Kapasitas Pusat Data Indonesia Bisa Tembus 1,7 GW Akhir 2026

Equinix
Fasilitas pusat data pertama Equinix di Jakarta, JK1 Data Center..
Penulis: Rahayu Subekti
20/8/2026, 16.39 WIB

Organisasi Penyedia Pusat Data Indonesia atau IDPRO mengira kapasitas pusat data nasional mencapai 1,7 gigawatt (GW) pada akhir 2026 atau naik signifikan dari kapasitas terpasang saat ini.

Kapasitas terpasang  satu Indonesia sudah 650 megawatt. Sebanyak 600 megawatt-nya di antaranya ada di IDPRO dan secara potensi tumbuh jadi 1,7 gigawatt pada akhir tahun ini,” kata Hendra dalam acara peluncuran riset DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risk di Jakarta, Kamis (20/8).

Proyeksi itu menunjukkan besarnya potensi ekspansi industri pusat data di Indonesia. Pasalnya, saat ini kapasitas pusat data di Singapura juga berada di kisaran 1,4 GW sehingga menempatkan negara ini menjadi indratruktur digital terbesar di Asia Tenggara.

Hendra mengatakan pertumbuhan pusat data saat ini tidak terkendala oleh minimnya permintaan. “ Permintaan  justru jauh lebih besar dibandingkan pembangunannya,” kata Hendra.

Oleh karena itu, ia mengatakan tantangan industri saat ini adalah mempercepat pelaksanaan pembangunan data center agar kapasitas yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan. Dalam menentukan lokasi, operator pusat data juga tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan listrik.

“Mereka harus memastikan keberadaan gardu induk serta konektivitas, termasuk  pendaratan kabel bawah laut ,” ujarnya.

Namun, perluasan pusat daya listrik tidak semata-mata menghadapi permasalahan kekurangan pembangkit. Hendra mengatakan saat ini masih terdapat kelebihan pasokan PLN sekitar 6,8 GW, terutama di Jawa yang memiliki infrastruktur ketenagalistrikan paling matang.

Namun, masalahnya adalah penyaluran listrik tersebut ke lokasi pusat data. “Jadi kalau kita lihat ya isu bukan di pembangkitannya tapi di transmisinya. Jadi ada beberapa anggota kami harus menunggu dua hinga tiga tahun untuk pembangunan gardu induk,” ujar Hendra.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan perluasan pusat data Indonesia ke depan dapat membutuhkan tambahan kapasitas listrik sekitar 2.000 megawatt (MW).

Besarnya kebutuhan tersebut membuat pusat data harus bersaing dengan kebutuhan listrik sektor lain. “Data center di Indonesia memiliki penambahan misalnya 2.000 megawatt. Sedangkan untuk satu  pembangkit listrik  yang saat ini tersedia 2.000 megawatt cenderung dapat memberikan kapasitas atau memberikan pasokan listrik untuk  setidaknya  satu kabupaten,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan  tulang punggung energi  yang kuat untuk menopang ekspansi pusat data investasi sekaligus hilirisasi industri.

Di sisi lain, kebutuhan energi pusat data juga semakin diarahkan pada sumber energi yang lebih rendah karbon. Dalam paparan DBS, sekitar 85% energi primer Indonesia masih berasal dari energi fosil, terdiri dari batu bara 40%, gas alam dan produk gas 16%, serta minyak dan produk minyak 29%. Sementara terbaru energikan baru sekitar 15%.

Padahal, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW, namun pemanfaatannya masih kurang dari 0,5% dari total potensi tersebut.

DBS menilai pengembangan energi ke depan tidak cukup hanya memanfaatkan pembangkit energi terbarukan. Indonesia juga membutuhkan pengembangan baterai dan penyimpanan energi, transmisi dan modernisasi jaringan listrik, elektrifikasi industri, serta  pusat data ramah lingkungan  dan infrastruktur digital.

Menurut William, data center juga akan menjadi salah satu infrastruktur utama untuk menopang perkembangan AI di Indonesia.

“Platform pusat data ini menjadi salah satu tulang punggung jika Indonesia ingin bermain atau  sukses di era AI saat ini ,” katanya.

Dorongan AI membuat kebutuhan penyimpanan data meningkat secara signifikan. William menyebut  pemrosesan data  kini telah mencapai level baru akibat dorongan AI, sementara data center menjadi  platform  penting untuk mempercepat penetrasi AI yang menghasilkan lebih banyak konten lokal dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti