Netflix Dorong Kebangkitan Film Non-English, Indonesia Ikut Panen Peluang
Netflix menilai kebangkitan film dan serial non-bahasa Inggris atau non-English membuka peluang besar bagi industri kreatif di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tren ini terlihat dari meningkatnya konsumsi konten lokal di platform tersebut dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus mendorong film dan serial Indonesia menjangkau penonton global.
Dalam laporan terbaru bertajuk The Netflix Effect, Netflix menyebut konten non-English yang satu dekade lalu hanya menyumbang kurang dari 10% total konsumsi tontonan di platform-nya, kini telah meningkat menjadi lebih dari sepertiga.
Co-CEO Netflix Ted Sarandos mengatakan ekspansi global perusahaan membuat cerita lokal dari berbagai negara memiliki peluang lebih besar untuk dikenal secara internasional.
“Setiap produksi Netflix adalah produksi lokal, yang turut menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan bisnis setempat, serta menghadirkan dampak yang jauh melampaui layar,” kata Ted Sarandos dalam keterangan pers, Selasa (12/5).
Netflix mencatat film dan serialnya kini tersedia dengan sulih suara dalam 36 bahasa dan subtitle dalam 33 bahasa. Menurut perusahaan, kondisi itu membuat judul konten yang populer di satu negara bisa lebih mudah menyebar ke pasar internasional lainnya.
Indonesia menjadi salah satu negara yang dinilai mendapat dampak dari tren tersebut. Hingga Januari 2025, sebanyak 35 judul Indonesia masuk daftar Global Top 10 Non-English Netflix. Selain itu, lebih dari 90% pelanggan Netflix di Indonesia tercatat menonton konten lokal sepanjang tahun lalu.
Beberapa judul Indonesia bahkan mencatat performa global yang kuat. Film zombie Abadi Nan Jaya disebut meraih lebih dari 11 juta penayangan dalam beberapa hari setelah dirilis, menduduki posisi pertama Global Top 10 Netflix kategori non-English, serta masuk Top 10 di 75 negara.
Serial Gadis Kretek juga masuk Global Top 10 dengan 1,6 juta penayangan dalam satu pekan. Sementara film aksi The Shadow Strays berhasil masuk Top 10 di 85 negara dalam waktu sepekan setelah tayang.
Netflix menilai keberhasilan konten Indonesia tidak hanya berdampak pada industri hiburan, tetapi juga memperluas eksposur budaya lokal ke pasar internasional. Film Abadi Nan Jaya, misalnya, mengangkat unsur jamu dan tanaman kantong semar khas Indonesia dalam cerita bergenre zombie.
Sementara Gadis Kretek disebut ikut memicu perhatian terhadap budaya lokal seperti kebaya janggan hingga destinasi wisata seperti Museum Kretek dan Museum Kereta Api Ambarawa.
Sutradara Lucky Kuswandi menilai kehadiran platform streaming global memberi ruang lebih besar bagi sineas Indonesia untuk menghadirkan cerita yang lebih beragam.
“Keragaman audiens di Netflix memberikan kebebasan bagi para pembuat film untuk tidak terikat pada genre atau pola cerita tertentu, sehingga membuka ruang bagi spektrum penceritaan yang lebih luas,” kata Lucky.
Selain distribusi konten, Netflix memperluas dukungan terhadap pengembangan industri kreatif lokal. Di Indonesia dan Thailand, program Reel Life yang dijalankan perusahaan disebut telah melatih lebih dari 300 calon kreator film dan televisi.
Netflix juga menggelar pelatihan bagi lebih dari 500 profesional produksi lokal, mulai dari editor, line producer, hingga production accountant. Perusahaan turut bekerja sama dengan Asosiasi Produser Film Indonesia atau APROFI dalam pelatihan produksi dan penyusunan panduan keselamatan produksi nasional.
Secara global, Netflix mengklaim telah menginvestasikan lebih dari US$ 135 miliar untuk produksi film dan serial selama satu dekade terakhir. Perusahaan juga menyebut telah bekerja sama dengan lebih dari 2.000 rumah produksi lokal di berbagai negara.