CEO Smartix Bagikan Tips Agar Kreator Tetap Relevan di Tengah Banjir Konten AI
Perkembangan kecerdasan buatan alias AI membuat siapa pun semakin mudah memproduksi konten. Tulisan, gambar hingga berbagai materi kreatif kini dapat dibuat dalam waktu singkat dengan bantuan teknologi.
Di tengah banjir konten berbasis AI, kreator justru dituntut menghadirkan karya yang memiliki nilai pembeda. CEO dan Co-Founder Smartix Indonesia Galih Sulistyaningra mengatakan AI memang dapat membantu manusia dalam mengolah informasi dan menghasilkan berbagai materi.
Namun menurutnya, teknologi tersebut tidak serta-merta dapat menggantikan aspek manusia dalam sebuah karya. “Impresi, rasa percaya, dan kredibilitas itu sendiri dan bagaimana kita membawa itu ke masyarakat luas itu pasti akan terbangun,” kata Galih dalam diskusi IdeaFest 2026 di Jakarta, Jumat (4/9).
Menurutnya, tantangan utama kreator di era AI adalah menjaga relevansi dengan menghasilkan cerita yang autentik. Karena itu, ia membagikan tips agar kreator tetap relevan di tengah banyaknya konten AI.
Menurutnya, kreator tidak cukup hanya mengandalkan teknologi untuk mempercepat proses produksi. Mereka perlu membawa pengalaman dan perspektif yang benar-benar mereka miliki.
“Tantangannya justru bagaimana kita menjadi terus relevan di era sekarang. Terus relevan dan terus membagikan cerita yang memang kedengarannya autentik, berangkat dari pengalaman nyata, nggak dibuat-buat,” katanya.
Pengalaman Manusia Jadi Bagian Penting dalam Proses Kreatif AI
Galih menilai pengalaman manusia tetap menjadi bagian penting dalam proses kreatif. AI dapat membantu membuat sintesis atau mengolah informasi, tetapi rasa, kepercayaan dan hubungan emosional dengan audiens terbentuk melalui interaksi manusia.
Karena itu, pertama, kreator perlu mengangkat pengalaman nyata sebagai sumber utama cerita. Ketika teknologi dapat menghasilkan konten secara massal, pengalaman personal dapat menjadi pembeda karena tidak semua orang memiliki perspektif dan pengalaman yang sama.
Kedua, kreator perlu membangun koneksi dengan audiens. Kemampuan menghasilkan konten secara cepat tidak otomatis membuat sebuah karya dipercaya. Kredibilitas dan hubungan dengan audiens tetap dibangun melalui interaksi dan konsistensi.
Ketiga, kreator perlu mempertahankan sentuhan manusia dalam karya. Empati, kepedulian dan kemampuan memahami pengalaman orang lain menjadi aspek yang dinilai penting ketika teknologi semakin banyak mengambil alih pekerjaan produksi konten.
Tantangan tersebut semakin besar karena penggunaan AI telah menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Co-Founder IdeaFest Ben Subiakto mengatakan generasi 20-an kini semakin terbiasa menggunakan AI dalam bekerja maupun berinteraksi dengan teknologi.
Menurut Ben, kondisi tersebut juga memunculkan tantangan dalam hubungan antarmanusia. Ia melihat sebagian anak muda semakin terbiasa berinteraksi dengan teknologi sehingga kemampuan berinteraksi langsung dengan manusia perlu kembali diperkuat.
“Next generation orang juga agak lupa berinteraksi sama human itu seperti apa,” ujar Ben.
Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan IdeaFest mengangkat tema “Rehumanize” pada 2026. Menurut Ben, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan manusia untuk memahami kembali identitas dan perannya, termasuk menggunakan teknologi secara bijak.