DOOH Pivot Bisnis ke Ekosistem AI: dari Billboard ke Data Center hingga PLTS
PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) menyiapkan transformasi bisnis dengan membidik ekosistem infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai pemain media luar ruang seperti baliho dan billboard itu kini mengarahkan pengembangan usaha ke lima sektor, mulai dari data center hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Langkah itu menjadi bagian dari arah baru DOOH setelah PT Sinergi Internasional Investama (SII) masuk sebagai pengendali baru. Transformasi bisnis ini diungkapkan dalam Public Expose Insidentil DOOH pada 4 September, yang diselenggarakan atas permintaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam dokumen public expose itu, DOOH menggambarkan perjalanan bisnis perseroan selama lima tahun terakhir. Perusahaan awalnya merupakan agensi media luar ruang, kemudian berkembang menjadi media owner nasional, dan kini bersiap memasuki ekosistem AI.
DOOH menyebut masuknya pengendali baru memberikan akses ke ekosistem Grup SII sekaligus membuka arah baru menuju ekosistem AI.
“Pivoty point pengembangan Perseroan, akses ke eksostem Grup SII dan arah baru menuju AI ecosystem,” tulis perusahaan dalam dokumen Public Expose Insidentil DOOH, dikutip Senin (7/9).
Di bawah pengendali baru, DOOH mengusung visi membangun ekosistem AI terlengkap di Indonesia. Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan akan membangun ekosistem AI melalui lima pilar infrastruktur, yakni data center AI, high speed internet, fiber optic, submarine cable, serta green energy berupa PLTS.
Menurut DOOH, kelima sektor tersebut saling menopang. Konektivitas dan energi, khususnya, diposisikan sebagai fondasi bagi kapasitas komputasi AI nasional.
Bidik Data Center AI
Salah satu peluang yang dibidik DOOH adalah bisnis data center berbasis AI. Perusahaan melihat kebutuhan pusat data di Indonesia akan terus meningkat seiring pertumbuhan beban kerja AI dan ekspansi perusahaan teknologi global atau hyperscaler.
Dalam dokumen paparannya, DOOH memperkirakan kapasitas IT terpasang nasional dapat meningkat dari sekitar 1.440 megawatt (MW) menjadi 3.560 MW dalam lima tahun.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan kapasitas sekitar 2,5 kali, dengan pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sekitar 19,9% pada 2025-2030.
Dari sisi nilai pasar, DOOH mengutip proyeksi Mordor Intelligence 2026 yang memperkirakan pasar data center Indonesia meningkat dari US$1,83 miliar atau sekitar Rp 32,27 triliun menjadi US$3,48 miliar atau sekitar Rp61,39 triliun pada periode 2026-2031. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan memiliki CAGR sekitar 13,7%.
Peluang tersebut dinilai semakin menarik karena Indonesia mulai menjadi tujuan investasi perusahaan teknologi global. DOOH mencatat Microsoft, Amazon Web Services (AWS), dan Google Cloud telah aktif di Indonesia.
Sejumlah operator juga telah mengumumkan pembangunan kampus data center yang dirancang AI-ready dengan kapasitas sekitar 120 MW hingga 500 MW.
DOOH juga menyoroti biaya pembangunan data center di Indonesia yang berada di kisaran US$ 8 juta atau Rp 141,09 miliar hingga US$ 9 juta atau Rp 158,72 miliar per MW. Biaya tersebut dinilai lebih kompetitif dibandingkan Singapura dan Malaysia.
Di sisi lain, sekitar 57% kapasitas data center masih terkonsentrasi di Jakarta. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan pusat data di lokasi lain yang memiliki dukungan jaringan fiber dan titik pendaratan kabel laut.
Tidak hanya data center konvensional, DOOH melihat AI data center sebagai pasar dengan pertumbuhan yang lebih agresif.
Dalam paparannya, perusahaan memproyeksikan pasar AI data center Indonesia dapat tumbuh sekitar enam kali lipat menuju 2035, dengan CAGR sekitar 17%-20%. Pertumbuhan itu diperkirakan jauh di atas data center konvensional.
