Program E-Waste School Movement Bidik 9.000 Sekolah di Jakarta

Katadata/Reihan Cahya
Kick-off Program E-Waste School Movement dimulai di SMAN 68 Jakarta, pada Selasa (22/9).
Penulis: Reihan Cahya
22/9/2026, 15.01 WIB

Program E-Waste School Movement menargetkan perluasan gerakan pengelolaan sampah elektronik ke sekitar 9.000 sekolah di Jakarta. Program yang diinisiasi EwasteRJ bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta itu dimulai dari SMAN 68 Jakarta.

Perwakilan DLH Provinsi DKI Jakarta Elisabeth Tarigan mengatakan program tersebut akan dimulai dari sekolah Adiwiyata sebelum diperluas ke sekolah lainnya di Jakarta.

“Kita punya sekolah itu sekitar 9.000 di seluruh wilayah DKI,” kata Elisabeth dalam Kick-off E-Waste School Movement di SMAN 68 Jakarta, Selasa (22/9).

Elisabeth mengatakan saat ini terdapat sekitar 441 sekolah Adiwiyata di Jakarta. SMAN 68 Jakarta menjadi salah satu titik awal program karena merupakan sekolah Adiwiyata tingkat kota.

Menurut dia, perluasan program diperlukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas pengumpulan sampah elektronik. DLH sebelumnya telah menyediakan drop box sampah elektronik di sejumlah kantor pemerintah dan gedung, tetapi masih menghadapi keterbatasan sarana dan anggaran.

“Makanya kami berkolaborasi dengan pihak-pihak lain supaya menutup gap ini,” ujar Elisabeth.

Melalui program tersebut, setiap sekolah nantinya akan memiliki satu drop box untuk menampung sampah elektronik. Sampah yang terkumpul akan diangkut dan diteruskan ke pihak yang memiliki fasilitas pengolahan khusus.

Elisabeth mengatakan mekanisme pengangkutan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Pengambilan dapat dilakukan berdasarkan tingkat kepenuhan drop box atau jadwal yang ditentukan.

“Jadi pasti ada pengangkutannya,” katanya.

Dia mengatakan perluasan pengumpulan sampah elektronik melalui sekolah juga diharapkan dapat menjangkau lingkungan keluarga. Siswa yang mengetahui tempat pengumpulan sampah elektronik di sekolah dapat membawa sampah elektronik dari rumah untuk dikumpulkan.

“Dari 9.000 sekolah, berapa ratus ribu siswa, satu siswa itu memiliki berapa keluarga, ini akan menjadi character building atau information sharing atau gerakan perubahan yang bisa sampai ke jutaan masyarakat,” ujar Elisabeth.


Meski memiliki target perluasan sekolah, DLH belum menetapkan target volume sampah elektronik yang akan terkumpul dari program tersebut. Lisa mengatakan data volume justru perlu dibangun melalui mekanisme pengumpulan yang lebih teratur.

“Bukan target. Kita tidak membicarakan mengenai target langsung, tapi kita berharap ini menjadi sarana untuk memberikan way out-nya itu dalam pengolahan sampah elektronik,” katanya.

Targetkan 400 Sekolah dalam Setahun

Sementara itu, Founder EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan pihaknya menargetkan program tersebut menjangkau sekitar 400 sekolah Adiwiyata dalam satu tahun.

“Kita sekarang mulai di sekolah Adiwiyata dulu. Tadi disebutkan oleh Ibu Lisa ada 400 lebih sekolah Adiwiyata, kita mau menjalankan gerakan e-waste di sekolah-sekolah itu,” kata Rafa.

Setelah Jakarta, EWasteRJ juga berencana membawa program tersebut ke sejumlah daerah lain, seperti Yogyakarta, Bali, dan Bandung. Rafa mengatakan perluasan program tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas pengumpulan sampah elektronik. Menurut dia, EwasteRJ juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah elektronik.

“Kalau misalnya orang-orang saja enggak tahu e-waste itu apa, itu kita enggak akan guna mau bikin drop box ada 1 juta titik juga nanti enggak ada yang membuang ke sana,” ujarnya.

Dia mengatakan EwasteRJ membangun dua sisi dalam ekosistem sampah elektronik, yakni infrastruktur fisik untuk pengumpulan dan pengolahan serta infrastruktur sosial berupa pemahaman masyarakat.

“Jadi kalau di EwasteRJ itu kami membangun ekonomi sirkular di ekosistem sampah elektronik. Jadi yang kami bangun dua sebenarnya, ada infrastruktur secara fisik untuk membangun pendauran sampah terpilah, tapi yang lebih penting dari itu, yang sama pentingnya juga, adalah infrastruktur sosialnya,” ujar Rafa.

Program E-Waste School Movement juga mendapat dukungan dari Dinas Sosial DKI Jakarta. Sekretaris Dinas Sosial DKI Jakarta, Bakwan Ferizan Ginting mengatakan program tersebut selaras dengan Instruksi Kepala Dinas Pendidikan Nomor 33 Tahun 2026 tentang Gerakan Pilah dan Olah Sampah di seluruh sekolah DKI.

Dinas Pendidikan DKI mencatat terdapat sekitar 9.000 sekolah negeri dan swasta di Jakarta. Pemerintah daerah juga telah menjalankan aplikasi Jaga dan Olah Sampah Sekolah (JOSS) untuk mengukur volume sampah yang dihasilkan dan sampah yang telah dipilah serta diolah di sekolah.

Selama periode 13 Juli hingga 22 September, jenjang Sekolah Menengah Atas di DKI Jakarta menyumbang 131.605,42 Kg sampah terpilah, dengan rincian sampah organik 48,260,90 Kg, sampah non organik 46.618,28 Kg, sampah B3 5.514,20 Kg, sampah residu 31.212,04 Kg dan yang terolah secara mandiri sejumlah 36,823,37 Kg. 

“Dari pengolahan ini, pemilahan ini difasilitasi oleh EwasteRJ tadi ya, untuk memberikan wadah sebagai bagian daripada gerakan kami di sekolah untuk memilah dan mengolah sampah,” ujar Ginting.

Menurut Ginting, perluasan pengelolaan sampah di sekolah tidak hanya ditujukan untuk mengurangi sampah. Program tersebut juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan siswa dalam menjaga lingkungan.

“Bukan soal sampahnya saja, tetapi bagaimana karakteristik anak-anak kita dari sejak dini untuk bisa peduli terhadap lingkungan,” katanya.

Elisabeth menambahkan, meski belum memiliki angka pasti sumbangan volume sampah elektronik di DKI Jakarta, dengan pola masyarakat saat ini yang semakin mengandalkan teknologi, volume sampah elektronik berpotensi meningkat. 

"Jadi memang sampah ini adalah bagian dari keseluruhan sampah di Jakarta yang harus kita kelola. Nah, diharapkan dengan program ini kita jadi memiliki arah yang lebih jelas dan terdata, dan itu bisa menjadi bagian dari peta pengolahannya," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.