Paylater Jadi Alternatif saat Daya Beli Lesu, OJK Soroti Perlindungan Konsumen

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/Spt.
Nasabah mengakses layanan aplikasi penunda pembayaran (paylater) di Kota Serang, Banten, Kamis (12/9/2024).
Penulis: Rahayu Subekti
Editor: Ahmad Islamy
17/6/2026, 10.06 WIB

Otoritas Jasa Keuangan atau OJK melihat layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater berpotensi semakin diminati masyarakat. Potensi ini terlebih muncul di tengah tekanan daya beli dan dinamika perekonomian yang masih berlangsung.

“Tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi mendorong peningkatan pemanfaatan layanan BNPL sebagai alternatif pembiayaan jangka pendek yang fleksibel,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, dalam lembar jawaban RDKB OJK Mei 2026, dikutip pada Rabu (17/6).

Dengan begitu, Agusman mengatakan potensi penggunaan paylater itu dapat mendukung pembiayaan digital di tengah kebutuhan masyarakat. Khususnya dari segmen pengguna yang aktif memanfaatkan layanan keuangan digital.

Kendati demikian, Agusman menegaskan, pertumbuhan layanan BNPL harus diimbangi dengan penguatan aspek perlindungan konsumen. Hal ini penting untuk memastikan masyarakat memahami risiko penggunaan paylater dan tidak terjebak dalam masalah keuangan akibat penggunaan kredit yang berlebihan.

"Terkait dengan hal tersebut, pelindungan konsumen juga perlu terus dilakukan penguatan," ujarnya.

Berdasarkan informasi pada Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK yang dikelola OJK, pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 56,92% secara tahunan pada April 2026. Angka itu meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yakni 55,85% secara tahunan.

Angka tersebut juga menunjukan pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 12,93 triliun dengan NPF gross sebesar 2,99%.

Sementara itu, saat ini porsi produk kredit BNPL perbankan tercatat sebesar 0,34%. OJK mencatat per April 2026, baki debet kredit BNPL tumbuh sebesar 37,29% secara tahunan menjadi Rp 29,3 triliun dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta. Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 24,20% secara tahunan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti