Manuver Emiten Pariwisata WINE dan BUVA Poles Kinerja: Bersiap Cuan Lebih Tebal?
Sektor perhotelan dan pariwisata mencatatkan kinerja positif pada paruh pertama 2025, terdorong tingginya aktivitas wisata selama libur semester pertama. PT Hatten Bali Tbk (WINE) membukukan pertumbuhan penjualan 6% secara tahunan, meski laba bersihnya terkoreksi akibat kenaikan biaya bahan baku impor.
Sementara itu, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) milik pengusaha Happy Hapsoro mencuri perhatian pasar dengan kenaikan harga saham signifikan, dipicu rencana aksi korporasi berupa right issue. Performa positif sektor ini turut memperlihatkan prospek cerah bagi emiten pariwisata menjelang akhir tahun.
WINE optimistis mengejar target pendapatan dengan strategi peluncuran produk baru dan ekspansi pasar domestik. Di sisi lain, BUVA memanfaatkan momentum kenaikan harga saham untuk memperkuat modal.
Kinerja solid WINE dan langkah ekspansif BUVA menjadi sorotan pelaku pasar, terutama di tengah sentimen positif industri pariwisata yang diperkirakan berlanjut pada semester kedua. Dengan katalis seperti musim liburan akhir tahun, peluncuran hotel baru, hingga akuisisi aset strategis, kedua emiten ini diprediksi tetap menarik perhatian investor yang mencari peluang di sektor hospitality.
Bagaimama kinerja dan ekspansi WINE dan BUVA kejar Pertumbuhan?
Penjualan WINE Tumbuh 6%, Laba Anjlok 14,7%
Emiten perhotelan dan produksi wine, PT Hatten Bali Tbk (WINE) mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 6% selama semester pertama 2025.
Merujuk laporan keuangan perseroan, WINE membukukan penjualan sebesar Rp 130,77 miliar dari Rp 123,38 miliar pada semester pertama tahun 2024. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh naiknya permintaan pariwisata di Bali.
Dari segmen pendapatan, WINE menarup cuan dari penjualan wine sebesar Rp 136,17 miliar, naik 6,8% dari tahun lalu sebesar Rp 127,41 miliar. Sementara itu, penjualan arak terkoreksi % menjadi Rp 7,37 miliar dari Rp 9,40 miliar secara yoy serta penjualan lainnya sebesar Rp 524 juta. Kemudian terdapat potongan biaya sebesar Rp 13,29 miliar.
Kenaikan penjualan tersebut turun menebalkan beban pokok penjualan dari Rp 76,39 juta menjadi Rp 66,87 miliar secara tahunan. Adapun laba bersih perseroan turun 14,7% menjadi Rp 17,92 miliar dari Rp 21,01 miliar. Tergerusnya laba bersih perseroan disebabkan kenaikan biaya bahan baku impor, khususnya anggur dari Australia.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan perusahaan memiliki prospek pertumbuhan di semester kedua. Dalam risetnya, Liza menyampaikan faktor pertumbuhan berasal dari musim libur akhir tahun, adanya peluncuran hotel Avara dan wine baru bernama Two Islands Ekko.
“Ekspansi ke pasar domestik dengan kampanye edukasi dan acara komunitas juga menjadi pemicu pertumbuhan,” kata Liza dalam risetnya, dikutip Selasa (12/8).
Lebih lanjut, Liza menyampaikan perseroan memiliki sedang mengejar target pendapatan hingga akhir tahun sebesar Rp 324 miliar serta laba bersih sebesar Rp 53,88 miliar.
Untuk mengejar target tersebut, perseroan akan fokus pada promosi produk di kuartal tiga dan kuartal empat. WINE juga akan meluncurkan produk baru, melakukan ekspansi pasar domestik serta melakukan kolaborasi dengan sektor pariwisata.
Liza mengatakan saat ini pergerakan saham WINE masih cenderung sideways dengan level support di Rp 212, 210, 200 dan 190. Sementara level resistance berada di Rp 220, 230, 250 dan 274.
Pada perdagangan sesi pertama pukul 10.50 WIB hari ini, saham WINE terkoreksi 0,94% atau 2 poin ke level 210. Saham mengalami bergerak fluktuatif selama sepekan terakhir dengan kenaikan 1,945. Kini, saham WINE terkoreksi sebesar 30% jika ditinjau sejak awal tahun.
Bukit Uluwatu Villa (BUVA) Perkuat Modal
Emiten sektor perhotelan milik Happy Hapsoro terpantau belum melaporkan kinerja keuangan semester pertama 2025. Meski begitu, saham BUVA tercatat telah menembus auto reject atas atau ARA pada perdagangan hari ini. Saham BUVA naik 10% atau 26 poin ke level 286.
Saham BUVA mulai bangkit signifikan pada awal Juni lalu dari level 61. Jika meninjau gerak sahamnya sejak awal tahun, saham BUVA telah melesat 393,10%.
Merujuk keterbukaan informasi teranyar yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia, berdasarkan informasi dari public expose insidentil yang digelar perseroan pada 4 Agustus lalu, BUVA berencana menggelar aksi korporasi untuk menambah modal perseroan berupa Hak Memesan Efek terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.
BUVA berencana memperdagangkan 4,8 miliar saham baru atau 23,31% dari jumlah saham yang diterbitkan. Kendati demikian, manajemen BUVA menyatakan perseroan masih melakukan proses kajian bersama pihak internal untuk memastikan harga pelaksanaan, jumlah saham serta rasionya.
“Informasi selengkapnya akan dipublikasi dalam prospektus HMETD sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata manajemen BUVA dikutip Selasa (12/8).
Perseroan juga menyatakan bahwa pemegang saham pengendali, yaitu Happy Hapsoro dengan jumlah kepemilikan sebesar 7,91% dari total seluruh saham BUVA, bersedia melaksanakan HMETD lebih dari proporsi bagiannya.
Selain Hapsoro, nama Satrio sebagai Direktur dan Duddy Abdullah sebagai Komisaris dari PT Nusantara Utama Investama juga disebut bakal menjadi stand buyer pada HMETD BUVA.
“Standby buyer tersebut akan ditetapkan dan dipublikasikan dalam Prospektus HMETD sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Melalui aksi ini, perseroan menargetkan dana sebesar Rp 240 miliar. Perseroan akan menggunakan dana tersebut untuk investasi usaha dan belanja modal salah satunya pengembangan Alila Villas Uluwatu melalui akuisisi 55% saham PT Bukit Permai Properti seluas 19,3 hektar.
Pemilihan Bukit Permai disebabkan aspek strategis dan komersial yang ada di sana, terutama terkait potensi sinergi dengan lini bisnis eksisting perseroan di sektor perhotelan dan properti premium.