Tencent: Indonesia Paling Cepat Adopsi AI di Asia Tenggara, Siap Jadi Hub AI
Tencent Cloud menilai Indonesia menjadi negara dengan adopsi kecerdasan buatan atau AI paling cepat di Asia Tenggara. Bahkan, perusahaan teknologi asal Cina itu menyebut Indonesia telah memiliki seluruh modal untuk berkembang menjadi pusat atau hub AI di kawasan.
Head of Tencent Cloud International Poshu Yeung mengatakan Indonesia memiliki berbagai faktor pendukung yang membuatnya berada pada posisi strategis dalam pengembangan AI. Mulai dari jumlah penduduk yang besar, ekosistem startup yang berkembang, talenta digital, hingga antusiasme perusahaan dalam mengadopsi teknologi terbaru.
"Kalau melihat Indonesia, negara ini merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Selain itu, jika melihat startup maupun unicorn lokal, Indonesia memiliki jumlah unicorn terbanyak dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara," kata Poshu dalam sesi Media Briefing AI Executive Day 2026 di Jakarta, Selasa (15/7).
Menurutnya, Indonesia juga memiliki jumlah pengembang perangkat lunak atau software developer yang sangat besar. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memimpin pengembangan AI di kawasan.
"Dengan jumlah penduduk, jumlah developer, dan jumlah unicorn yang dimiliki, saya rasa Indonesia memiliki semua elemen penting untuk menjadi sebuah hub AI," ujarnya.
Poshu menambahkan, pengalamannya bekerja sama dengan berbagai perusahaan di Indonesia menunjukkan pelaku industri dalam negeri memiliki karakter yang mendukung percepatan transformasi AI.
Ia menilai perusahaan-perusahaan Indonesia memiliki energi yang tinggi dan bergerak cepat. Selain itu juga berani langsung mengadopsi teknologi terbaru tanpa harus melalui tahapan yang panjang atau leapfrog.
"Kami bekerja sama dengan banyak perusahaan Indonesia. Mereka penuh energi, bekerja sangat keras, dan bergerak sangat cepat. Itu sangat mengesankan bagi saya. Mereka mampu langsung melompat ke teknologi terbaru dan mencoba memanfaatkannya," katanya.
Poshu menambahkan, saat ini adopsi AI diperkirakan akan meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang. Ia mencontohkan pengalaman di Tencent yang telah memanfaatkan AI secara luas di lingkungan internal perusahaan.
Saat ini, lebih dari 60% kode produksi di Tencent telah dihasilkan dengan bantuan AI. Selain itu, seluruh sekitar 100 ribu karyawan Tencent juga telah menggunakan WorkBuddy, platform AI internal perusahaan untuk mendukung pekerjaan sehari-hari.
Menurutnya, AI kini telah digunakan oleh berbagai fungsi bisnis. Hal ini mulai dari sumber daya manusia, keuangan, hukum, hingga pengadaan untuk meningkatkan produktivitas.
"Saya yakin dalam beberapa tahun ke depan AI akan diadopsi secara luas, bukan hanya di Tencent, tetapi juga di seluruh industri," ujarnya.
Adopsi AI Tinggi
Senada dengan Poshu, Vice President APAC Tencent Cloud International Jimmy Chen mengatakan Indonesia saat ini menjadi negara dengan tingkat adopsi AI yang tinggi. Menurutnya, hampir seluruh perusahaan besar yang menjadi mitra Tencent Cloud di Indonesia telah mulai memanfaatkan berbagai solusi AI, baik untuk meningkatkan efisiensi operasional maupun mengembangkan layanan baru.
"Kalau saya harus membuat peringkat, menurut saya Indonesia saat ini nomor satu di Asia Tenggara," kata Jimmy.
Meski demikian, ia mengatakan tantangan berikutnya adalah bagaimana penggunaan AI tersebut dapat berkembang dari sekadar meningkatkan produktivitas internal menjadi produk dan layanan yang benar-benar digunakan masyarakat luas.
Saat ini, banyak perusahaan Indonesia telah menggunakan AI. Khususnya untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak atau coding, pembuatan konten, hingga meningkatkan efisiensi proses bisnis.
Tencent Cloud juga melihat Indonesia sebagai pasar strategis. Ini tidak hanya untuk bisnis komputasi awan (cloud), tetapi juga untuk pengembangan teknologi agentic AI.
Menurut Jimmy, selain besarnya pasar domestik, Indonesia juga memiliki generasi muda yang antusias terhadap AI serta talenta teknologi yang dinilai mampu menciptakan berbagai use case baru.
"Di era agentic AI, yang paling penting bukan hanya teknologinya, tetapi bagaimana menciptakan use case bersama para pengguna. Karena itu kami melihat Indonesia memiliki nilai strategis yang sangat besar, bahkan menjadi salah satu prioritas utama kami," ujarnya.