Regulator Cina menegur Alibaba Group Holding Ltd, JD.com Inc, hingga PDD Holdings. Hal ini terkait dugaan promosi yang menyesatkan selama festival belanja tahunan "618".

Menurut laporan media pemerintah CCTV, dikutip dari The Edge Malaysia, Kamis (12/6), Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar Cabang Beijing memanggil Alibaba, JD.com, PDD Holdings, ByteDance Ltd, dan Xiaohongshu Technology Co. Pemanggilan ini untuk menyelidiki dugaan iklan palsu selama festival belanja pertengahan tahun itu.

Setelah pemanggilan, saham sejumlah raksasa e-commerce Cina mengalami tekanan. Di Bursa Hong Kong, saham Alibaba sempat merosot hingga 6,5% pada perdagangan kemarin. Ini menjadi penurunan intraday terbesar dalam hampir tiga bulan terakhir. Lalu, saham JD.com merosot hampir 6%, mencatat pelemahan terbesar sejak November 2025.

Pemerintah Cina menilai sejumlah perusahaan e-commerce menjanjikan subsidi hingga puluhan miliar yuan tanpa memberikan informasi yang jelas mengenai realisasi insentif tersebut. Platform Tmall dan Taobao milik Alibaba serta JD.com disebut tidak mengungkapkan secara rinci besaran subsidi aktual yang diberikan oleh perusahaan maupun merek yang ikut berpartisipasi dalam program promosi.

Langkah ini menjadi episode terbaru dalam upaya Beijing menertibkan praktik persaingan harga yang dinilai semakin agresif di sektor e-commerce. Selama beberapa bulan terakhir, Beijing terus berupaya membatasi perang harga yang dinilai dapat menggerus keuntungan perusahaan sekaligus menekan kesehatan industri secara keseluruhan.

"Langkah ini menandakan pengetatan lebih lanjut dari pengawasan regulasi," kata Analis Bloomberg Intelligence Robert Lea.

Tekanan terhadap saham Alibaba sebenarnya telah muncul bahkan sebelum laporan CCTV terbit. Sebelumnya, muncul laporan bahwa pemerintah Cina tengah menyiapkan investasi sekitar 2 triliun yuan dalam lima tahun ke depan untuk pembangunan pusat data di seluruh negeri.

Para investor mempertanyakan sejauh mana Alibaba dapat memperoleh manfaat dari ekspansi infrastruktur tersebut, di tengah meningkatnya tekanan harga di pasar kecerdasan buatan atau AI. Laporan media lokal mengenai hengkangnya kepala aplikasi Dingtalk milik Alibaba juga memunculkan pertanyaan mengenai arah pengembangan salah satu unit yang dianggap penting bagi strategi AI perusahaan.

Namun demikian, peringatan regulator dinilai menjadi pemicu utama aksi jual di pasar. Investor khawatir perang diskon dan subsidi besar-besaran yang dilakukan para pemain internet dapat memaksa para pelaku ritel menanggung kerugian lebih besar. Kondisi ini berpotensi mendorong perlambatan di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Selain Alibaba dan JD.com, regulator juga menegur PDD Holdings serta platform e-commerce milik ByteDance dan Xiaohongshu atas dugaan promosi yang tidak jujur selama festival belanja tahunan 618. Aksi ini menandakan pengawasan pemerintah kini menjangkau hampir seluruh pemain utama industri e-commerce Cina.



 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti