Jeff Bezos Suntik Dana Startup Asal Indonesia

NASA Robotics Competitions Sheyene Gerardi
Jeff Bezos
Editor: Yuliawati
4/10/2021, 10.11 WIB

Startup marketplace asal Indonesia Ula mengumpulkan pendanaan lebih dari US$ 30 juta atau Rp 428 miliar. Orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, merupakan salah satu investor dalam pendanaan tersebut.

Berdasarkan sumber yang mengetahui masalah tersebut, pendiri raksasa teknologi Amazon itu berinvestasi di Ula melalui perusahaan investasi besutannya, Bezos Expeditions. "Jeff Bezos setuju untuk berinvestasi di Ula," kata sumber yang juga meminta tidak disebutkan namanya itu dikutip dari TechCrunch pada Minggu (3/10).

Ketertarikan Bezos pada Ula merupakan caranya untuk memperluas portofolio di Asia Tenggara. Sebab, perusahaan investasi yang didirikan Bezos pada 2005 itu masih belum banyak mendanai startup di kawasan tersebut.

Selain Jeff Bezos, sejumlah perusahaan lainnya juga terlibat dalam putaran pendanaan Ula, seperti B Capital Group, Tencent, Prosus Ventures, Sequoia Capital India, Lightspeed Venture Partners, dan Quona Capital. Sejumlah investor juga sedang dalam tahap pembicaraan lanjutan untuk menyelesaikan putaran pendanaan baru lebih dari US$ 80 juta atau Rp 1,1 triliun.

Pada Januari 2021, Ula juga telah mendapatkan pendanaan seri A senilai US$ 20 juta atau sekitar Rp 290 miliar yang dipimpin oleh Quona Capital dan B Capital Group. Investor lain yang berpartisipasi yakni Lightspeed India dan Sequoia Capital India.

Selama ini para investor asing terus mengucurkan modal bagi beragam startup, terutama yang bervaluasi di atas US$ 1 miliar atau disebut unicorn. Tiger Global Management menjadi investor yang paling banyak berinvestasi di unicorn hingga kuartal II-2021. Setidaknya, ada 115 unicorn yang telah disuntikkan dana oleh perusahaan asal Amerika Serikat tersebut. Berikut grafik Databoks:




Ula merupakan startup yang berdiri awal 2020 itu menyediakan layanan marketplace dan modal usaha bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pelaku usaha juga bisa memperoleh barang dagangan lewat Ula, dengan opsi pengiriman dan pembayaran dipilih langsung di platform.

Ula menyasar segmen UMKM karena potensinya dinilai besar. "Peritel kecil atau UMKM sangat terintegrasi dengan ekonomi dan budaya Indonesia," kata Co-Founder sekaligus CEO Ula Nipun Mehra, pada Januari (28/1).

Ia mencatat, warung rerata berkontribusi hampir 80% di negara berkembang. Di Indonesia, nilainya diperkirakan US$ 200 miliar hingga US$ 250 miliar dengan tingkat pertumbuhan rata-rata US$ 15 miliar per tahun.

Berdasarkan penelitian Nielsen pada 2018, penjualan kebutuhan sehari-hari oleh retail keseluruhan mencapai Rp 700 triliun. Dari jumlah tersebut, 72% di antaranya berasal dari retail tradisional seperti warung dan kios.

Selain itu, UMKM memiliki wawasan dan pemahaman mendalam dan spesifik secara personal mengenai perilaku konsumen di wilayah sekitar. Nipun menyampaikan, ini sangat penting untuk bisnis.

Namun, pengadaan stok produk yang tidak efisien, terbatasnya akses ke solusi teknologi, dan biaya modal kerja yang tinggi menghambat kemampuan UMKM untuk berkembang. "Bisnis mereka yang berskala kecil menyebabkan mereka menjadi segmen paling rentan dalam rantai penjualan ritel," kata Nipun.

Per Januari 2021, tercatat Ula telah menggaet 20 ribu toko yang mayoritas berlokasi di Jawa Timur. Ula mengklaim, laba harian mitra naik 15% karena durasi toko buka menjadi lebih lama setelah bergabung.

Startup itu juga mengklaim bahwa teknologinya mengurangi kemungkinan stok barang di toko habis. Harga barang dagangan juga diklaim lebih kompetitif.

Pada tahun lalu, bisnis Ula tumbuh lebih dari 10 kali lipat. Ini karena jumlah mitra bertambah di tengah pandemi Covid-19.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan