Luhut Sebut Era Upah Murah Berakhir, AI Ubah Peta Daya Saing Investasi Indonesia
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan perkembangan kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah peta daya saing ekonomi dan investasi global. Indonesia dinilai tidak bisa lagi mengandalkan upah buruh murah sebagai daya tarik utama investasi.
Menurut Luhut, perkembangan AI membuat faktor yang menentukan lokasi investasi ikut berubah. Jika sebelumnya biaya tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menarik industri manufaktur, kini cip, listrik, dan talenta digital semakin menentukan.
"Upah buruh murah itu sudah tidak menjadi satu alasan saja karena sekarang AI berkembang," kata Luhut saat menghadiri The 13th International Conference On ICT For Smart Society & AI Indonesia Initiative Forum 2026 yang ditayangkan secara daring di YouTube, dikutip Jumat (28/8).
Perubahan tersebut membuat Indonesia perlu menggeser strategi pembangunan dari sekadar mengandalkan jumlah tenaga kerja menuju peningkatan produktivitas. Menurut Luhut, bonus demografi tidak otomatis menjadi keunggulan apabila peningkatan jumlah tenaga kerja tidak diikuti dengan produktivitas.
Luhut mengatakan perkembangan AI menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan dalam kebijakan ekonomi. Ia bahkan meminta tim ekonomi dan AI di DEN mengkaji kembali asumsi pembangunan Indonesia karena perubahan teknologi berlangsung sangat cepat.
"Kalau kita lihat kenaikan inflasi, suku bunga di Amerika dan juga kita lihat sekarang perkembangan AI, asumsi pembangunan ekonomi kita sudah ditulis ulang," ujarnya.
AI Ubah Sumber Daya Saing Indonesia
Luhut mengatakan perubahan akibat AI menunjukkan tantangan ekonomi Indonesia tidak lagi hanya berasal dari siklus ekonomi. Perubahan teknologi juga menciptakan perubahan struktural terhadap sumber daya saing suatu negara.
Dalam paparannya, Luhut membandingkan asumsi ekonomi lama dengan kondisi ekonomi berbasis AI. Pada era sebelumnya, upah buruh murah menjadi salah satu faktor untuk menarik investasi manufaktur. Namun, perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap infrastruktur dan sumber daya teknologi semakin penting.
Rantai nilai AI, menurut Luhut, terdiri atas lima lapisan. Pertama, semikonduktor dan manufaktur. Kedua, energi dan pusat data. Ketiga, komputasi dan cloud. Keempat, model dan data. Kelima, adopsi dan difusi AI.
Luhut menilai Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai nilai tersebut. Indonesia perlu memilih bagian yang memiliki keunggulan dan nilai ekonomi paling besar.
"Kita tinggal pilih, nggak mungkin kita semua masuk kuat. Chip kita akan susah," katanya.
Menurut Luhut, salah satu bidang yang dapat dikembangkan Indonesia adalah pusat data, khususnya dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan. Ia mencontohkan potensi energi yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan data center berbasis energi hijau.
Luhut menyebut potensi pembangkit listrik tenaga air atau PLTA di Kalimantan Utara mencapai sekitar 8 gigawatt. Potensi tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan pusat data yang menggunakan energi terbarukan.
Ekonomi Indonesia Harus Tumbuh di Atas 5%
Pergeseran sumber daya saing akibat AI juga terjadi ketika Indonesia menghadapi tuntutan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%.
Luhut mengatakan Indonesia harus mampu tumbuh di atas 5% dalam dua dekade ke depan di tengah berbagai tekanan global.
"Kita harus tumbuh di atas 5% di dua dekade ke depan karena kita juga dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan," kata dia.
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2026 dan 5,2% pada 2027-2028. Bank Dunia menilai reformasi produktivitas menjadi kunci untuk mempertahankan momentum pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja.
Sementara itu, IMF dalam laporan Article IV memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026. IMF juga menilai peningkatan pertumbuhan jangka menengah membutuhkan penguatan produktivitas, investasi, teknologi, dan kualitas tenaga kerja.
Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas menjadi semakin penting bagi Indonesia di tengah perkembangan AI. Penambahan jumlah tenaga kerja saja dinilai tidak cukup untuk mempertahankan daya saing ekonomi.
Indonesia Tak Harus Kuasai Semua Teknologi AI
Luhut mengatakan Indonesia tidak harus menjadi pemain di seluruh rantai industri AI. Menurutnya, Indonesia perlu menentukan bidang yang sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimiliki.
Dalam paparannya, Luhut menyebut model dan data sebagai salah satu keunggulan komparatif Indonesia. Sementara penerapan atau adopsi AI dinilai menjadi salah satu sumber nilai ekonomi terbesar.
Strategi tersebut dinilai penting karena persaingan AI global semakin berkaitan dengan penguasaan infrastruktur komputasi dan perangkat keras.
Selain persoalan ekonomi, Luhut melihat penguasaan aset AI sebagai bagian dari kepentingan strategis negara. Perubahan kebijakan ekspor produk terkait AI membuat akses terhadap chip dan komputasi tidak lagi semata-mata menjadi persoalan perdagangan, tetapi juga berkaitan dengan posisi geopolitik.
Luhut juga mengingatkan risiko ketergantungan terhadap satu vendor atau satu blok dalam pengembangan AI. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memanfaatkan posisinya sebagai negara nonblok dengan belajar dari berbagai pusat kekuatan AI, termasuk Amerika Serikat dan Cina.
"Kita belajar ke semua, kita berteman pada semua, kita menangkap yang dari dia, kita berkreasi," ujar Luhut.