Pengelola TN Tesso Nilo Sebut 9 Gajah yang Ditemukan Mati Ada di Area HTI
Pengelola Balai Taman Nasional Tesso Nilo mengklarifikasi kabar yang menyebut ditemukannya sembilan gajah jantan yang mati ditembak di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau. Mereka menyebut gajah-gajah tersebut ditemukan di wilayah pemegang hak pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
"Perlu kami luruskan bahwa peristiwa yang dimaksud tidak terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, melainkan berlokasi di wilayah pemegang hak pengelolaan Hutan Tanaman Industri," ujar Pengelola Balai Taman Nasional Tesso Nillo melalui akun Instagram @btn_tessonilo, pada 7 Mei 2026.
Pengelola TNTN mengatakan walaupun secara geografis wilayah HTI tersebut masih merupakan bagian dari ekosistem Tesso Nilo. Akan tetapi, secara administratif dan pengelolaan, lokasi tersebut berada di luar batas taman nasional.
"Ketepatan informasi ini penting guna memperjelas wewenang pengelolaan serta tanggung jawab pengawasan wilayah dalam upaya perlindungan Gajah Sumatra. Mari bersama-sama tetap mengawal proses hukum ini hingga tuntas," ujar pengelola Taman Nasional Tesso Nilo.
Sebelumnya, akun Instagram @forgajahrahman menyebut sembilan gajah jantan tewas ditembak di Tesso Nilo. Akun tersebut menyebut penemuan sembilan mayat gajah itu berawal dari kasus gajah mati tanpa kepala yang ditemukan di RAPP pada awal Februari 2026 dan penangkapan 15 tersangka pada 18-23 Februari 2026.
Gajah Sumatra Terancam Punah
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, populasi gajah Sumatra di alam liar diperkirakan tersisa 924 hingga 1.359 individu. Angka tersebut menunjukkan penyusutan drastis akibat hilangnya habitat dan tingginya kasus perburuan maupun konflik dengan manusia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut saat ini hanya tersisa 21 kantong ekosistem gajah dari semula 44 kantong. Gajah Sumatra dan gajah Kalimantan kini masuk fase sangat terancam punah (critically endangered).
Kemenhut tengah menyiapkan penerbitan Instruksi Presiden tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan. Saat ini, naskah Inpres dalam proses sirkulasi administratif antarkementerian.
"Inpres ini menunjukkan komitmen yang sangat kuat dari Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk menyelamatkan gajah kita. Tata kelola pembangunan ke depan harus memberikan orientasi penuh kepada konservasi," ujarnya dalam pertemuan dengan NGO dan para pemengaruh (influencer) di Jakarta, pada 7 Mei 2026.
Salah satu poin krusial dalam Inpres ini adalah integrasi pembangunan infrastruktur dengan ruang hidup satwa. Raja Juli mencontohkan, jika Kementerian Pekerjaan Umum membangun jalan tol, harus mempertimbangkan peta home range gajah yang telah disiapkan Kementerian Kehutanan. Pemerintah akan mewajibkan solusi teknis seperti penyediaan terowongan atau underpass agar kelompok gajah tetap terkoneksi tanpa terganggu aktivitas manusia.
Dalam pertemuan itu, Menhut Raja Juli memerintahkan agar 21 kantong gajah yang tersisa dipertahankan dan diperbaiki kualitas ekosistemnya. Strategi utama yang akan dijalankan adalah pembangunan koridor untuk menyambungkan kantong-kantong gajah yang terfragmentasi akibat aktivitas ilegal maupun perubahan fungsi lahan.
"Penting bagi kita untuk memiliki data yang akurat. Dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK), harus ada target angka peningkatan populasi yang jelas misalnya dalam lima tahun ke depan. Jika tidak ada peningkatan, kita harus mencari masalahnya dan menyelesaikannya," kata Raja Juli.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Raja Juli juga menyoroti penanganan konflik manusia dan gajah di Way Kambas yang telah berlangsung selama kurang lebih 40 tahun. Pemerintah juga berencana membangun barrier yang efektif untuk mencegah jatuhnya korban, baik dari sisi manusia maupun satwa, sembari terus melakukan perbaikan habitat asli mereka.