Dipicu Hilirisasi, Lonjakan PLTU Captive Geser Jaringan Listrik Nasional
Tren penambahan kapasitas pembangkit listrik di Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Jaringan PLN dan Independent Power Producers (IPP) yang semula mendominasi, kini disalip penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive atau pembangkit listrik luar jaringan.
Analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor (GEM) menunjukkan program hilirisasi banyak andil dalam hal ini.
Merujuk pada data CREA dan GEM, dari sekitar 5,4 Gigawatt (GW) penambahan kapasitas PLTU batu bara pada Juli 2025, sebanyak 4,49 GW di antaranya berupa PLTU captive.
Listrik dari PLTU captive kemudian dialokasikan untuk industri strategis padat energi, seperti proyek hilirisasi nikel di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Sementara itu, penambahan kapasitas ke jaringan publik PLN hanya sekitar 965 Megawatt (MW). Angka ini jauh lebih rendah dari total 3,25 GW yang diantisipasi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
“Lanskap energi Indonesia mengalami perpecahan radikal, di mana jaringan listrik nasional yang stagnan, dikalahkan lonjakan PLTU captive yang didorong inisiatif hilirisasi,” kata Analis CREA Katherine Hasan, dalam keterangan resmi, Selasa (27/1).
Pada periode Juli 2024-Juli 2025, hanya ada satu PLTU IPP yang masuk ke jaringan nasional, yaitu Sumsel-1 Unit 1 di Sumatra Selatan dengan kapasitas 350 MW.
Sisanya dikelola oleh PLN, seperti PLTU Asam-Asam Unit 5 (100 MW) di Kalimantan Selatan, Banten Lontar Unit 4 (315 MW) di Banten, Timor-1 Unit 1 dan 2 (masing-masing 50 MW) di NTT, serta Barru Fase II Unit 1 (100 MW) di Sulawesi Selatan.
Penambahan Kapasitas PLTU Captive Lebih Konsisten
Berdasarkan rilis Global Coal Plant Tracker, penambahan kapasitas PLTU captive lebih konsisten. Total terdapat 4,49 GW yang tercatat operasional dalam periode tersebut. Sebanyak 1,53 GW berasal dari pembaruan Commercial Operation Date (COD) retroaktif, yang menandai tahun operasional sebelum 2024.
Di dalamnya termasuk PLTU Sulawesi Labota Unit 1, 2, dan 3 dengan total kapasitas 1,08 GW, serta PLTU milik PT Halmahera Persada Lygend Nickel Smelter Fase II Unit 1, 4, dan 5 dengan total kapasitas 450 MW.
Untuk PLTU captive yang operasionalnya ditandai dengan COD pada 2025 dan 2024, total kapasitasnya mencapai 2,96 GW. Terbagi dalam lima fasilitas dan semuanya berkaitan dengan industri pengolahan nikel.
Dari lima fasilitas yang baru beroperasi, tiga di antaranya berada di Sulawesi Tengah. Ada PLTU PT Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP) Unit 1, 2, dan 3 (total 350 MW), Delong Nikel Fase IV Unit 3 (330 MW), dan Sulawesi Labota Unit 9 (380 MW).
PLTU lainnya berada di Maluku Utara, yaitu PT Halmahera Persada Lygend Nickel Smelter Fase III Unit 1 dan 2 (760 MW), serta Weda Bay Unit 12, 13, dan 14 (1,14 GW).
Menurut laporan CREA dan GEM, performa PLTU captive tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Saat ini PLTU captive dengan kapasitas 19,3 GW telah beroperasi, sementara terdapat 3,6 GW yang masih dalam konstruksi dan tambahan 8,16 GW dalam rencana ekspansi.
Jika digabungkan, total kapasitas PLTU captive ini mencapai 31 GW. Ini bahkan tiga kali lipat lebih besar dari total kapasitas PLTU captive di Indonesia pada 2023, melampaui seluruh kapasitas batu bara Australia saat ini (22,8 GW), dan hampir setara dengan kapasitas batu bara Jerman pada 2024 (32,3 GW).