Video AI Makin Realistis, CEO TikTok Sebut Penonton Pilih Konten Buatan Manusia

Katadata/Desy Setyowati
CEO TikTok Shou Chew
Penulis: Desy Setyowati
12/10/2026, 15.37 WIB

CEO TikTok Shou Chew mengatakan pengguna masih cenderung menyukai konten autentik dibandingkan video yang sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Hal ini terlihat dari perbedaan antara proporsi video AI yang dibuat pengguna dan jumlah penayangan konten tersebut di platform.

Shou Chew mengatakan, TikTok telah memungkinkan penggunanya membuat berbagai video AI yang terlihat realistis menggunakan model AI milik perusahaan. Namun, tingginya aktivitas pembuatan konten berbasis AI belum diikuti tingkat konsumsi yang sebanding.

“Masih ada ketidakseimbangan antara persentase video yang dibuat menggunakan AI dan jumlah penayangan serta persentase penayangan yang diterima video tersebut,” kata Shou dalam acara DBS Asia Future Forward 2926 di Singapura, Senin (12/10).

Menurut dia, proporsi penayangan video AI di TikTok masih berada pada level satu digit rendah atau low single-digit percentage.

Shou Chew menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengguna masih memiliki keinginan kuat untuk melihat konten yang autentik. Ketika video terlihat jelas bukan kejadian nyata dan dibuat menggunakan AI, sebagian penonton masih menunjukkan penolakan terhadap konten tersebut.

“Orang-orang masih sangat menghargai autentisitas. Ketika mereka melihat video dan sangat jelas bahwa video itu tidak nyata, bahwa video itu dihasilkan secara artifisial, saya pikir masih ada sedikit penolakan dalam hal konsumsi,” ujarnya.

Shou Chew menjelaskan, TikTok mengembangkan model AI sendiri, termasuk model pembuat video bernama Seedance. Perusahaan juga memiliki model bahasa besar atau large language model (LLM).

Menurut dia, model-model tersebut digunakan untuk mendukung aplikasi konsumen internal, seperti TikTok dan Douyin, serta ditawarkan melalui layanan berbasis API untuk pelanggan bisnis.

Shou Chew mengatakan, pengguna telah memanfaatkan model AI milik perusahaan untuk membuat video yang realistis. Ia bahkan menyampaikan, pengguna telah membuat dan memublikasikan beberapa video menggunakan teknologi tersebut.

Meski demikian, ia menilai kemampuan teknologi untuk menghasilkan video yang semakin realistis tidak serta-merta membuat penonton menerima seluruh konten yang dihasilkan AI.

Menurut Shou, pengalaman menonton di TikTok juga dipengaruhi oleh algoritma rekomendasi yang membantu menampilkan konten berdasarkan preferensi pengguna. Oleh karena itu, perbedaan antara jumlah video AI yang diproduksi dan jumlah penayangannya menjadi salah satu indikator untuk memahami penerimaan audiens.

Shou Chew menilai kreativitas manusia akan tetap berperan penting meskipun teknologi AI semakin berkembang. Ia melihat penggunaan AI dalam pembuatan konten sebagai sarana untuk memperluas kemungkinan kreatif, bukan sepenuhnya menggantikan peran manusia.

Ia menggambarkan masa depan produksi video AI seperti penggunaan Photoshop dalam fotografi untuk majalah. Foto dapat diproses dan diperbaiki dengan teknologi, tetapi tetap memiliki unsur kreativitas manusia.

Menurut Shou Chew, produksi video kemungkinan akan berkembang ke arah serupa. Kreativitas manusia tetap menjadi penggerak utama, sementara AI bisa meningkatkan hasil akhirnya.

“Saya pikir orang-orang masih ingin melihat hal-hal yang sangat nyata dan autentik. Jadi, saya setuju bahwa kreativitas manusia akan terus menjadi penting,” kata Shou Chew.

Ia juga menjelaskan bahwa AI telah menyentuh berbagai aspek produk TikTok, mulai dari pembuatan video, sistem rekomendasi, hingga moderasi konten. Perusahaan turut mengembangkan kemampuan pencarian berbasis percakapan agar pengguna dapat berdiskusi lebih lanjut mengenai konten yang mereka temukan.

Meski demikian, paparan Shou Chew menunjukkan bahwa kemajuan teknologi generatif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan konten yang semakin realistis. Penerimaan pengguna dan nilai autentisitas juga menjadi faktor penting dalam menentukan bagaimana konten itu dikonsumsi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.