Riset: Mayoritas Driver Ojol Berpendapatan Bersih di Bawah Rp 100 Ribu per Hari
Sebanyak 73,07% pengemudi ojek online (ojol) memperoleh pendapatan bersih di bawah Rp100 ribu per hari, menurut riset IDEAS. Mayoritas dari mereka juga memiliki utang.
Temuan itu tercantum dalam riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) bertajuk Di Bawah Bayang-Bayang Jerat Utang: Kondisi Ekonomi dan Kepemilikan Utang Pengemudi Ojek Daring di Indonesia yang diterbitkan pada September.
Survei IDEAS melibatkan 531 pengemudi ojol yang tersebar di 51 kabupaten/kota pada 13 provinsi. Penelitian dilaksanakan pada 23–27 Agustus.
Berdasarkan hasil survei, hanya 7,34% responden yang mampu memperoleh pendapatan bersih Rp 150 ribu atau lebih per hari. Rinciannya sebagai berikut:
IDEAS menghitung pendapatan bersih setelah dikurangi potongan aplikasi dan biaya operasional, seperti bensin, makan dan minum, serta kuota internet.
Dengan asumsi bekerja selama 25 hari dalam sebulan, pengemudi yang memperoleh pendapatan bersih Rp 50 ribu hingga Rp 74.999 per hari hanya membawa pulang sekitar Rp 1,25 juta hingga Rp 1,87 juta per bulan. Sementara itu, mereka yang memperoleh Rp 75 ribu hingga Rp 99.999 per hari mendapatkan sekitar Rp 1,87 juta hingga Rp 2,5 juta per bulan.
IDEAS menilai nilai pendapatan tersebut masih jauh di bawah upah minimum di sebagian besar wilayah domisili responden, termasuk kawasan Jabodetabek yang menjadi konsentrasi terbesar survei.
Dalam laporan tersebut, IDEAS menyebut keterbatasan pendapatan membuat utang tidak selalu digunakan untuk mengembangkan usaha. Sebaliknya, utang dapat menjadi mekanisme bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mayoritas Pengemudi Ojol Punya Utang
Terbatasnya pendapatan tersebut berjalan beriringan dengan tingginya kepemilikan utang di kalangan pengemudi ojol.
Survei IDEAS menemukan sebanyak 483 dari 531 responden atau 90,96% memiliki utang atau cicilan yang masih berjalan. Hanya 9,04% responden yang menyatakan tidak memiliki utang.
Dari 483 pengemudi ojol yang memiliki utang, sebanyak 56,31% menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau rumah tangga. Persentase yang sama juga tercatat untuk responden yang menggunakan utang untuk mencicil alat produksi, seperti motor, ponsel, helm, dan jaket identitas.
Selain itu, sebanyak 42,03% responden menggunakan utang untuk membiayai pendidikan anak. Sebanyak 31,88% lainnya berutang untuk membayar utang sebelumnya.
Sementara itu, hanya 10,97% responden yang menyebut modal usaha sebagai salah satu tujuan penggunaan utang.
IDEAS menilai pola tersebut menunjukkan bahwa utang bagi sebagian besar pengemudi ojol lebih dekat dengan strategi bertahan hidup daripada strategi ekspansi bisnis.
Tekanan ekonomi pengemudi ojol juga terlihat dari frekuensi mereka berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
IDEAS mencatat 85,71% responden yang memiliki utang mengaku pernah meminjam uang karena pendapatan dari pekerjaan ojol tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari kelompok tersebut, 50,45% bahkan pernah berutang sedikitnya empat kali dalam tiga bulan terakhir karena pendapatan yang tidak mencukupi.
Kondisi itu berjalan beriringan dengan tingginya keterlambatan pembayaran cicilan. Sebanyak 79,71% responden yang memiliki utang mengaku pernah terlambat membayar utang atau cicilan dalam tiga bulan terakhir.
Bahkan, 38,18% responden mengalami keterlambatan pembayaran sedikitnya empat kali dalam periode tersebut.
IDEAS menilai persoalan pengemudi ojol bukan sekadar tingginya kepemilikan utang, melainkan kerentanan struktural antara pendapatan, kebutuhan hidup, dan kewajiban pembayaran.
Dalam laporan tersebut, IDEAS mengingatkan bahwa perluasan akses kredit bagi pengemudi ojol perlu dilakukan secara hati-hati. Pemerintah perlu memastikan pendapatan bersih pengemudi memadai sebelum memperluas pembiayaan.
IDEAS juga menilai kredit tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti pendapatan. Penambahan utang kepada pengemudi ojol yang penghasilannya belum mencukupi justru berpotensi memperbesar beban finansial mereka.