Warga Kalimantan Barat Dapat Cuan dari Satwa Liar: Bukan Diburu, tapi Dipotret
Warga di sembilan desa di Kalimantan Barat punya cara untuk menambah penghasilan sekaligus ikut menjaga satwa liar: memotret satwa dengan ponsel pintar.
Mereka bisa menyusuri hutan di sekitar desa, memotret satwa yang ditemui, lalu mengunggah hasilnya melalui aplikasi. Jika foto atau rekaman tersebut terverifikasi, warga akan mendapat imbalan.
Direktur Borneo Futures Indonesia Nardiyono mengatakan pendekatan ini memberi alternatif bagi warga yang sebelumnya memperoleh penghasilan dari menangkap satwa.
“Kalau dulunya mereka menangkap satu burung dihargai Rp50 ribu satu ekornya, tapi sekarang masyarakat cukup mengambil foto, mengirimkan ke kami, dan mereka sudah bisa mendapat upah atau imbalan sebesar Rp5-10 ribu untuk satu jenis burung,” ujar Nardiyono, dikutip dari AFP, Senin (21/9).
Melalui proyek KehatiKu, Borneo Futures, perusahaan konsultasi sains dan teknologi konservasi berbasis di Brunei Darussalam, mengembangkan pendekatan citizen science atau sains warga untuk mengumpulkan data keanekaragaman hayati.
Warga berperan sebagai pengamat dengan memanfaatkan kegiatan rutin mereka di dalam dan sekitar desa untuk mendokumentasikan satwa liar. Dokumentasi dapat berupa foto, video, maupun rekaman suara.
“Para pengamat dengan sukarela dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengumpulkan data satwa liar, selama kegiatan rutin di dalam dan sekitar desa mereka. Biasanya menggunakan ponsel mereka,” demikian dikutip dari laman resmi Borneo Futures.
Rekaman suara terutama digunakan untuk mendokumentasikan satwa yang sulit terlihat, seperti owa dan burung.
Hasil pengamatan kemudian diunggah melalui aplikasi seluler KehatiKu untuk diverifikasi oleh tim ahli keanekaragaman hayati Borneo Futures.
Setelah terverifikasi, pengamat mendapat pembayaran. Besarnya imbalan disesuaikan dengan tingkat kelangkaan spesies dan tingkat kesulitan pengamatannya. Dana pembayaran berasal dari para donor yang menyalurkannya melalui Borneo Futures.
Bagi konservasi, data tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi. Borneo Futures menggunakannya untuk menganalisis tingkat keterhunian (occupancy) spesies dan menyusun peta keberadaan satwa secara lebih komprehensif di bentang alam tersebut.
“Kami berharap hutan dan satwa liarnya akan lebih dihargai untuk konservasi daripada eksploitasi,” demikian dikutip dari Borneo Futures.
Proyek KehatiKu dimulai pada 2024 dengan melibatkan empat desa di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Hingga akhir 2025, jumlah desa yang bergabung bertambah menjadi sembilan.
Saat ini, sekitar 950 warga terlibat sebagai pengamat KehatiKu. Mereka telah menghasilkan lebih dari 363 ribu data pengamatan yang terverifikasi.
Batas Pengamatan
Program Director Yayasan KEHATI Rony Megawanto mengatakan pendekatan ini memberi alternatif bagi masyarakat dibandingkan berburu atau melakukan bentuk eksploitasi satwa lainnya. Namun, kegiatan pengamatan tetap harus memperhatikan batas kawasan.
“Kalau zona yang memang tidak boleh masuk, katakan-lah untuk hal yang sensitif, jangan main di situ,” ucap Rony.
Menurut dia, batas tersebut bukan hanya berkaitan dengan status kawasan konservasi, tetapi juga aturan budaya dan adat yang berlaku di wilayah setempat.
“Kalau bicara soal aturan adat ya, itu kalau sekali dilanggar, nanti memancing orang lain untuk masuk, berbondong-bondong. Yang mana tidak baik untuk alam,” ujarnya.
Rony juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati satwa secara berlebihan. Menjaga jarak penting untuk menghindari gangguan terhadap satwa sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis dari satwa liar.