Hilirisasi menjadi salah satu strategi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat basis industri. Namun, di tengah tuntutan dekarbonisasi global, pertumbuhan industri juga dihadapkan pada tantangan untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menjaga daya saing di pasar global.

Country Lead Indonesia Climateworks Centre Jannata Giwangkara atau yang akrab disapa Egi, mengatakan, industrialisasi pada dasarnya berkorelasi positif dengan pertumbuhan lapangan kerja. 

“Kalau kita bicara industrialisasi, pastinya juga akan berkorelasi positif terhadap pertumbuhan lapangan kerja. Tapi ketika ditanya apakah itu juga quality, itu another topic to discuss,” ujar Egi, dalam sesi Green Industrialization: Driving Growth, Jobs, and Competitiveness di acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).

Menurut Egi, kesiapan industri dalam menjalankan transformasi menuju green business juga masih sangat beragam. Sebagian industri telah berada dalam tahap yang lebih maju dalam transformasi bisnis, sementara bagi pemerintah, agenda tersebut relatif masih menjadi hal baru.

Selain kualitas tenaga kerja, transformasi menuju industri hijau juga membutuhkan pendekatan yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing. 

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan Climateworks Centre di Indonesia adalah net zero industrial precincts, yakni pengembangan kawasan industri rendah karbon dengan mengintegrasikan kebutuhan sejumlah pelaku industri dalam satu ekosistem.

Egi menjelaskan, pendekatan tersebut telah dikembangkan Climateworks Centre di Australia sebelum diperkenalkan ke Indonesia. Konsepnya antara lain mengintegrasikan dan mengoordinasikan sejumlah pelaku industri yang berada dalam lokasi berdekatan serta mengagregasi kebutuhan energi maupun permintaan pasar.

Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan yang sebelumnya dipenuhi masing-masing perusahaan dapat dikembangkan secara lebih terkoordinasi dalam satu kawasan.

Menurutnya, penggabungan kebutuhan dalam satu klaster dapat meningkatkan kelayakan proyek. Di Australia, pendekatan tersebut membantu meningkatkan ketertarikan investor dan perbankan karena proyek dapat dilihat sebagai satu peluang investasi yang lebih terintegrasi.

Pendekatan serupa juga dinilai berpotensi diterapkan di Indonesia, meski implementasinya tidak dapat dilakukan dengan menyalin model dari negara lain secara langsung.

Climateworks Centre telah melakukan kajian dan pendampingan terkait dekarbonisasi industri di sejumlah wilayah, termasuk Australia dan Asia Tenggara. Dari berbagai proyek tersebut, terdapat sejumlah pembelajaran yang dinilai relevan untuk Indonesia.

Egi menekankan bahwa karakteristik setiap kawasan perlu menjadi pertimbangan utama. Proses industri, sistem logistik, rantai nilai, hingga karakteristik energi di setiap wilayah memiliki perbedaan sehingga tidak terdapat satu kerangka yang dapat diterapkan secara seragam.

Place matters. Setiap kawasan atau klaster itu pasti punya keunikannya masing-masing yang memang mungkin kita tidak punya framework yang general yang bisa di-apply,” katanya.

Egi juga menilai transformasi menuju industri rendah karbon perlu dilihat bukan semata sebagai tambahan biaya, beban, atau persoalan kepatuhan terhadap regulasi. 

“Melihat ini jangan sebagai extra cost, atau compliance issue lagi, tapi lebih memang melihatnya sebagai market opportunity dan juga competitiveness opportunity,” katanya.

Transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, pekerja, dan komunitas daerah. Menurut Egi, Pemerintah berperan mengorkestrasi kebijakan dan regulasi agar selaras dengan kebutuhan industri, sementara lembaga keuangan dapat mendukung kebutuhan investasi dan penggantian teknologi.

Di tingkat daerah, kesiapan pemerintah dan masyarakat sekitar kawasan industri juga perlu diperhitungkan agar kebijakan nasional dapat diterapkan sesuai karakteristik wilayah.

Melalui pendekatan berbasis kawasan, Egi berharap kebutuhan setiap aktor dapat dipetakan secara lebih konkret. 

Dengan demikian, agenda green industrialization tidak hanya diarahkan pada pengurangan emisi, tetapi juga mendukung pertumbuhan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya saing industri Indonesia.

Indonesia memanfaatkan hilirisasi untuk menambah nilai sumber daya alam sekaligus memperkuat industri nasional. Realisasi investasi bidang hilirisasi pada 2025 tercatat mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total realisasi investasi pada tahun tersebut.

Pertumbuhan tersebut antara lain terlihat pada industri pengolahan nikel. Sebagai salah satu pemasok nikel utama dunia, Indonesia terus mengembangkan rantai pengolahan komoditas tersebut di dalam negeri, termasuk melalui kawasan industri terintegrasi di Pulau Obi, Maluku Utara.

Ekspansi industri juga berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja. Secara nasional, hilirisasi disebut menyerap sekitar 2,7 juta tenaga kerja pada 2025. Namun, peningkatan jumlah pekerja belum serta-merta menjawab pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan yang tercipta, terutama di tengah transformasi industri menuju proses produksi yang lebih hijau.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.