Gurita Bisnis Hashim di Sektor Teknologi: Fiber, 5G, GPU, AI hingga Kripto
Bisnis teknologi Hashim Djojohadikusumo memasuki babak baru. Melalui Arsari Group dan perusahaan afiliasinya, Hashim kini tidak hanya masuk ke bisnis konektivitas dan infrastruktur telekomunikasi, tetapi mulai membangun rantai pasok infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia.
Ekspansi terbaru dilakukan melalui PT Infra Fiber Teknologi (IFT), perusahaan hasil kolaborasi Arsari Group dan PT Indosat Tbk (ISAT). Melalui platform RAIA Grid, IFT menyiapkan pembangunan infrastruktur yang mencakup jaringan fiber optik, perakitan GPU, manufaktur komponen semikonduktor hingga kabel bawah laut.
Nilai investasi yang telah diungkap untuk dua proyek terbaru mencapai sekitar Rp 3,8 triliun. Angka ini terdiri dari US$ 22 juta atau Rp 389,6 miliar untuk komponen semikonduktor dan sekitar US$ 192 juta atau Rp 3,4 triliun untuk panel pertama proyek kabel bawah laut.
Perusahaan menegaskan angka Rp 3,8 triliun itu bukan total investasi RAIA Grid, karena nilai keseluruhan proyek belum diungkap.
Dengan ekspansi tersebut, bisnis teknologi yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto itu, kini membentang dari infrastruktur jaringan hingga komputasi AI dan aset digital. Rinciannya sebagai berikut:
1. PT Arsari Sentra Data: kendaraan Arsari masuk bisnis digital
PT Arsari Sentra Data merupakan anak usaha Arsari Group yang menjadi salah satu kendaraan utama Hashim Djojohadikusumo dalam ekspansi ke infrastruktur digital.
Dikutip dari laman resmi, Arsari Sentra Data berfokus menyediakan internet terjangkau bagi rumah tangga di Indonesia. Arsari juga menyatakan kemitraannya dengan IconPlus dan Surge menjadi fondasi pengembangan infrastruktur fiber optic dan kapasitas bandwidth di Indonesia.
Arsari Sentra Data masuk ke Surge melalui pembelian 45% saham PT Investasi Sukses Bersama (ISB) pada Desember 2024. ISB merupakan pemegang saham pengendali PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge. Dengan transaksi tersebut, Arsari Sentra Data secara tidak langsung menggenggam sekitar 22,55% saham WIFI pada saat itu.
Pada Juli 2025, Arsari Sentra Data juga menandatangani nota kesepahaman dengan Surge. Arsari menyatakan minat berinvestasi di PT Jaringan Infra Andalan (JIA), anak usaha Surge yang berfokus pada infrastruktur jaringan.
2. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge: bisnis fiber dan telekomunikasi
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), atau Surge, merupakan perusahaan teknologi yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo melalui struktur kepemilikan Arsari Sentra Data.
Dikutip dari Antara, Surge telah membangun 1,5 juta homepass dan 830.000 home connect hingga kuartal III 2025. Perusahaan menargetkan ekspansi hingga 40 juta home pass dalam lima tahun.
Homepass adalah jumlah rumah atau bangunan yang sudah dilewati oleh jalur kabel jaringan internet seperti serat optik, dan berpotensi untuk disediakan layanan. Sedangkan Home Connect ialah platform digital berbasis cloud dan aplikasi seluler yang memungkinkan pengguna untuk memantau serta mengendalikan berbagai peralatan rumah tangga pintar, seperti televisi, dari jarak jauh
Dikutip dari laman resmi Arsari, Surge memiliki 7.000 kilometer backbone fiber optic di Pulau Jawa dengan kapasitas bandwidth hingga 64.000 Gbps. Surge juga disebut telah membangun dan mengoperasikan 58 Edge Data Center di berbagai kota di Jawa.
Dengan demikian, bisnis utama Surge yang relevan dengan ekspansi teknologi Hashim Djojohadikusumo meliputi:
- jaringan fiber optic;
- fixed broadband;
- FTTH;
- infrastruktur telekomunikasi;
- edge data center;
- layanan internet;
- 5G FWA.
3. PT Jaringan Infra Andalan (JIA): infrastruktur jaringan
PT Jaringan Infra Andalan (JIA) merupakan anak usaha Surge. Laporan Tahunan Surge 2025 mencatat JIA sebagai entitas anak dengan kepemilikan 99,99%.
JIA menjadi salah satu kendaraan ekspansi infrastruktur WIFI. Pada 2025, JIA mengakuisisi PT Investasi Jaringan Nusantara (IJN) senilai sekitar Rp 599 miliar. Sebelumnya, JIA juga mengakuisisi PT Garuda Prima Internetindo senilai Rp 250 miliar.
