Penggunaan domain internet Indonesia, .ID, terus berkembang. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia atau Pandi mencatat jumlah domain .ID yang berada dalam pengelolaannya mencapai sekitar 1,52 juta domain per 31 Juli 2026.

Pertumbuhan tersebut sekaligus memperkuat posisi .ID di pasar domestik. Berdasarkan rilis resmi Pandi, (1/9), dalam lima tahun terakhir, pangsa pasar domain .ID di Indonesia meningkat dari 36% menjadi 58%.

Jumlah pengguna domain .ID (PANDI)
 

Namun, di tengah pertumbuhan penggunaan domain .ID, ancaman penyalahgunaan domain juga menjadi tantangan. Pandi mencatat 32.359 kasus domain abuse pada periode Januari-Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, kasus yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan judi online atau judol, yakni sebanyak 24.550 kasus. Pandi juga mencatat 6.495 kasus phishing, 961 kasus malware, dan 342 kasus dalam kategori lainnya.

Pandi menyatakan penguatan keamanan menjadi salah satu fokus dalam pengelolaan ekosistem domain .ID. Sepanjang semester I 2026, pusat keamanan Pandi juga mencatat 77.517 serangan.

Meski demikian, Pandi menyebut tidak terdapat insiden berisiko tinggi yang tidak tertangani selama periode tersebut.

Untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi penyalahgunaan domain, Pandi juga mengembangkan BIMA v2.0, aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan crawling dan mendeteksi potensi penyalahgunaan domain .ID.

Kamboja Jadi yang Terbanyak Kedua Pakai Domain .ID

Pertumbuhan domain .ID tidak hanya berasal dari pengguna di Indonesia. Berdasarkan materi yang dipaparkan Pandi dalam rangkaian peringatan 20 tahun Pandi, sekitar 24% pengguna domain .ID berasal dari luar Indonesia.

Negara yang paling banyak menggunakan domain .ID yakni Amerika Serikat. Disusul Kamboja, dengan rincian sebagai berikut:

Lima negara yang paling banyak menggunakan domain .ID (PANDI)
 

Dari sisi ekosistem, jumlah registrar yang melayani pendaftaran domain .ID juga meningkat. Pada 2012 terdapat 12 registrar aktif, sedangkan saat ini Pandi telah didukung 24 registrar terakreditasi. Pandi berperan sebagai registry, sementara registrar menyediakan layanan pendaftaran domain kepada pengguna.

Pertumbuhan ekosistem tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan infrastruktur pengelolaan domain. Sejak 2020, Pandi telah mengoperasikan Sistem Registri Mandiri secara penuh.

Sistem tersebut dikembangkan untuk mendukung kemandirian, keamanan, keandalan, serta kedaulatan digital dalam pengelolaan domain Indonesia.

Infrastruktur DNS .ID saat ini diperkuat oleh 378 DNS Server Anycast. Di dalamnya terdapat 330 node F.DNS.ID yang tersebar di 136 negara dan 338 data center di seluruh dunia.

Pandi menyebut infrastruktur tersebut dirancang dengan prinsip availability, reliability, recovery, serta tanpa single point of failure.

Dari sisi kinerja layanan, DNS, WHOIS, dan RDAP mencatat realisasi Service Level Agreement (SLA) 100%, sedangkan Sistem Registri Mandiri mencapai 99,95%.

Pertumbuhan domain .ID juga berlangsung menjelang penyelenggaraan ICANN87 Annual General Meeting di Bali pada 17-22 Oktober 2026. Forum yang mempertemukan komunitas internet global tersebut diperkirakan dihadiri 2.000-2.500 peserta dari lebih dari 180 negara.

Pandi dan Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi menjadi bagian dari penyelenggaraan lokal ICANN87 di Indonesia. Salah satu agenda yang akan menjadi sorotan adalah selebrasi aksara Indonesia dengan tema The Multilingual Internet: Celebrating Scripts, Culture, and Identity.

Dalam agenda tersebut, Indonesia akan mendorong penguatan identitas digital berbasis aksara lokal. SLD Aksara Bali telah live dengan modul verifikasi aktif, sementara Label Generation Rules untuk Aksara Jawa dan Pegon telah disetujui ICANN.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti