Indosat ISAT Bidik Cuan dari AI, Pendapatan Diproyeksi Bertambah Rp 2 Triliun

Katadata
President Director & CEO of Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, saat memberikan pidato pembuka pada acara Indonesia AI Day 2024, Kamis (14/11/2024).
Penulis: Rahayu Subekti
31/8/2026, 14.02 WIB

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan dari bisnis kecerdasan buatan (AI) melalui perusahaan patungan alias joint venture (JV) Zankore.

Dalam laporan BRI Danareksa Sekuritas pada 28 Agustus, analis Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan memperkirakan kontribusi pendapatan Zankore kepada Indosat dapat mencapai Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun pada 2028.

Estimasi itu menggunakan asumsi Indosat memiliki 20% - 40% saham di Zankore. Namun hingga laporan ini diterbitkan, Indosat belum mengungkapkan besaran kepemilikannya di perusahaan patungan tersebut.

Indosat disebut akan memberikan kontribusi modal secara tunai untuk mendapatkan kepemilikan minoritas yang akan dicatat sebagai investasi pada perusahaan asosiasi.

Zankore merupakan JV Indosat bersama Ooredoo, Nvidia, dan Nokia yang akan bergerak di bisnis neocloud. Perusahaan ini menargetkan pembangunan kapasitas tahap pertama sebesar 200 megawatt (MW) menggunakan GPU Nvidia GB300 pada semester I 2027.

Analis Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menyebut Permintaan terhadap kapasitas Zankore juga diperkirakan sebagian besar berasal dari luar negeri, bukan pasar domestik. Permintaan terutama berasal dari perusahaan AI global.

Pelanggan asal Cina diperkirakan menyumbang sekitar 30% - 40% dari permintaan tersebut.

Dengan kapasitas yang telah dikontrak dan utilisasi yang diarahkan mencapai 100% sejak awal, BRI Danareksa Sekuritas menilai bisnis Zankore berpotensi memberikan tambahan kontribusi terhadap kinerja Indosat.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan Zankore membukukan pendapatan US$ 1,95 miliar pada 2027. Angka ini kemudian diproyeksikan meningkat menjadi US$ 2,6 miliar pada 2028 dan bertahan pada level tersebut hingga 2031.

Pada 2027, Zankore diperkirakan membukukan laba bersih US$ 113 juta. Angka itu kemudian meningkat menjadi US$ 285 juta pada 2028.

“Dengan asumsi kepemilikan Indosat 20% - 40%, berarti kontribusi laba entitas asosiasi kepada ISAT sebesar Rp 405 miliar – Rp 810 miliar tahun depan, dan Rp 1 triliun – Rp 2 triliun pada 2028,” demikian dikutip dari laporan.

Zankore akan menggunakan GPU Nvidia GB300 NVL72 atau Blackwell Ultra. Kapasitas tahap pertama sebesar 200 MW tersebut akan ditempatkan di tiga pusat data pihak ketiga, yakni Jatiluhur milik BDx, Batang milik MGLV, serta salah satu kampus milik DCII.

Berdasarkan perhitungan BRI Danareksa Sekuritas, kapasitas 200 MW tersebut setara dengan sekitar 102.857 GPU. Dengan asumsi utilisasi 100%, Zankore diperkirakan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar US$ 2,6 miliar.

Belanja modal untuk GPU GB300 diperkirakan US$ 28 juta - US$ 33 juta per MW. Dengan kapasitas 200 MW, kebutuhan belanja modal tahap pertama diperkirakan mencapai sekitar US$ 6 miliar.

Sekitar 73% kebutuhan itu diasumsikan dibiayai melalui utang. Menurut laporan BRI Danareksa Sekuritas, fasilitas pembiayaan ini merupakan bridge loan yang didukung piutang dari kontrak GPU yang telah disepakati. Kontrak ini memiliki skema take-or-pay selama lima tahun dan menggunakan tingkat bunga yang terkait dengan USD SOFR (Secured Overnight Financing Rate) yakni yang didasarkan pada biaya pinjaman tunai semalam (overnight) yang dijamin dengan surat berharga Departemen Keuangan AS.

Sebelumnya, CEO ISAT Vikram Sinha menyampaikan kunci penggunaan AI bagi entitas perusahaan yakni cara menggunakan akal imitasi untuk menumbuhkan bisnis masing-masing perusahaan. Hal ini penting lantaran Vikram menilai dampak penggunaan AI nyata dan era pemanfaatan AI yaitu saat ini.

"Secara historis, siklus investasi terhadap AI tidak pernah terjadi seperti saat ini," kata Vikram di Universitas Gadjah Mada, Kamis (13/8). "Alasan kami sukses dalam integrasi AI adalah tujuan penggunaan AI untuk pertumbuhan perusahaan melalui peningkatan nilai konsumen."

Vikram mencatat target pasar AI mulai bergerak selama dua tahun terakhir. Menurutnya, AI baru mulai digunakan secara menguntungkan oleh 10 pengguna hyperscalers pada 2024.

Walau demikian, Vikram mengakui industri AI saat ini belum menjamah konsumen ritel secara penuh. Menurutnya, penggunaan AI baru memiliki dampak positif bagi konsumen perusahaan.

Lebih jauh ia mengatakan konsumen ritel belum menggunakan AI secara penuh dan masih dalam tahap mencoba-coba. Menurutnya, hal ini merupakan pertimbangan ISAT untuk melakukan investasi sekitar Rp 105 miliar dalam pengembangan sumber daya manusia melalui proyek NVIDIA AI Technology Center atau NVIDIATC. 

Proyek tersebut merupakan kerja sama antara ISAT, Nvidia Corporation, dan Universitas Gadjah Mada atau UGM. "Kami membawa talenta manusia dan UGM memainkan peran yang sangat penting. Sebab, kedaulatan data bergantung pada SDM yang menggunakan data. Kita tidak bisa membuka potensi SDM secara penuh tanpa adanya investasi," ujarnya.

Vikram memaparkan investasi dalam NVIDIATC tersebut terdiri dari kredit GPU senilai Rp 35 miliar dan pengembangan SDM senilai Rp 70 miliar. Secara umum, kredit GPU adalah kupon untuk mengakses GPU yang dimiliki Nvidia dari jarak jauh.

Ia pun berkomitmen dapat menambah investasi dalam NVIDIATC senilai Rp 100 miliar dalam bentuk kredit GPU. Hal tersebut dilakukan setelah Vikram melihat tiga produk awal besutan NVIDIATC, yakni aplikasi pendeteksi tuberkulosis (e-Nose), solusi mitigasi bencana berbasis AI (Tech4Disaster), dan aplikasi pertanian pintar berbasis AI (SmartAgri).

Selain itu, ia menargetkan investasi SDM tersebut dapat meningkatkan SDM yang dapat menggunakan AI hingga dua juta orang pada 2030. Nvidia mencatat total pengguna AI di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 500.000 orang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti, Andi M. Arief