Liputan Khusus | Katadata IDE 2026

Wamen Stella Christie Ungkap Kemampuan Penting yang Dibutuhkan di Era AI

Katadata/Fauza Syahputra
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie saat menyampaikan pidato kunci di IDE Katadata Future Forum 2026, di Djakarta Theater, Rabu (15/4).
Penulis: Rahayu Subekti
16/4/2026, 12.14 WIB

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan kisi-kisi mengenai kemampuan atau skill penting yang dibutuhkan untuk benar-benar bertahan di tengah era kecerdasan buatan atau AI yang dikhawatirkan akan menggeser peran manusia. Stella mengatakan kemampuan manusia untuk mengevaluasi baik dan buruk yang belum bisa digantikan oleh AI.

“Tidak akan ada manusia yang akan menang kalau berlomba dengan AI dalam skill yang sama,” kata Stella dalam acara Inovation Data Economy (IDE) Katadata Future Forum 2026, di Jakarta, Rabu (15/4).

Stella menyoroti ironi dari para lulusan ilmu komputer yang mulai kesulitan mendapat pekerjaan tepat di saat tren AI meledak. Penyebabnya sederhana, Stella menyebut AI kini bisa melakukan coding sederhana dengan jauh lebih murah dan cepat daripada manusia.

Terlebih saat ini sudah banyak AI dengan model yang bisa membantu pekerjaan manusia sesuai kebutuhan sebagai berikut:

  • Kebutuhan Serbaguna: ChatGPT, Gemini, dan Claude
  • Penulisan Grammarly, Jasper, dan Wordtune
  • Desain: DALL.E, AI Magicx, Midjourney, dan Gamma
  • Video: Synthesia, Runway. Descript
  • Coding: Copilot, Cursor, dan DeepSeek
  • Produktivitas: Perplexity, Nition, Granola, Zapier, NotebookLM, Fireflies.ai, dan Otters.ai

“Ini artinya untuk banyak sekali kegiatan itu sudah ada AI tool-nya yang bisa mengerjakannya,” kata Stella.

Meskipun AI bisa menghasilkan esai, kode, desain, hingga video dalam hitungan detik, Stella mengatakan ada satu area yang tetap menjadi domain eksklusif manusia, yaitu kemampuan untuk mengevaluasi baik dan buruk.

Skill atau kemampuan untuk mengevaluasi mana tulisan yang bagus, mana tulisan yang tidak bagus. Kalau Anda tidak pernah menulis, saya jamin Anda tidak akan tahu mana tulisan yang bagus, mana tulisan yang tidak bagus,” ujarnya.

Stella juga mengatakan proses belajar adalah tentang proses, bukan sekadar hasil instan. Tanpa melatih otak untuk berproses secara mandiri tanpa bantuan AI, manusia akan kehilangan standar kualitas dan kemampuan penilaian kritis.

“Kita perlu melakukan proses untuk bisa mempunyai kemampuan mengevaluasi, kemampuan untuk mengevaluasi apakah yang dihasilkan oleh AI itu bagus atau buruk,” kata Stella.

Dalam bahan paparannya, Stella mengatakan ada keterkaitan AI dan edukasi. Dalam hal ini, Stella memberikan sejumlah kunci penting hidup di era AI, yaitu:

  • AI bukan tujuan, melainkan alat
  • Pendidikan seharusnya berbasis masalah, bukan berbasis metode.
  • Pendidikan perlu menekankan proses, bukan hasil akhir
  • Tujuan utamanya adalah menilai kualitas keluaran AI
  • Hal ini hanya dapat dilakukan jika kita memiliki landasan pengetahuan dan keterampilan yang dibangun secara mandiri, terlepas dari AI
  • AI tidak seharusnya digunakan untuk segala hal

Stella menekankan, bagi siswa seharusnya AI digunakan sesuai kebutuhan. Bagi guru, AI dapat digunakan untuk membuat pengajaran lebih efisien dan lebih meyakinkan.

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti