Sawit Ilegal di Tesso Nilo dan Misteri Kematian Anak Gajah
Akhir Februari lalu, bangkai seekor anak gajah sumatra berusia kurang dari lima tahun terkapar di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Bagian kaki anak gajah terluka dan membusuk. Setelah penemuan tersebut, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menggelar penyelidikan.
Hasil olah tempat kejadian perkara menunjukkan, anak gajah tersebut diduga mengalami infeksi serius akibat jeratan tali. Ini diduga terkait aktivitas perkebunan kelapa sawit. Polisi menemukan patok kepemilikan lahan dalam kawasan hutan konservasi yang telah ditetapkan Menteri Kehutanan.
Berdasarkan pemeriksaan saksi, ahli, dan analisis pemetaan kawasan, pria pemilik lahan berinisial JM (44) ditetapkan sebagai tersangka. “Tidak ada toleransi terhadap perusakan lingkungan dan pembunuhan satwa dilindungi. Penegakan hukum akan dilakukan secara profesional, transparan, dan tuntas,” kata Kapolda Riau Herry Heryawan dalam unggahan Instagram pribadinya, dikutip pada Selasa (3/3).
Kepolisian menjerat tersangka dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara hingga 15 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.
Daftar Panjang Kematian Tak Alami Gajah Sumatra
Ini merupakan insiden kematian gajah Sumatra ketiga yang diberitakan Katadata, sepanjang tahun ini. Sebelumnya, seekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan mati di area kebun Desa Karang Ampar, Kabupaten Aceh Tengah. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkapkan, penyebab kematian gajah adalah sengatan kawat yang dialiri listrik bertegangan tinggi. Saat ditemukan, belalai gajah masih terlilit kawat.
Kemudian pada awal Februari, BKSDA Riau melaporkan temuan gajah jantan mati tanpa kepala di area kerja PT Riau Andalan Pulp and Paper di Blok Ukui, Pelalawan. Indikasinya mengarah pada perburuan liar. “Hilangnya bagian kepala menunjukkan indikasi kuat adanya perburuan liar,” ujar Kepala BKSDA Riau Supartono.
Bencana besar banjir dan longsor Sumatra pada November-Desember tahun lalu, juga dilaporkan menyebabkan tewasnya aneka satwa, termasuk gajah. Populasi gajah Sumatra betul betul kritis. Sebelum bencana saja, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut populasi gajah Sumatra hanya tersisa sekitar 1.100 ekor.
Mengutip lembaga non-pemerintah yang fokus pada konservasi satwa WWF, terdapat dua jenis spesies gajah di Indonesia, yakni gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) dan gajah Borneo (Elephas maximus borneensis). Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), kedua spesies tersebut dalam status sangat terancam punah atau critically endangered.