Aksi ini bertujuan memperkuat jaringan bisnis dan memperluas ekspansi grup di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital.
4. PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) atau Weave: FTTH dan solusi ICT
PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) merupakan anak usaha WIFI. Laporan tahunan Surge 2025 mencatat kepemilikan WIFI atas IJE sebesar 50,85% setelah masuknya investor strategis.
Pada 2025, perusahaan telekomunikasi Jepang NTT e-Asia mengambil 49% saham IJE. Katadata melaporkan IJE merupakan anak usaha WIFI dan NTT e-Asia masuk untuk mendukung operasional perusahaan.
IJE menjalankan bisnis yang berkaitan dengan FTTH atau Fiber To The Home adalah teknologi jaringan internet yang menggunakan kabel serat optik langsung dari pusat layanan ke rumah pelanggan, dan solusi Information, Communication and Technology (ICT). IJE menjadi kendaraan WIFI untuk pembangunan jaringan FTTH.
WIFI pada 2025 mengalokasikan sekitar Rp 5,8 triliun dana right issue untuk pembangunan jaringan FTTH melalui IJE, dengan target empat juta home pass di Pulau Jawa.
IJE juga mengoperasikan produk Starlite, layanan internet yang berbeda dengan Internet Rakyat. Katadata menyebut Starlite dijalankan IJE atau Weave melalui kerja sama dengan Transvision, sementara Internet Rakyat dijalankan Telemedia.
5. PT Telemedia Komunikasi Pratama: 5G FWA
PT Telemedia Komunikasi Pratama merupakan anak usaha WIFI yang menjadi operator pelaksana layanan Internet Rakyat.
Telemedia menjalankan layanan berbasis 5G Fixed Wireless Access (FWA) menggunakan spektrum 1,4 GHz. WIFI sebelumnya memperoleh spektrum tersebut melalui proses lelang pemerintah.
Perusahaan telah menyelesaikan uji laik operasi dan memperoleh lisensi operasional untuk layanan FWA berbasis 5G. Teknologi yang digunakan dikembangkan bersama OREX SAI dengan pendekatan Open RAN.
Dikutip dari Antara, Surge mengembangkan ekosistem 5G FWA bersama sejumlah perusahaan, termasuk Nokia, Huawei, OREX SAI, Baicells, FiberHome, Qualcomm dan ESR.
6. Internet Rakyat: broadband 100 Mbps Rp 100 Ribu
Internet Rakyat bukan perusahaan terpisah, melainkan produk layanan yang dijalankan Surge melalui Telemedia.
Layanan tersebut menggunakan teknologi 5G FWA pada frekuensi 1,4 GHz, sehingga koneksi internet dapat diberikan tanpa menarik kabel fiber sampai ke rumah pelanggan. Paket yang ditawarkan mencapai 100 Mbps dengan harga Rp 100 ribu per bulan.
Pada Mei 2026, Internet Rakyat diluncurkan di Regional 1 yang mencakup Jawa, Maluku dan Papua. Layanan ini bertujuan memperluas akses fixed broadband dan menawarkan kecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif Rp 100 aceh.
WIFI menargetkan lebih dari 5.500 site aktif dan lebih dari 5 juta pelanggan pada 2026.
7. FiberCo: platform fiber bersama Indosat dan Northstar
FiberCo merupakan perusahaan patungan yang dibentuk oleh Indosat Ooredoo Hutchison, Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo dan Northstar Group.
FiberCo dibentuk untuk mengelola jaringan serat optik dengan nilai perusahaan gabungan sekitar Rp 14,6 triliun dan panjang jaringan lebih dari 86 ribu kilometer. Indosat mengalihkan aset fiber optiknya ke entitas tersebut dan tetap memegang sekitar 45% saham.
Model bisnisnya yakni open access, sehingga jaringan dapat dimanfaatkan berbagai pelaku industri.
8. PT Infra Fiber Teknologi (IFT) / RAIA Grid: infrastruktur AI
Pada 26 Agustus, IFT meluncurkan RAIA Grid. IFT merupakan perusahaan infrastruktur digital independen hasil kolaborasi Arsari Group dan Indosat Ooredoo Hutchison.
Hashim Djojohadikusumo hadir dalam peluncuran dan menyebut RAIA Grid sebagai bagian dari komitmen jangka panjang untuk memperkuat kapabilitas digital Indonesia.
RAIA Grid menggabungkan lebih dari 86 ribu km infrastruktur fiber dengan machine learning, AI dan agentic AI.
