Elon Musk dan Bos Telegram Sebut WhatsApp Tidak Aman

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Pengunjung mencoba fitur WhatsApp Business pada WhatsApp Business Summit 2025 di Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Penulis: Rahayu Subekti
30/1/2026, 09.58 WIB

Elon Musk pemilik X dan CEO Telegram Pavel Durov kompak mengkritik keamanan privasi WhatsApp milik Meta Platforms. Kritik ini muncul setelah munculnya gugatan class action terhadap WhatsApp oleh sekelompok orang di berbagai negara terkait keamanan percakapan pribadi.

“WhatsApp tidak aman. Bahkan signal oun diragukan. Gunakan X Chat,” tulis Elon Musk melalui akun X @elonmusk, Selasa (27/1).

Sepakat dengan orang terkaya di dunia itu, Durov juga mengkritik bahwa WhatsApp tidak menawarkan komunikasi yang aman. Hal ini merujuk pada analisis enkripsi yang digunakan oleh aplikasi percakapan Meta itu.

“Ketika kami menganalisis bagaimana WhatsApp menerapkan enkripsi, kami menemukan beberapa celah keamanan,” tulis Durov melalui resmi X miliknya @durov. Unggahan Durov ini kemudian direspons oleh Elon Musk dengan balasan “benar”.

Gugatan terhadap Meta diajukan melalui Pengadilan Distrik AS di San Fransisco pada Jumat pekan lalu. Kelompok penggugat mencurigai raksasa teknologi yang berkantor pusat di Menlo Park, California ini diam-diam mengakses pesan, menyimpan dan menganalisis sebagian isi obrolan, meskipun memiliki enkripsi end to end.

Meta pun merespons pernyataan Musk dan Durov sekaligus menanggapi soal gugatan tersebut. Head of WhatsApp at Meta Will Cathcart menepis laporan gugatan tersebut. "WhatsApp tidak dapat membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan di ponsel anda dan kami tidak memiliki akses ke sana,” kata dia dikutip dari Economic Times.

Cathcart menilai gugatan itu tanpa dasar dan hanya untuk mencari sensasi. Menurut Cathcart, gugatan ini diajukan oleh perusahaan yang sama yang pernah membela NSO setelah spyware digunakan untuk menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah.

NSO merupakan perusahan siber asal Israel. Perusahaan ini dikenal sebagai pembuat spyware Pegasus yang merupakan malware diduga untuk memata-matai jurnalis, aktivis, tokoh publik, dan pejabat dunia.

Juru Bicara WhatsApp, Andy Stone juga membantah soal gugatan tersebut. “Klaim apapun bahwa pesan WhatsApp orang-orang tidak dienkripsi adalah sepenuhnya salah dan tidak masuk akal,” kaya Stone dikutip dari Cryptopolitan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti