkan adanya perbaikan. Mengutip data KLH, sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatra masih diselimuti kualitas udara sangat tidak sehat hingga berbahaya, di tengah kepungan karhutla.
Berdasarkan hasil pemantauan pada Senin (19/10) pukul 08.00 WIB, kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi yang terburuk dengan nilai ISPU menembus 1.291. Menurut KLH, kondisi ini dapat merugikan kesehatan serius pada populasi dan membutuhkan penanganan cepat. Oleh karenanya, setiap orang dianjurkan untuk menghindari aktivitas luar ruangan.
"Kelompok sensitif tetap berada di dalam ruangan dan hanya melakukan sedikit aktivitas. Setiap orang menghindari semua aktivitas di luar ruangan," demikian keterangan KLH.
Tidak hanya di Palangka Raya, kualitas udara serupa dijumpai di wilayah lainnya. Berikut daftarnya:
- Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 1.291 dengan polutan utama PM2,5
- Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 1.290 dengan polutan utama PM10
- Kota Gunung Mas, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 709 dengan polutan utama PM10
- Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 708 dengan polutan utama PM10
- Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, nilai ISPU 653 dengan polutan utama PM10
Nilai ISPU tergolong "baik" berada dalam rentang 0-50. Artinya, tidak memberi efek negatif bagi kesehatan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan di luar ruangan. Nilai ISPU "sedang" berada pada rentang 51-100, menjadi tanda agar kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung dan paru untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, nilai ISPU untuk level "tidak sehat" berada dalam rentang 101-200. Di tingkat ini, semua orang diminta waspada dan mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan. Nilai ISPU akan mencapai level "sangat tidak sehat" pada rentang 201-300. Di taraf ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan.
Kualitas udara menjadi tergolong berbahaya ketika nilai ISPU-nya lebih dari 300. Pada level ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Sebab, tingkat kualitas udara berbahaya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius dan membutuhkan penanganan yang cepat.