Komdigi soal Data Center di Jatiluhur Disetop: Lokasi Perlu Dikaji Lintas-sektor
Proyek data center berbasis akal imitasi (AI) milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, disetop sementara oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM). Menanggapi hal ini, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengatakan instansinya perlu ikut menentukan titik pembangunan data center.
Penghentian proyek senilai Rp 3,5 triliun itu dilakukan karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum terbit. Selain persoalan perizinan, konsumsi air untuk operasional pusat data ini menjadi sorotan.
Data teknis mencatat kebutuhan air data center BDx diproyeksikan mencapai 384 liter per detik atau setara 33.000 meter kubik per hari ketika beroperasi pada kapasitas penuh.
Meutya Hafid meminta pembangunan pusat data center di Indonesia tidak mengganggu kebutuhan energi dan air masyarakat. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah perlu mencari keseimbangan antara kebutuhan kapasitas komputasi yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan ketersediaan sumber daya di lokasi pembangunan data center.
“Kalau data center begini, tentu harus dicari balancing-nya. Jadi kita tentu punya kebutuhan kemampuan komputasi yang tentu memerlukan data center. Tapi di saat yang bersamaan, tentu kita harus melihat kecukupan energi,” kata Meutya kepada media di kantornya, Rabu (7/10).
Menurut dia, kebutuhan energi untuk data center tidak boleh mengganggu pasokan untuk kepentingan lain, terutama layanan publik. Hal yang sama berlaku terhadap kebutuhan air. “Tidak boleh kecukupan energi terganggu untuk hal-hal lain, terutama layanan publik. Tidak boleh juga kebutuhan air terganggu,” ujarnya.
Meutya mengatakan penentuan lokasi data center ke depan perlu dilakukan melalui pembahasan lintas-sektor sebelum izin pembangunan diterbitkan. Pemerintah tidak ingin pembangunan data center hanya mempertimbangkan kebutuhan industri tanpa memperhitungkan daya dukung wilayah.
Komdigi, kata dia, perlu ikut menentukan titik pembangunan berdasarkan kebutuhan komputasi, jumlah pengguna internet, kualitas konektivitas, serta kelayakan lokasi.
“Dari Komdigi misalnya, kebutuhan kita untuk komputasi sekarang berapa, pengguna internet berapa, di mana titik-titik yang konektivitasnya baik dan di situ layak dibangun data center,” katanya.
Selain konektivitas, ketersediaan air dan energi harus menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi. “Ada ketersediaan air atau tidak di situ. Dan ada sinyalnya tidak di situ,” ujar Meutya.
Meutya mengakui kebutuhan pembangunan data center di Indonesia meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan perkembangan geopolitik yang mendorong masuknya investasi pusat data ke berbagai negara. Namun, menurut dia, Indonesia tidak boleh membangun data center tanpa mempertimbangkan kapasitas sumber daya yang tersedia.
“Karena geopolitik kemudian bergondong-gondong, tapi buffer itu penjagaan supaya kita ini tidak boleh dibanjiri. Dan kita harus betul-betul pilih-pilih lokasi,” kata Meutya.
Ia menegaskan kebutuhan masyarakat tidak boleh dikorbankan demi memenuhi kebutuhan komputasi. “Yang penting masyarakat kebutuhannya tidak perlu diganggu, tapi di sisi lain juga kebutuhan komputasinya,” ujarnya.
Sebagai informasi, pembangunan kampus AI BDx atau AI Campus 2 (CGK4) di Jatiluhur, Jawa Barat, dihentikan sementara oleh pemerintah daerah. Proyek yang memiliki rencana kapasitas hingga 640 megawatt (MW) itu berada sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur.
Peletakan batu pertama proyek tersebut sebelumnya dilakukan pada 22 September . Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan pembangunan dihentikan sementara karena sejumlah persyaratan pembangunan, termasuk amdal dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), masih dalam proses.
Proyek tersebut juga mendapat perhatian terkait kebutuhan air. Berdasarkan perkiraan Institute for Essential Services Reform (IESR), fasilitas tersebut berpotensi membutuhkan air sekitar 384 liter per detik, atau sekitar 33 ribu meter kubik per hari dan lebih dari 12 juta meter kubik per tahun.
Kebutuhan air tersebut direncanakan bersumber dari Waduk Jatiluhur, yang juga memiliki peran penting dalam mendukung sistem irigasi persawahan di sentra produksi padi Jawa Barat.