BKSDA Kalbar Evakuasi 24 Satwa Liar Terdampak Karhutla, Paling Banyak Orangutan

ANTARA FOTO/HO/YIARI/Muffidz Ma
Orang utan jantan dewasa bernama Sampurna mendapat bantuan oksigen setelah ditemukan lemas di perkebunan sawit milik warga di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026).
11/9/2026, 09.29 WIB

Setidaknya 24 satwa liar harus dievakuasi dari habitat alaminya, akibat api dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Namun, angka tersebut baru mencatat satwa yang berhasil diselamatkan dan belum mencakup satwa mati atau tidak ditemukan akibat bencana ini.

Sepanjang 1 Agustus hingga 10 September 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat telah mengevakuasi 24 individu satwa liar terdampak karhutla, yang didominasi orangutan.

Rinciannya, 15 individu orangutan, 6 ekor trenggiling, seekor bekantan, seekor kukang, dan seekor musang tenggalung. Upaya evakuasi dilakukan di 18 lokasi di Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, dan Kabupaten Bengkayang. 

Evakuasi tersebut dilakukan berdasarkan laporan yang masuk ke layanan call center, serta hasil patroli lapangan petugas balai. Tak sendiri, BKSDA Kalimantan Barat mengungkap evakuasi ini dilakukan bersama tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan sejumlah pihak terkait. 

Pihak balai kemudian mengimbau masyarakat untuk melapor ketika menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan, serta tidak berusaha menangkap atau memelihara satwa tersebut. 

Pelaporan dapat dilakukan melalui call center Penyelamatan Satwa Liar:

  • Balai BKSDA Kalimantan Barat di nomor 0811-5776-767
  • Seksi KSDA I Ketapang di nomor 0811-5670-041
  • Seksi KSDA II Sintang di nomor 0811-5670-042
  • Seksi KSDA III Singkawang di nomor 0811-5670-043

Kebakaran di Habitat Satwa Ikonik

Hasil pantauan Auriga Nusantara selama Januari hingga Juni 2026 mengungkap, kebakaran lahan telah menghanguskan 11,4 ribu hektare habitat harimau, badak, gajah sumatra, dan orangutan. 

Peneliti Auriga Nusantara Sesilia Maharani Putri merincikan, yang paling luas terdampak kebakaran adalah habitat harimau, mencapai 3.964 hektare. Kebakaran juga berdampak pada 3.376 hektare habitat orangutan; 2.542 hektare habitat badak; serta 1.561 hektare habitat gajah sumatra. 

“Kalau ada kebakaran artinya menekan kelanjutan hidup spesies-spesies yang sebenarnya dilindungi dan spesies-spesies ikonik,” kata Sesilia dalam peluncuran Mapbiomas Fire Monthly 2026, pada Agustus lalu.

Sesilia juga memaparkan, sekitar 46% kebakaran lahan selama semester pertama 2026 itu tercatat berada di kawasan hutan. Paling luas berada di kawasan hutan produksi, mencapai 23,3 ribu hektare.  

Kawasan lindung dan kawasan konservasi pun tidak luput dari kobaran api. Sebanyak 12,4 ribu hektare hutan lindung – hutan dengan fungsi pokok mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, serta menjaga kesuburan tanah ikut – terbakar.  

Adapun kebakaran lahan di kawasan konservasi mencapai 17,9 ribu hektare. Padahal, kawasan ini memiliki peran penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan ekosistem, serta keberlanjutan fungsi lingkungan hidup.  

Kawasan konservasi terbagi menjadi beberapa jenis, mencakup cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru. Berdasarkan hasil pemantauan Auriga, kebakaran terdeteksi merambah 39 taman nasional dan 140 kawasan non-taman nasional.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, kebakaran lahan di taman nasional tercatat paling luas berada di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara. Kebakaran lahan teridentifikasi mencapai 2,8 ribu hektare dari total luas kawasan 105,1 ribu hektare.  

Kebakaran juga terjadi di Taman Nasional Lorentz di Papua seluas hampir 1,7 ribu hektare dan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur seluas 933 hektare. Namun, berdasarkan laporan terbaru, kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada pertengahan Agustus telah menghanguskan 1.220 hektare.

Sementara itu, kebakaran juga teridentifikasi berada di Cagar Alam Muara Kendawangan di Kalimantan Barat seluas 3,2 ribu hektare; Cagar Alam Morowali di Sulawesi Tengah seluas 1,6 ribu hektare; dan Cagar Alam Pegunungan Wayland di Papua Tengah seluas 875 hektare. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas