Setelah Facebook dan Instagram, Rusia Kini Blokir WhatsApp
Rusia memblokir WhatsApp. Kremlin lebih dulu memblokir Facebook dan Instagram, yang juga milik Meta yang berbasis di Amerika Serikat.
Dikutip dari BBC, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada BBC bahwa keputusan tersebut diambil karena induk WhatsApp, Meta tidak mau mematuhi norma dan ketentuan hukum Rusia.
Dia mengatakan Meta dapat melanjutkan operasional jika mematuhi hukum dan melakukan dialog dengan Pemerintah Rusia.
Ketika ditanya apakah pihak berwenang berusaha memaksa warga Rusia untuk menggunakan aplikasi Max yang dikembangkan negara, Peskov mengatakan bahwa aplikasi pesan nasional ini merupakan alternatif yang tersedia bagi masyarakat.
Badan pengawas internet Rusia, Roskomnadzor, mengatakan pada pekan ini bahwa mereka juga akan semakin membatasi akses ke aplikasi pesan Telegram, dengan alasan kurangnya keamanan. Telegram sangat populer di Rusia dan dikatakan banyak digunakan oleh pasukan Rusia di Ukraina.
Kantor berita milik negara, Tass, melaporkan awal tahun ini bahwa WhatsApp diperkirakan diblokir secara permanen di negara pada 2026.
"Tindakan keras seperti itu benar-benar dibenarkan, karena Rusia telah menetapkan Meta sebagai organisasi ekstremis," kata seorang pejabat Rusia Andrei Svintsov, seperti dikutip dari Taas.
Para blogger pro-perang mengeluhkan bahwa langkah itu menghambat komunikasi di lapangan.
Bahkan sebelum invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022, otoritas Rusia telah mulai berupaya menciptakan alternatif domestik untuk internet global. Langkah-langkah ini semakin dipercepat selama perang, bersamaan dengan dorongan menuju platform yang didukung negara bernama Max.
Para kritikus menduga Max dapat digunakan untuk pengawasan oleh pihak berwenang Rusia, meskipun media pemerintah membantah hal tersebut. Max kini dipromosikan secara luas di Rusia, melalui iklan TV dan papan reklame, oleh pejabat setempat dan media.
Rusia berpendapat bahwa baik WhatsApp maupun Telegram menolak untuk menyimpan data pengguna Rusia di negara ini, sebagaimana diwajibkan oleh hukum.
Pihak berwenang di Moskow juga menuduh WhatsApp merupakan salah satu layanan utama yang digunakan untuk menipu dan memeras uang dari warga Rusia.
WhatsApp, yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan langkah Pemerintah arusia bertujuan untuk mendorong lebih dari 100 juta penggunanya di Rusia ke aplikasi milik negara.
"Upaya untuk mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi pribadi dan aman merupakan langkah mundur dan hanya akan menyebabkan berkurangnya keamanan bagi masyarakat di Rusia," demikian pernyataan tertulis perusahaan.
WhatsApp sebelumnya merupakan layanan pesan paling populer di Rusia, tetapi sejak Meta dicap sebagai kelompok ekstremis pada 2022 , aplikasi-aplikasinya seperti Instagram dan Facebook telah diblokir di Rusia dan hanya dapat diakses melalui jaringan pribadi virtual (VPN). Warga Rusia tidak dilarang menggunakan produk-produknya.
Proyek hak digital Na Svyazi (In Touch) melaporkan bahwa Rusia semakin sering menghapus situs web dari direktori alamat internet yang dikelola negara, yang dikendalikan oleh Roskomnadzor.
Disebutkan bahwa 13 sumber daya populer kini hilang dari Sistem Nama Domain Nasional (NSDI), termasuk YouTube, Facebook, WhatsApp web, Instagram, BBC, dan Deutsche Welle. Setelah entri dihapus, situs tersebut tidak dapat dibuka tanpa jaringan pribadi virtual (VPN).