Soal Blackout Batam, Benarkah Data Center Bisa Bikin Listrik Satu Kota Padam?

UPT TI PPDIKTI
Ilustrasi data center
Penulis: Desy Setyowati
16/10/2026, 14.14 WIB

Pemadaman listrik besar-besaran alias blackout di Batam pada Senin (12/10) dikaitkan oleh beberapa netizen dengan data center. Ada yang menyebut, pengujian beban (stress test) pusat data dapat menyebabkan pemadaman listrik satu kota.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyampaikan, blackout Batam diduga terjadi akibat sejumlah persoalan teknis, termasuk gangguan jaringan akibat petir hingga hewan seperti kelelawar yang terkena jaringan listrik.

Akan tetapi, warganet menyoroti potensi blackout Batam karena stress test data center. Menanggapi isu ini, Ketua Umum Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma menjelaskan bahwa pengujian beban berskala besar pada pusat data memang berpotensi mengganggu sistem kelistrikan apabila tidak direncanakan, dikoordinasikan, dan dikendalikan dengan baik.

“Namun, bukan berarti setiap pengujian beban data center dapat menyebabkan pemadaman listrik satu kota,” kata Hendra kepada Katadata.co.id, Kamis (15/10).

Hendra menjelaskan, pengujian menggunakan load bank merupakan bagian normal dari proses commissioning atau pengujian sebelum data center beroperasi. Pengujian ini diperlukan untuk memastikan sistem kelistrikan, uninterruptible power supply (UPS), generator cadangan, dan sistem pendinginan dapat bekerja secara andal dalam berbagai kondisi operasional.

“Yang perlu dipahami, bahwa besarnya kapasitas data center tidak otomatis menentukan besarnya gangguan terhadap jaringan listrik,” Hendra menambahkan.

Faktor yang lebih relevan meliputi seberapa besar dan seberapa cepat perubahan beban terjadi, karakteristik sistem kelistrikan, ketersediaan cadangan daya, serta kemampuan sistem proteksi dan pengendalian jaringan dalam merespons perubahan tersebut.

Pada sistem kelistrikan dengan kapasitas dan interkoneksi yang relatif terbatas, perubahan beban besar perlu mendapat perhatian khusus. Dalam kondisi tertentu, gangguan dapat berkembang menjadi pemadaman yang lebih luas apabila terjadi ketidakseimbangan daya, gangguan tegangan atau frekuensi, dan mekanisme proteksi sistem tidak mampu membatasi dampaknya.

Dengan demikian, risiko yang perlu diperhatikan bukan hanya konsumsi listrik data center dalam kondisi normal, tetapi juga bagaimana fasilitas tersebut berperilaku ketika beban berubah atau jaringan mengalami gangguan.

Riset PNNL: Osilasi Beban 50 MW Bisa Memicu Blackout Satu Kota

Pacific Northwest National Laboratory (PNNL), laboratorium nasional di bawah Departemen Energi Amerika Serikat, menerbitkan laporan berjudul A Methodology to Evaluate the Grid Reliability Impact of Oscillations Induced by Large Loads pada 22 September 2026.

Riset itu menyoroti potensi osilasi beban yang ditimbulkan oleh pola kerja komputasi pusat data kecerdasan buatan (AI). Beban komputasi yang berubah secara siklis dapat menghasilkan ayunan daya aktif pada frekuensi tertentu selama periode yang panjang.

Menurut PNNL, karakteristik tersebut dapat menghadirkan tantangan baru bagi perencanaan jaringan listrik, terutama karena pola perubahan beban data center AI berbeda dari gangguan acak yang biasa muncul pada sejumlah beban industri konvensional.

Peneliti mengembangkan perangkat penilaian bernama Risk Assessment Tool for Large Load-induced Events (RATLLE). Perangkat ini digunakan untuk menyaring lokasi interkoneksi yang rentan, menyimulasikan perilaku beban data center, dan menilai tingkat risiko terhadap keandalan sistem kelistrikan.

Riset itu menggunakan dua model sistem kelistrikan Western Electricity Coordinating Council (WECC), yakni model representasi 240 bus dan model perencanaan musim dingin dengan beban tinggi untuk 2031.

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa osilasi paksa sebesar 50 MW pada frekuensi resonansi tertentu dapat menghasilkan ayunan daya yang meluas, pelanggaran batas keamanan sistem untuk skenario kontingensi N-1, serta pemutusan generator secara berantai melalui mekanisme proteksi.

Kontingensi N-1 mengacu pada kondisi ketika sistem harus tetap memenuhi kriteria keandalan setelah kehilangan satu komponen, misalnya satu saluran transmisi atau satu elemen jaringan.

Namun, temuan PNNL tersebut merupakan hasil pemodelan dan simulasi, bukan laporan kejadian nyata ketika stress test data center menyebabkan listrik satu kota padam. Laporan ini menjelaskan potensi risiko yang perlu diperhitungkan dalam kajian interkoneksi dan perencanaan sistem kelistrikan.

PNNL juga menekankan perlunya metodologi standar untuk menyaring, menyimulasikan, dan mengukur risiko osilasi yang berasal dari beban besar sebelum fasilitas terhubung ke jaringan.

Insiden di AS: Sekitar 1.500 MW Beban Data Center Hilang dari Jaringan

Risiko perubahan beban data center juga tecermin dalam insiden jaringan listrik Amerika Serikat pada 10 Juli 2024.

