Elon Musk mengusulkan pemerintah memberikan uang, seperti bantuan sosial (bansos), kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat perkembangan akal imitasi (AI). Usulan ini muncul seiring prediksinya bahwa AI dan robot dapat mengambil alih semakin banyak pekerjaan manusia pada masa depan.

Dalam wawancara dengan The Economist di Gigafactory Tesla, Texas, pada 23 Juli, Elon Musk membayangkan masa depan ketika manusia tidak lagi harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut dia, AI akan mampu menangani pekerjaan intelektual, sedangkan robot humanoid mengerjakan berbagai tugas fisik. Kombinasi teknologi ini diperkirakan dapat meningkatkan produksi barang dan jasa secara signifikan.

Elon Musk bahkan memprediksi kecerdasan AI dapat melampaui kecerdasan gabungan seluruh manusia dalam waktu sekitar lima tahun.

Ia memperkirakan perkembangan AI dan robot dapat menciptakan kelimpahan barang dan jasa, sehingga pekerjaan menjadi pilihan, bukan lagi kebutuhan untuk memperoleh penghasilan.

Namun, Pemimpin Redaksi The Economist Zanny Minton Beddoes mempertanyakan bagaimana masyarakat dapat bertahan hidup jika pekerjaan mereka digantikan oleh teknologi.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Musk mengusulkan pemerintah memberikan uang kepada masyarakat. "Menurut saya, departemen keuangan sebaiknya langsung saja menerbitkan cek untuk masyarakat," kata Elon Musk dikutip dari TechTimes.

Orang terkaya di dunia itu menyebut gagasan tersebut sebagai universal high income atau pendapatan universal tinggi. Melalui skema ini, masyarakat tetap memperoleh uang meskipun tidak lagi bekerja dalam pekerjaan konvensional.

Elon Musk mendasarkan usulan pemberian uang tersebut pada peningkatan produktivitas yang dihasilkan AI dan robot. Menurut dia, jika teknologi mampu meningkatkan produksi barang dan jasa secara drastis, pemerintah dapat menciptakan lebih banyak uang tanpa harus memicu inflasi.

Bos Tesla itu bahkan memperkirakan deflasi dapat menjadi persoalan ekonomi yang lebih besar apabila pertumbuhan produksi barang dan jasa berlangsung lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah uang beredar.

Dalam pandangannya, peningkatan produktivitas akan membuat barang dan jasa semakin melimpah sehingga masyarakat tidak lagi menghadapi keterbatasan ekonomi seperti saat ini.

Elon Musk juga memprediksi uang tidak lagi menjadi hal penting pada 2036. Ia membayangkan pekerjaan pada masa depan seperti berkebun. Seseorang tetap bisa memilih berkebun karena menyukai aktivitas tersebut, meskipun sebenarnya dapat membeli sayuran.

Dengan kata lain, manusia nantinya dapat bekerja karena menginginkannya, bukan karena membutuhkan gaji untuk bertahan hidup.

Meski demikian, Elon Musk tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana skema universal high income akan diterapkan. Ia juga tidak menyebutkan besaran uang yang akan diberikan, kriteria penerima, maupun jadwal implementasinya.

Usulan tersebut masih berupa gagasan Musk dan belum menjadi kebijakan pemerintah.

Transisi Menuju Era AI dan Robot Tidak Mudah

Elon Musk mengakui bahwa peralihan menuju masa depan ketika manusia tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak akan berlangsung mulus. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai a bumpy road atau perjalanan yang penuh tantangan.

Sementara itu, perkembangan AI memang berpotensi mengubah struktur pekerjaan, tetapi tidak selalu berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang.

Studi gabungan Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) dan National Research Institute Polandia pada 2025 menemukan satu dari empat pekerjaan di dunia berpotensi terpapar AI generatif.

Namun, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa perubahan pekerjaan lebih mungkin terjadi dibandingkan hilangnya seluruh pekerjaan akibat teknologi tersebut.

Di sisi lain, laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan perkembangan teknologi dan perubahan ekonomi lainnya dapat menghilangkan 92 juta pekerjaan hingga 2030. Namun, pada saat yang sama, perubahan ini juga diproyeksikan menciptakan 170 juta pekerjaan baru.

Dengan demikian, terdapat potensi penambahan bersih sebanyak 78 juta pekerjaan. Proyeksi tersebut mencakup berbagai faktor perubahan ekonomi, bukan hanya dampak AI.

Persoalan lainnya yakni bagaimana masyarakat yang kehilangan pekerjaan dapat memperoleh keterampilan untuk mengisi posisi baru. Pekerja yang terdampak otomatisasi belum tentu dapat langsung beralih ke pekerjaan yang tercipta.

Selain itu, peningkatan produktivitas dari AI dan robot tidak otomatis menjamin seluruh masyarakat menikmati keuntungan ekonomi secara merata. Distribusi kekayaan akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk upah, harga barang, pajak, kepemilikan teknologi, dan kebijakan pemerintah.

Oleh karena itu, meskipun Elon Musk membayangkan masa depan ketika manusia tidak lagi harus bekerja untuk mendapatkan uang, mekanisme untuk menjamin masyarakat tetap memiliki pendapatan masih menjadi persoalan yang belum terjawab.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.