Belum Fase Letusan Hebat, BRIN Sebut Anak Krakatau Masih Masa Inkubasi
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aditya Pratama mengatakan Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada dalam fase inkubasi.
Fase inkubasi merupakan tahap awal dalam siklus pembentukan kaldera. Artinya, sistem magma gunung api masih berkembang dan belum mencapai kondisi yang dapat memicu letusan besar.
“Pada Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption,” kata Aditya dalam diskusi kebencanaan seperti dikutip Antara, Senin (14/9).
Da menjelaskan sistem gunung api di Selat Sunda secara historis terbagi menjadi tiga periode utama, yakni Krakatau tua, Krakatau muda, dan Anak Krakatau yang muncul secara bertahap setelah letusan besar pada 1883.
Menurut Aditya, letusan pembentuk kaldera tidak terjadi secara tiba-tiba. Prosesnya bertahap, mulai dari inkubasi, pematangan atau maturasi, fermentasi, hingga caldera forming eruption atau letusan besar yang menyebabkan terbentuknya kaldera.
Kaldera merupakan cekungan besar yang terbentuk ketika bagian puncak gunung api runtuh setelah terjadi letusan dengan volume material yang sangat besar.
Aditya mengatakan riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Earth Science menunjukkan dapur magma Anak Krakatau berada pada rentang kedalaman 7,4 hingga 26,6 kilometer.
Dapur magma merupakan zona di bawah gunung api tempat magma terkumpul sebelum bergerak menuju permukaan. Kedalaman dan karakteristik zona ini menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk memahami perkembangan sistem gunung api.
Kondisi tersebut berbeda dengan Krakatau tua dan Krakatau muda yang berdasarkan penelitian memiliki kantong magma besar pada kedalaman yang lebih dangkal menjelang kehancurannya.
“Jadi paling tidak sudah ada dua siklus pembentukan kaldera begitu ya di abad ke-5, abad ke-4, abad ke-6, dan 1883,” ujar Aditya saat menjelaskan konteks sejarah letusan besar Krakatau.
Melalui analisis petrografi dan geokimia terhadap belasan sampel batuan, tim peneliti juga menemukan karakteristik magma Anak Krakatau terus mengalami evolusi dan berbeda dari periode-periode sebelumnya.
Analisis petrografi digunakan untuk melihat struktur dan mineral penyusun batuan, sedangkan analisis geokimia digunakan untuk mengetahui komposisi kimia batuan dan magma. Keduanya membantu peneliti melihat bagaimana karakter magma berubah dari waktu ke waktu.
Aditya mengatakan keberadaan mineral olivin dalam sampel batuan Anak Krakatau semakin memperkuat indikasi adanya perbedaan komposisi kimia pada dapur magma saat ini. Olivin merupakan salah satu mineral yang umum ditemukan dalam batuan vulkanik dan dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi serta proses pembentukan magma.
Menurut dia, potensi letusan besar tetap ada seiring perkembangan sistem magmanya. Namun, kondisi Anak Krakatau saat ini menunjukkan proses menuju fase letusan pembentuk kaldera masih membutuhkan waktu yang panjang.
Dia berharap pemahaman mengenai dapur magma dan siklus gunung api polisiklik dapat menjadi rujukan bagi pemerintah untuk terus menyempurnakan strategi mitigasi bencana.
Gunung api polisiklik adalah gunung api yang mengalami lebih dari satu siklus pertumbuhan dan kehancuran dalam sejarah geologinya. Pemahaman terhadap siklus tersebut dapat membantu peneliti mempelajari pola perkembangan dan potensi bahaya gunung api dalam jangka panjang.
Sebelumnya, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026. Setelah itu, Badan Geologi melaporkan aktivitasnya kembali didominasi erupsi Strombolian, yakni letusan-letusan kecil yang terjadi secara berkala.
Hingga 14 September, aktivitas kegempaan Anak Krakatau masih tinggi dan statusnya tetap Level III atau Siaga. Masyarakat juga masih dilarang mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer.