Bongkar Pasang Proyek Transportasi Umum Bali: Subway Digeser Trem dan Taksi Air

MRT Bali
Ilustrasi transportasi massal Bali
10/8/2026, 12.42 WIB

Direncanakan sejak lama, proyek transportasi massal Bali non-bus belum juga ada yang berjalan. Kini, di tengah kemacetan yang semakin sulit terurai di beberapa lokasi wisata populer dan tingginya emisi sektor transportasi, opsi-opsi kembali dibuka dan pengkajian kembali dilakukan.

Rapat-rapat koordinasi dilaporkan kembali digelar pemerintah Bali bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan PT Kereta Api Indonesia. Pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster pekan lalu mengisyaratkan opsi proyek MRT Bali alias Bali Urban Subway, tak berlanjut. Meskipun, seremonial peletakan batu pertama sudah dilakukan sekitar dua tahun lalu.

Calon penggantinya: proyek trem otonom atau Autonomous Rail Transit alias ART. “Karena (ART) jauh lebih efisien dan secara teknologi lebih mudah,” kata Koster di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, pekan lalu, dikutip dari Antara.

Menurut dia, pemerintah Bali sedang menyusun peraturan Gubernur Bali untuk mengakomodasi ART karena belum diatur dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW).  

Dia belum mendetailkan rute dan estimasi biaya untuk proyek itu. Namun, terdapat informasi bahwa proyek ini akan menghubungkan Bandara Internasional Ngurah Rai dengan Canggu. Estimasi biaya pembangunan Rp2,2 triliun, di luar biaya penyiapan jalur yang diperkirakan mendekati Rp 1 triliun.

Biaya investasi tersebut jauh lebih murah dibandingkan total estimasi biaya pembangunan Bali Urban Subway yang mencapai ratusan triliun.

Di sisi lain, Bupati Badung Adi Arnawa mengatakan jenis transportasi massal yang masuk dalam radar pengkajian adalah subway, trem dan taksi air. Menurut dia, proyek subway yang sebelumnya direncanakan masih dievaluasi.

Proyek Bali Urban Subway yang Menggantung

Merujuk pada situs MRT Bali, transportasi ini dirancang untuk menghubungkan Bandara Internasional Ngurah Rai dengan destinasi wisata utama, seperti Kuta, Seminyak, Canggu, Nusa Dua, Sanur, and Ubud.

MRT Bali atau Bali Urban Subway dirancang memiliki empat rute, dengan total panjang jalur lebih dari 60 kilometer dan estimasi biaya investasi sekitar US$20 miliar atau lebih dari Rp300 triliun.

Konsep subway atau kereta bawah tanah dipilih karena beberapa alasan. Pertama, Bali memiliki aturan tata ruang adat yang ketat dimana bangunan tidak boleh melebihi ketinggian pohon kelapa. Selain itu, mahalnya pembebasan lahan. Dan, menghindari penutupan jalan.  

Pada September 2024, pemerintah Bali melakukan seremonial peletakan batu pertama di Sentral Parkir Kuta, Badung. Namun, dua tahun berlalu, proyek tak juga berjalan. Padahal, targetnya, Bali Urban Subway fase pertama beroperasi pada 2028.

Isu utamanya adalah dana. Karena dirancang sebagai proyek non-APBN, maka diperlukan investasi swasta untuk proyek ini. PT Sarana Bali Dwipa Jaya, cucu perusahaan daerah PT Jamkrida Bali Mandara belum juga mendapatkan mitra investor.


Peta Rencana Rute MRT Bali atau Bali Urban Subway (MRT Bali)
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.