Investor Kian Selektif, Startup Ramah Lingkungan Kini Harus Buktikan Bisa Untung
Ketersediaan modal bukan lagi satu-satunya tantangan bagi startup ramah lingkungan di Indonesia. Investor kini semakin mempertimbangkan kelayakan bisnis, potensi profitabilitas, hingga kemampuan perusahaan rintisan untuk mengembangkan produknya secara berkelanjutan.
Partner East Ventures Avina Sugiarto mengatakan, investor tidak hanya melihat dampak lingkungan yang dihasilkan startup. Model bisnis dan kemampuan perusahaan untuk mencapai profitabilitas juga menjadi pertimbangan penting dalam keputusan investasi.
“Kami ingin berinvestasi di perusahaan yang unit economics-nya bisa menghasilkan keuntungan di masa yang lumayan cepat, nggak di masa yang terlalu lama,” kata Avina dalam diskusi Investing in Sustainable Leaders: Mobilizing Capital for Indonesia's Future Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).
Menurutnya, startup yang bergerak di bidang climate tech harus mampu menunjukkan bahwa solusi yang mereka tawarkan memiliki pasar dan dapat menghasilkan pendapatan. Dengan demikian, dampak lingkungan yang dihasilkan dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan bisnis.
Selain model bisnis, akses terhadap pelanggan menjadi tantangan. Ia mengatakan, startup bisa memiliki teknologi yang inovatif, tetapi akan sulit berkembang apabila tidak memiliki customer yang bersedia menggunakan dan membayar produk tersebut.
Avina mengatakan salah satu cara untuk membantu startup climate tech melewati tahap awal adalah menyediakan pendanaan yang dapat menjadi katalis menuju sumber modal berikutnya.
Menurutnya, pendanaan awal dapat membantu startup membangun produk dan membuktikan model bisnis sebelum mengakses follow-on venture capital, growth capital, pembiayaan bank, hingga project financing.
Dengan demikian, tantangan pembiayaan ekonomi hijau tidak hanya terletak pada seberapa besar modal yang tersedia, tetapi juga kemampuan startup dan proyek untuk menunjukkan kelayakan bisnisnya.
Proyek Hijau Harus Bankable
President Director and CEO Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Rizki Pribadi Hasan mengatakan ketersediaan modal untuk pembiayaan proyek sebenarnya cukup besar. Tantangannya adalah membuat proyek yang belum layak secara komersial menjadi bankable.
“Memang itulah seperti yang saya katakan, sebenarnya kan tugas kami ini sebagai katalis. Kita membuat proyek itu yang mungkin tidak bankable, tetapi kita cari cara untuk menjadi bankable,” ujar Rizki.
Menurut Rizki, salah satu keunggulan IIF adalah memiliki sumber pendanaan jangka panjang. Hal ini memungkinkan IIF membiayai proyek dengan kebutuhan tenor yang tidak selalu sesuai dengan appetite perbankan.
“Kalau semua proyek itu dipaksa mengikuti appetite perbankan, ya mungkin itu yang menjadi tidak feasible,” katanya.
Untuk menjembatani kebutuhan tersebut, IIF juga menggunakan skema blended finance dan pendanaan hibah. Rizki mengatakan IIF baru memperoleh akreditasi Green Climate Fund sekitar dua bulan lalu sehingga dapat mengakses dana hingga US$ 250 juta atau Rp 4,42 triliun (kurs Rp 4,42 triliun) dalam bentuk pembiayaan maupun garansi.
“Dengan kita mendapatkan akreditasi itu, kita bisa mengakses dana sampai dengan US$ 250 juta pembiayaan maupun garansi. Nah, itu mungkin sifatnya lebih seperti concessional loan,” ujar Rizki.
Menurutnya, skema tersebut dapat menyediakan pembiayaan yang lebih murah sehingga membantu meningkatkan kelayakan suatu proyek dan menarik sumber modal lainnya.