Platform itu melayani operator telekomunikasi, data center, penyedia cloud, hyperscaler dan korporasi melalui model open access. Teknologinya digunakan untuk antara lain:
- perencanaan jaringan;
- prediksi permintaan;
- optimalisasi rute fiber;
- optimalisasi investasi;
- otomatisasi deployment;
- predictive maintenance;
- operasi jaringan yang lebih otonom.
Indosat menyebut ambisi RAIA Grid tidak berhenti pada konektivitas, tetapi juga menghubungkan data center, cloud, pelaku usaha dan infrastruktur AI serta membuka jalan menuju high-performance computing dan manufaktur supercomputer di Indonesia.
9. GPU Assembly: bisnis Hashim Djojohadikusumo mulai masuk hardware AI
Masih melalui IFT/RAIA Grid, Arsari dan Indosat menyiapkan fasilitas perakitan GPU di sekitar Jakarta.
GPU assembly ditargetkan mulai berjalan pada Desember 2026. Fasilitas ini akan dikembangkan melalui kerja sama RAIA Grid dan Indosat dengan dukungan teknis dari Nvidia.
Kapasitas awal yang ditargetkan mencapai sekitar 140–150 unit GPU H300.
10. Semikonduktor: investasi sekitar Rp 389,6 miliar
RAIA Grid juga menyiapkan investasi untuk komponen semikonduktor.
Director of Finance RAIA Grid Hendra Purnama mengatakan capex untuk komponen semikonduktor mencapai US$ 22 juta atau Rp 389,6 miliar. Pengembangan ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan manufaktur Indonesia dan mengurangi posisi Indonesia hanya sebagai pasar teknologi AI.
11. Subsea Cable: investasi panel pertama Rp3,4 triliun
RAIA Grid juga menyiapkan proyek kabel bawah laut. Investasi untuk panel pertama mencapai sekitar US$ 192 juta atau Rp 3,4 triliun. Proyek ini direncanakan memiliki tiga panel.
Kabel bawah laut akan memperkuat konektivitas Indonesia dengan jaringan internasional dan memungkinkan pertukaran data dalam volume besar.
Jika investasi semikonduktor sekitar Rp 389,6 miliar digabung dengan investasi panel pertama subsea cable sekitar Rp 3,4 triliun, nilai yang telah disebut mencapai sekitar Rp3,8 triliun.
12. PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN): aset digital
Di luar infrastruktur telekomunikasi dan AI, Arsari Group juga masuk ke industri aset digital.
Dikutip dari Antara, Arsari Group menjadi salah satu pemegang saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melalui entitas investasinya, PT Arsari Nusa Investama, pada Desember 2025.
Masuknya Arsari Group ke COIN dinilai sebagai ekspansi Hashim Djojohadikusumo ke pasar kripto.
Arsari menyebut investasi tersebut merupakan dukungan terhadap transformasi digital dan pengembangan industri aset digital nasional.
13. Central Finansial X (CFX) dan Kustodian Koin Indonesia (ICC)
Investasi Arsari di COIN memberikan eksposur ke ekosistem infrastruktur aset digital.
Dikutip dari Antara, ekosistem COIN mencakup Central Finansial X (CFX) dan Kustodian Koin Indonesia (ICC). Keduanya terkait dengan aktivitas perdagangan dan kustodian aset kripto.
Data itu menunjukkan perubahan karakter bisnis teknologi Hashim Djojohadikusumo.
Pada tahap awal, fokus Arsari berada pada konektivitas. Arsari Sentra Data dan Surge membangun jaringan fiber, broadband dan edge data center. Surge kemudian bergerak ke 5G FWA dan Internet Rakyat.
Setelah itu, Arsari masuk ke infrastruktur fiber berskala nasional melalui FiberCo bersama Indosat dan Northstar. FiberCo sendiri mengelola lebih dari 86.000 km jaringan.
Kini, melalui IFT dan RAIA Grid, ekspansinya bergerak ke AI infrastructure. RAIA Grid menggabungkan fiber, AI dan machine learning; sementara rencana GPU assembly, semikonduktor dan subsea cable membuat bisnisnya mulai menyentuh sisi hardware dan konektivitas internasional.
Dengan demikian, gurita teknologi Hashim Djojohadikusumo kini membentang dari: fiber → FTTH → broadband → 5G FWA → edge data center → subsea cable → GPU → semikonduktor → AI infrastructure → aset digital.
Dari fiber optic hingga aset digital, portofolio teknologi Hashim kini mencakup semakin banyak lapisan ekosistem digital. Ekspansi terbaru ke GPU dan semikonduktor menjadi sinyal bahwa bisnis tersebut tidak hanya mengejar pertumbuhan pengguna internet, tetapi juga peluang dari ledakan kebutuhan komputasi AI.