Dalam laporan Incident Review: Considering Simultaneous Voltage-Sensitive Load Reductions yang diterbitkan pada 8 Januari 2025, North American Electric Reliability Corporation (NERC) mendokumentasikan gangguan pada saluran transmisi 230 kilovolt (kV) di Eastern Interconnection.

Insiden bermula ketika lightning arrestor pada saluran transmisi mengalami kegagalan. Gangguan ini membuat saluran mengalami serangkaian upaya penyambungan kembali otomatis atau auto-reclosing. Dalam rentang 82 detik, terjadi enam gangguan sistem berturut-turut.

Sistem proteksi jaringan mendeteksi dan mengatasi gangguan tersebut. Namun, perubahan tegangan yang terjadi memicu respons dari sejumlah fasilitas data center di kawasan yang terdampak.

NERC mencatat penurunan beban sekitar 1.500 MW secara bersamaan. Beban yang hilang tersebut diidentifikasi berasal dari fasilitas berjenis data center, dengan pemutusan terjadi melalui sistem proteksi dan pengendalian di sisi pelanggan, bukan karena peralatan utilitas secara langsung memutus beban tersebut.

Data center yang terdampak memindahkan pasokan listrik ke sistem cadangan sebagai respons terhadap gangguan tegangan. Sistem UPS dan perangkat pendinginan data center juga sensitif terhadap perubahan tegangan, sehingga karakteristik proteksi dan pengendalian fasilitas memengaruhi respons terhadap gangguan jaringan.

Dampaknya, frekuensi sistem meningkat hingga 60,047 Hz sebelum kembali ke 60 Hz dalam sekitar empat menit. Tegangan juga meningkat hingga 1,07 per unit. Operator kemudian mengambil tindakan dengan melepas bank kapasitor di kawasan tersebut untuk mengembalikan tegangan ke tingkat normal.

NERC menjelaskan bahwa sekitar 1.260 MW dari penurunan beban tersebut terjadi ketika gangguan tegangan ketiga berlangsung dan tidak kembali ke jaringan selama beberapa jam.

Laporan itu menyimpulkan bahwa interaksi antara rangkaian penyambungan kembali otomatis pada saluran transmisi dan sistem proteksi atau pengendalian data center menjadi faktor utama penurunan beban yang berlangsung lama.

Meski kehilangan beban dalam jumlah besar tersebut menimbulkan tantangan operasional, NERC menyatakan insiden itu tidak menyebabkan masalah operasional signifikan pada jaringan di lokasi dan waktu kejadian. Oleh karena itu, peristiwa tersebut tidak tepat disebut sebagai blackout satu kota.

Insiden ini menunjukkan bahwa gangguan jaringan dapat memicu pelepasan beban data center secara serentak. Jika pola serupa terjadi pada sistem yang lebih rentan atau dalam kondisi berbeda, kehilangan beban besar dapat menimbulkan persoalan keseimbangan daya dan tegangan.

NERC merekomendasikan agar operator dan perencana jaringan melakukan kajian terhadap potensi kehilangan beban besar, mempertimbangkan karakteristik respons fasilitas, serta mengatur laju penambahan dan pemulihan beban ketika fasilitas kembali tersambung ke jaringan.

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembangunan Data Center

Hendra menyampaikan sejumlah hal yang perlu dipastikan dalam pengembangan data center berskala besar agar keandalan operasional fasilitas tetap terjaga tanpa menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima bagi jaringan listrik dan masyarakat.

Pertama, setiap pengujian beban yang berpotensi berdampak pada jaringan harus dikoordinasikan dengan penyedia listrik. Koordinasi ini mencakup pengaturan tahapan pengujian, besaran perubahan beban, serta kesiapan sistem.

Kedua, perlu dilakukan kajian teknis terhadap dampak penambahan beban besar. Kajian tersebut mencakup studi aliran daya, stabilitas tegangan dan frekuensi, koordinasi proteksi, serta skenario gangguan yang mungkin terjadi.

Ketiga, kapasitas pembangkit, jaringan transmisi dan distribusi, serta cadangan sistem perlu berkembang seiring dengan peningkatan kebutuhan energi data center.

Keempat, diperlukan mekanisme koordinasi operasional yang kuat antara pengembang data center dan operator sistem kelistrikan, terutama untuk kegiatan commissioning dan pengujian yang berpotensi berdampak signifikan terhadap jaringan.

Menurut Hendra, data center harus dibangun dan dioperasikan dengan standar keandalan yang tinggi. Standar tersebut tidak hanya ditujukan untuk melindungi operasional data center, tetapi juga memastikan fasilitas tersebut tidak menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima bagi sistem kelistrikan dan masyarakat.

Ia menilai insiden pemadaman di Batam menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan infrastruktur energi seiring dengan pertumbuhan investasi digital.

Indonesia membutuhkan data center yang andal sekaligus jaringan listrik yang cukup kuat untuk menopang pertumbuhan industri tersebut tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

Oleh karena itu, IDPRO mendukung evaluasi teknis yang objektif dan transparan oleh pihak berwenang serta penguatan koordinasi antara PLN Batam, pemerintah, dan industri pusat data untuk meminimalkan risiko gangguan serupa pada masa mendatang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.