Warisan Habibie, Gus Dur, William Soeryadjaya: Kemanusiaan hingga Etos Kerja

Katadata/Fauza Syahputra
Putra Presiden ketiga Indonesia B.J. Habibie, Ilham Akbar Habibie (kiri) bersama putri Presiden keempat Indonesia Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid (kedua kiri) dan putra pendiri Astra International William Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya (kedua kanan) menyampaikan paparan pada sesi diskusi apresiasi Lifetime Achievement Award di Jakarta, Senin (26/10/2026).
27/10/2026, 00.02 WIB

Katadata memberikan penghargaan Lifetime Achievement Katadata kepada tiga tokoh yakni Presiden ke-3 BJ Habibie, Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid, dan pendiri Grup Astra William Soeryadjaya.

Dalam acara pemberian penghargaan, cendekiawan Sukidi menyampaikan pesan kebangsaan dan testimoni bagi tiga tokoh tersebut. Terkait ketiga sosok itu, ia mengatakan, kunci utama pertumbuhan sebuah negara bukanlah aspek fisik melainkan kualitas manusia dan pembangunan jiwa bangsa.

"Faktor utama, penentu, sekaligus pembeda bagi kemajuan suatu bangsa terletak pada kualitas manusia,” ujar Sukidi saat membuka acara Malam Apresiasi Tiga Tokoh Bangsa Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda di Hall Sequis Center, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (26/10).

Dia mengatakan, BJ Habibie pantas disebut Bapak Demokrasi. Menurut Sukidi, Habibie menjiwai konsep filsafat Aristoteles berupa habit of mind (kebiasaan berpikir) dan habit of the heart (kebiasaan hati).

" Demokrasi tumbuh karena habit of mind, yaitu kebiasaan berpikir, dan sekaligus habit of the heart, yaitu kebiasaan hati untuk selalu berpikir: What is the best for the nation and what is the best for the people?" kata Sukidi.

Bagi Sukidi, Habibie meletakkan tonggak sejarah dengan mentransformasikan Indonesia dari negara tertutup menjadi negara demokrasi. Caranya dengan memastikan kebebasan pers, partisipasi politik yang luas, serta kebebasan sipil setelah sekian lama berada dalam situasi politik yang sulit.

Tokoh kedua adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang ditempatkan sebagai simbol kemanusiaan dan penjaga kebhinekaan. Sukidi memandang Gus Dur sebagai figur fundamental yang merawat keberagaman Indonesia sebagai anugerah Tuhan.

Bagi Gus Dur, kemanusiaan merupakan fondasi paling esensial bagi kemajuan suatu bangsa.  Gus Dur secara konsisten membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan agar mendapatkan hak kemajuan yang adil dan setara tanpa memandang latar belakang identitas.

"Kita berutang budi kepada Abdurrahman Wahid yang menjadi Bapak Pluralisme, yang memperjuangkan kelompok-kelompok masyarakat yang selama puluhan tahun mengalami diskriminasi agar memperoleh kesetaraan sebagai manusia," ujar Sukidi.

Cendekiawan Sukidi (Katadata)

Tokoh ketiga adalah William Soeryadjaya, pendiri Grup Astra, yang merepresentasikan etos kerja keras yang kuat, disiplin, dan penuh rasa syukur. Sukidi menganalogikan etos kerja William dengan pemikiran sosiolog Max Weber mengenai etos kerja Protestan dan kaum Calvinis.

"Kesuksesan di dunia ini dipandang sebagai pertanda bahwa Tuhan memberikan berkat. William Soeryadjaya yang sukses di dunia ini dapat dimaknai sebagai pertanda bahwa Tuhan memberkati karya-karya manusia," ujar Sukidi.

Menurut Sukidi, William Soeryadjaya bukan sekadar lambang kesuksesan korporasi besar, melainkan cerminan nyata dari etos kerja yang keras. Kesuksesannya dipandang sebagai manifestasi spiritual bahwa kerja keras dan pencapaian di dunia merupakan wujud rasa syukur serta bukti keberkatan atas karya-karya manusia bagi tanah air.

Selain kualitas tiga tokoh nasional sebagai representasi men of character yang dijelaskan tadi, Sukidi menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat bertumpu pada investasi sumber daya manusia (human capital).

Pembangunan manusia memerlukan perhatian serius pada pendidikan karakter dan pendidikan formal. Namun, ia menyayangkan pola pikir para pembuat kebijakan yang masih cenderung berjangka pendek.

“Politisi hanya berpikir lima tahunan. Yang kita butuhkan adalah bagaimana politisi naik kelas menjadi negarawan yang lebih berpikir tentang investasi di sumber daya manusia,” kata Sukidi.

Ia mengatakan, investasi jangka panjang tersebut harus berfokus pada perbaikan kesejahteraan dan kualitas guru, pemerataan akses pendidikan di daerah tertinggal, serta penguatan bidang sains dan teknologi.

Pembangunan kualitas jiwa kemudian harus bermuara pada tata kelola negara yang bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Penegakan hukum yang adil dan berintegritas juga mutlak diperlukan karena supremasi hukum menjadi kontributor terbesar bagi kemakmuran suatu bangsa.

Menutup pidatonya, Sukidi mengajak seluruh elemen masyarakat dan penyelenggara negara untuk bangkit dari situasi yang penuh tantangan dengan menghadirkan kesadaran moral serta solusi nyata.

“Bangsa ini bisa keluar dari situasi gelap melalui kesadaran setiap warga dan pengurus negara untuk selalu memberikan solusi terbaik bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Sukriwan Ramadhan