Pasar AI data center Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar US$553 juta atau Rp9,75 triliun menjadi US$3,339 miliar atau sekitar Rp58,8 triliun.
DOOH menilai arus investasi hyperscaler dan pemain teknologi global menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Sejumlah investasi yang disoroti dalam dokumen tersebut antara lain komitmen Microsoft sekitar US$ 1,7 miliar atau Rp 29,98 triliun untuk pengembangan cloud dan AI di Indonesia.
DOOH juga menyoroti investasi sekitar US$ 2,3 miliar atau Rp 40,56 triliun untuk pembangunan kampus AI-ready berkapasitas 144 MW di Jakarta.
Selain itu, terdapat investasi sekitar US$ 250 juta atau Rp 4,41 triliun untuk pembangunan AI Factory berbasis GPU. Fasilitas ini disebut telah beroperasi dan mendukung kebutuhan komputasi AI generatif, termasuk migrasi dari GPU H100 ke Blackwell untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan inference AI.
Ekspansi ke Fiber Optik dan Kabel Laut
Transformasi DOOH juga mencakup sektor konektivitas. Perusahaan melihat penetrasi internet cepat rumah tangga di Indonesia masih sekitar 21%, sehingga ruang pertumbuhan fixed broadband dinilai masih besar.
Dalam paparannya, DOOH memperkirakan terdapat sekitar 40 juta rumah tangga yang berpotensi menjadi pelanggan fixed broadband pada 2030.
Teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) disebut memiliki CAGR sekitar 57% pada 2025-2030. Sementara itu, pertumbuhan fiber-to-the-home (FTTH) diperkirakan sekitar 10% per tahun.
Fiber optik dan kabel laut juga menjadi bagian dari strategi tersebut. DOOH menyebut Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sekitar 17.000 pulau.
Pertumbuhan trafik AI dan cloud regional dinilai berpotensi mendorong kebutuhan terhadap rute kabel bawah laut baru serta peningkatan kapasitas jaringan.
Dengan demikian, strategi DOOH tidak hanya mencakup penyediaan kapasitas komputasi, tetapi juga jalur konektivitas yang menghubungkan berbagai infrastruktur digital tersebut.
Masuk ke Bisnis PLTS
Energi menjadi pilar lain dalam strategi baru DOOH. Perusahaan melihat pertumbuhan data center AI akan meningkatkan kebutuhan terhadap pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Dalam paparan tersebut, DOOH menyoroti program nasional PLTS 100 GW yang disebut membuka ruang pembangunan energi surya dalam skala besar.
Sementara itu, kapasitas PLTS terpasang nasional saat ini disebut baru sekitar 1,5 GW.
DOOH menilai PLTS yang dipadukan dengan penyimpanan energi atau storage dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi data center AI.
Perusahaan juga mengaitkan penggunaan energi terbarukan dengan tuntutan ESG dari perusahaan teknologi global.
Bahkan, DOOH memperkirakan program PLTS 100 GW tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$73 miliar atau Rp1.287,4 triliun.
DOOH Disiapkan Jadi Holding
Untuk menjalankan strategi baru tersebut, DOOH akan diarahkan menjadi holding company yang menaungi bisnis-bisnis sesuai dengan lima pilar ekosistem AI.
“DOOH akan menjadi holding company yang membangun ekosistem AI melalui pengembangan organik, non-organik, dan aksi korporasi pendukung,” tulis perusahaan.
Pengembangan bisnis akan dilakukan melalui tiga jalur. Pertama, secara organik melalui pengembangan usaha dan aset yang telah dimiliki perseroan serta sinergi komersial dengan ekosistem Grup SII.
Kedua, melalui ekspansi non-organik berupa penyertaan dan/atau akuisisi perusahaan yang sejalan dengan lima pilar visi dan misi baru. Ketiga, DOOH menyatakan menyiapkan sejumlah aksi korporasi untuk mendukung ekspansi tersebut.
Namun, materi Public Expose belum memerinci bentuk aksi korporasi yang dimaksud. DOOH menyatakan detailnya akan disampaikan melalui keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI.