Saham perbankan raksasa RI terpantau bergairah kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 139,80 poin atau 1,84% ke level 7.745 pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (12/8). Level ini merupakan yang tertinggi sejak awal tahun atau year to date (ytd). 

Apabila melihat perdagangan saham hari ini, Selasa (12/8) pukul 15.28 WIB, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terpantau naik paling tinggi yakni 6,04% ke Rp 4.040 per helainya.

Kemudian diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang terangkat 4,76% ke Rp 4.400 dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tumbuh 4,03% ke Rp 4.910. Lalu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga terkerek 3,51% ke Rp 8.850 per lembar saham. 

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya optimistis IHSG bisa menembus 8.000 pada tahun ini. "Tolong doakan sama-sama, di ulang tahun ke-80 Republik Indonesia indeks kita bisa mencapai 8.000," kata Iman Rachman Direktur Utama BEI di Gedung BEIseperti dikutip Selasa (12/8). 

 Iman mengatakan pertumbuhan jumlah investor mencapai 17,4 juta investor hingga pertengahan tahun ini. Iman menyebut jumlah itu naik lima kali dibandingkan enam tahun lalu, terutama pada investor domestik retail. 

Hal lain yang menjadi sorotan adalah hingga kini sudah ada 954 perusahaan tercatat di BEI. Iman mengatakan hal ini menggambarkan optimisme investor terhadap prospek jangka panjang Indonesia. 

Prospek Saham Emiten Perbankan

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, kinerja perbankan pada paruh pertama tahun ini masih tergolong lesu. “Sepanjang semester I memang masih underwhelming. Mudah-mudahan di semester II bisa lebih solid,” kata Nafan kepada Katadata, Selasa (12/8).

Ia menjelaskan, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan mulai menunjukkan efek positif akibat penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Hingga kini, BI telah menurunkan suku bunga acuan tiga kali dalam setahun. Nafan memproyeksikan masih ada peluang penurunan dua kali lagi pada semester kedua.

Dari sisi global, Nafan memprediksi Federal Reserve (The Fed) akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada September 2024, untuk pertama kalinya tahun ini. Jika kondisi makroekonomi Amerika Serikat tetap kondusif, kebijakan serupa diperkirakan akan kembali diterapkan pada Desember. “Dengan kondisi seperti itu, Bank Indonesia berpotensi mengikuti langkah pelonggaran BI Rate,” ujarnya.

Menurut Nafan, penurunan suku bunga acuan dapat mendorong peningkatan permintaan kredit, khususnya kredit berkualitas. Selain itu, kebijakan ini juga bermanfaat untuk menekan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). 

“Dampaknya positif bagi perbaikan dan peningkatan kinerja, terutama net interest margin perbankan,” ucapnya.

Rekomendasi Saham Perbankan

Secara teknikal, Nafan melihat rata-rata saham perbankan saat ini berada pada pola major sideways dan dalam fase akumulasi. “Pelaku pasar, baik institusi maupun investor asing, perlahan mulai masuk dan mengakumulasi saham perbankan,” katanya.

Dia kemudian memberikan rekomendasi terhadap saham-saham perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sedang menuju target harga pertama  di Rp 8.550, target harga kedua di Rp 8.825 dan target harga ketiga di Rp 12.325. Kemudian PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), target harga pertama di Rp 4.100, target harga kedua di Rp 4.210 dan target harga ketiga di Ro 5.000

Lalu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dengan target harga pertama di Rp 3.780, target harga kedua di Rp 3.910 dan target harga ketiga di Rp 4.730. Terakhir adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga pertama di Rp 4.750, target harga kedua di Rp 4.910 dan target harga ketiga di Rp 7.175.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila