Viral Netizen Indonesia Turunkan Rating Tempat Wisata Korea Selatan di GMaps

X
Saling hina warganet Korea Selatan dan Indonesia
Penulis: Rahayu Subekti
18/2/2026, 15.33 WIB

Netizen Indonesia ramai-ramai berupaya menurunkan peringkat tempat wisata di Korea Selatan via aplikasi GMaps. Fenomena ini dikenal dengan review bombing atau praktik memberikan ulasan negatif secara massal untuk menjatuhkan rating suatu tempat melalui platform digital.

Akun media sosial @txtanomali membagikan gambar yang menunjukkan rating Jembatan Hangang turun menjadi 4 pada Sabtu (14/2) meski naik lagi pada Minggu (15/2) menjadi 4,5. Begitu juga peringkat Jembatan Mapo turun menjadi 2,9, lalu naik lagi menjadi 4,5.

Dalam unggahan itu, terdapat rekaman video tangkapan layar yang menampilkan sejumlah akun warganet Indonesia yang memberikan review dengan bintang satu di salah satu tempat wisata populer Korea Selatan yakni Jembatan Hangang.

Penilaian bintang satu ini dibubuhi komentar seperti 'bggak enak ke sini, nggak ada tukang cilok. Not recomended," tulis akun Roblox mania di fitur review Google.

Begitu juga dengan akun A yayaz Hidayat yang meninggalkan penilaian bintang satu dengan komentar berbunyi "lebih baik jembatan Sungai Citarum dengan aliran air coklat mempesona. Banyak yang menjual cilok, cilor, tahu bulat goreng dadakan 500an gurih-gurih enyoy".

Namun berdasarkan pantauan Katadata.co.id , rating lokasi Jembatan Hangang di Google 4,1 bintang pada Rabu (18/2). Selain itu, sudah tidak ada lagi komentar netizen Indonesia yang berusaha menurunkan rating tempat tersebut.

Sementara itu, Jembatan Mapo masih memiliki penilaian 4,5 bintang. Dalam ulasan terbaru juga sudah tidak ada lagi serangan dari netizen Indonesia yang memberikan nilai rendah tempat wisata tersebut.

Namun dalam ulasan tempat wisata Namsan Tower atau N Seoul Tower, masih ada satu netizen Indonesia yang memberikan penilaian satu bintang. Akun Azalea Fatisha meninggalkan penilaian itu dengan komentar “Nggak ada jualan cimol, nggak ada sawit".

Meski begitu, penilaian N Seoul Tower di Google masih memiliki rating yang bagus yakni 4,5 bintang.

Akun X @korbanmicin memberikan komentar di dalam unggahan @txtanonali, mengatakan bahwa komentar yang tidak relevan otomatis terhapus oleh sistem Google.

Fenomena menurunkan rating lokasi wisata di Korea Selatan itu diawali oleh perdebatan antara warganet Koresel dengan Asia Tenggara, termasuk netizen Indonesia. Perseteruan ini bermula dari dugaan pelanggaran aturan oleh warga Korea Selatan saat konser DAY6 di Axiata Arena, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari.

Mengutip media Malaysia The Rakyat Post, seorang master fansite asal Korea Selatan diduga membawa peralatan kamera profesional, termasuk lensa berukuran besar dan panjang, ke dalam area konser. Tindakan ini melanggar peraturan penyelenggara acara.

Aksi penggemar tersebut direkam oleh warga Malaysia dan videonya dengan cepat disebarkan di media sosial. Oknum fansite tersebut telah menyampaikan permintaan maaf. Namun, sebagian warganet Korea Selatan tidak menerima kritik yang muncul dan mulai membagikan unggahan serta komentar bernada hinaan terhadap warganet Asia Tenggara.

Sejumlah komentar yang beredar mengandung unsur rasisme, perasaan fisik, bahasa, hingga kondisi ekonomi masyarakat Asia Tenggara. Hinaan tersebut dilontarkan oleh warganet Korea Selatan yang menuntut penghormatan terhadap budaya idola yang mereka dukung.

Interaksi di platform X pun berkembang menjadi ajang saling ejek.

Sejumlah K-Netz menyinggung masyarakat Asia Tenggara yang menggemari K-pop karena dianggap tidak memiliki idola dari negaranya sendiri. Menangapi hal tersebut, netizen Indonesia membagikan klip penyanyi Tanah Air, seperti Lyodra, Nassar, hingga grup idola No Na.

Selain itu, ada pula warganet Korea Selatan yang menghina pengguna X asal Indonesia yang menggunakan foto profil aktor Baskara Mahendra dengan komentar bernada tegas. Netizen Indonesia yang sebelumnya berinteraksi menggunakan bahasa Inggris kemudian mulai membalas komentar warganet Korea Selatan dengan bahasa dan aksara daerah, seperti Jawa, Batak, hingga Sanskerta.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti