Waspada! Hacker Buat Situs Belanja Online Palsu Pakai AI, Rekening Bisa Dibobol
Kaspersky Security Network (KSN) memblokir lebih dari enam juta upaya phishing yang menargetkan pengguna toko online, sistem pembayaran, dan layanan pengiriman di seluruh dunia selama ini November 2024 hingga Oktober 2025. Sebanyak 50,58% di antaranya, secara khusus menyamar sebagai platform belanja online, sehingga membuat konsumen kesulitan membedakannya dengan yang asli.
Perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat hacker kini semakin marak menggunakan AI untuk membuat kampanye phishing alias penipuan yang lebih sulit dibedakan dari layanan asli, mengotomatiskan serangan rekayasa sosial, hingga mempercepat pengembangan malware yang semakin canggih. Ancaman ini muncul di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Berdasarkan perkiraan industri yang dikutip perusahaan itu, nilai barang dagangan bruto atau gross merchandise value (GMV) e-commerce Indonesia mencapai sekitar US$57,7 miliar pada 2025, setara sekitar 37% dari total pasar e-commerce Asia Tenggara.
Di sisi lain, platform e-commerce juga semakin mengandalkan AI untuk mempersonalisasi pengalaman berbelanja, meningkatkan layanan pelanggan melalui chatbot, mengoptimalkan logistik, serta memperkuat deteksi penipuan.
Namun, menurut Kaspersky, perkembangan itu diikuti oleh meningkatnya pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber. "AI sedang membentuk kembali inovasi digital dan lanskap ancaman siber," kata Head of Consumer Channel for Asia Pacific Kaspersky Choon Hong Chee dikutip dari siaran pers, Senin (3/8).
Ia mengatakan, di saat perusahaan memanfaatkan AI untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih cerdas dan personal, pelaku kejahatan siber menggunakan teknologi yang sama untuk membuat phishing, penipuan, dan malware lebih mudah diperluas serta semakin meyakinkan.
"Hai ini membuat keamanan sejak tahap perancangan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Organisasi harus membangun keamanan langsung ke dalam aplikasi mereka sehingga mereka dapat secara proaktif melindungi pengguna dari ancaman saat ini dan serangan berbasis AI di masa mendatang," ujarnya.
Menurut Choon Hong Chee, konsumen saat ini juga mengharapkan pengalaman belanja digital yang cepat, lancar, dan aman. Karena itu, keamanan tidak lagi dapat diposisikan sebagai fitur tambahan, melainkan harus menjadi bagian dari pengembangan aplikasi sejak awal.
Dengan menyematkan perlindungan langsung di dalam aplikasi seluler, organisasi dinilai dapat melindungi pengguna dari phishing, malware, pencurian kredensial, dan berbagai ancaman siber lainnya tanpa mengganggu pengalaman pelanggan.
Kaspersky menilai meningkatnya aktivitas belanja melalui perangkat seluler membuat perlindungan tidak lagi cukup mengandalkan keamanan titik akhir (endpoint security).
Platform e-commerce juga perlu melindungi kredensial pelanggan, informasi pembayaran, dan integritas transaksi, sekaligus tetap menjaga pengalaman pengguna tetap lancar.
Untuk itu, perusahaan menawarkan Kaspersky Mobile Security SDK (KMS SDK) yang memungkinkan pengembang mengintegrasikan kemampuan keamanan siber langsung ke dalam aplikasi Android maupun iOS tanpa mengharuskan pengguna memasang aplikasi keamanan tambahan.
Menurut Kaspersky, perangkat pengembangan perangkat lunak tersebut dirancang bagi organisasi yang mengelola informasi pelanggan dan data keuangan sensitif, termasuk perbankan, perusahaan teknologi finansial, marketplace, ritel, penyedia layanan perjalanan, hingga instansi pemerintah.
Kemampuan yang ditawarkan antara lain mendeteksi perangkat yang telah di-root atau di-jailbreak, mengidentifikasi aplikasi berbahaya, memberikan perlindungan anti-malware, mendeteksi situs phishing, jaringan Wi-Fi yang tidak aman, serta sertifikat digital yang mencurigakan.
Selain itu, solusi tersebut juga dirancang untuk melindungi data sensitif seperti kredensial login dan informasi pembayaran melalui teknologi penyimpanan dan input yang aman, sekaligus mencegah aplikasi dimodifikasi tanpa izin.
Kaspersky menyebut KMS SDK juga terintegrasi dengan Kaspersky Security Network (KSN), sehingga dapat memanfaatkan intelijen ancaman secara real time yang dikumpulkan dari jutaan sistem di seluruh dunia.
Perusahaan mengatakan kombinasi data intelijen ancaman, AI, dan pembelajaran mesin memungkinkan solusi tersebut mengenali ancaman yang sudah diketahui maupun ancaman baru yang terus berkembang.
Kaspersky menilai, seiring semakin matangnya ekonomi digital Indonesia, pengamanan layanan digital berbasis AI akan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Menurut perusahaan, penerapan intelijen ancaman berbasis AI yang dipadukan dengan prinsip keamanan sejak tahap perancangan dapat membantu organisasi melindungi pelanggan, memperkuat ketahanan digital, serta mendukung pertumbuhan ekosistem e-commerce Indonesia.