Pasar Saham Indonesia Dinilai Masih Menarik

KATADATA | Arief Kamaludin
Pasar saham Indonesia dinilai masih menarik meski ada potensi aliran dana keluar akibat kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
4/2/2015, 11.09 WIB

KATADATA ? Pasar saham dan obligasi Indonesia masih akan menarik, meski ada potensi aliran dana keluar (capital outflow) lantaran kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).

Kepala Riset Maybank Kim Eng Holding Ltd. Willianto Ie mengatakan, penurunan harga minyak saat ini semestinya menurunkan tekanan inflasi. Dengan begitu, Bank Indonesia (BI) berpotensi menurunkan suku bunganya (BI Rate), sehingga akan membuat tingkat imbal hasil (yield) turun.

?Menurut saya inflasi pada akhir tahun tidak akan lebih dari 5 persen. Kalau BI Rate turun jadi 6 persen saja itu kan tetap menarik,? kata dia dalam seminar bertema ?The World in 2015: How Indonesian Sails Trough It? di Jakarta, Selasa (3/2).

Menurut William, investasi saham masih akan menarik namun untuk sektor-sektor selektif seperti yang terkait dengan infrastruktur. Meski begitu, indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi pada level 5.500 hingga akhir tahun. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan melambat tahun ini.

Robert Rountree ,Global Strategist Eastspring Investments Singapore Ltd., menambahkan investasi di Asia memang tertekan harga komoditas yang menurun. Volatilitas pasar saham pun tercatat yang paling tinggi dibandingkan kawasan lain.

Meski begitu, dia memprediksi pasar obligasi akan tetap baik. Alasannya, dia yakin bank sentral AS, the Fed belum akan menaikkan suku bunganya secara cepat. Apalagi inflasinya masih rendah. Kemudian dengan adanya stimulus dari Eropa, akan menambah likuiditas.

?Menurut saya, bond masih akan baik. Tapi masih banyak atensi untuk market dan pasar saham. Awal tahun, investor masih akan mencermati perkembangan market ekonomi dan politik,? ujarnya.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Desty Damayanti juga optimistis, upaya pemerintah mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang menyehatkan akan APBN dan mengalokasikannya ke sektor produktif, akan menurunkan risiko investasi. Dengan begitu, rating investasi Indonesia bisa ditingkatkan menjadi positif dari sebelumnya netral.  

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Desy Setyowati