Venteny (VTNY) Berencana Tambah Pinjaman dari Jepang Hingga Rp 400 Miliar
Emiten keuangan berbasis teknologi, PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) berencana menambah pinjaman dari investor Jepang senilai Rp 300 – Rp 400 miliar hingga akhir 2025.
Direktur Operasional Venteny, Milokevin Wendiady mengatakan, perusahaan saat ini tidak hanya menjalankan bisnis peer-to-peer (P2P) lending, tetapi juga super lender dengan dukungan pendanaan dari sejumlah bank di dalam dan luar negeri.
Bisnis peer-to-peer (P2P) lending adalah layanan yang mempertemukan langsung pihak yang membutuhkan pinjaman dengan pemberi dana melalui platform digital, sehingga proses pendanaan menjadi lebih cepat dan transparan tanpa harus melalui lembaga keuangan tradisional.
Sedangkan pada skema super lender, terdapat penyandang dana besar yang biasanya berasal dari institusi seperti bank atau investor besar yang masuk ke dalam platform P2P lending untuk menyalurkan pendanaan dalam skala lebih besar dan berkelanjutan.
“Kami sudah bekerja sama dengan Bank Danamon dan Bank Mayapada yang saat ini menjadi rekan bank kami,” kata Milokevin dalam paparan publik BEI 2025 secara virtual, Selasa (9/9).
Hingga semester I 2025, sebanyak 77% sumber pendanaan Venteny berasal dari Jepang, sedangkan 33% sisanya berasal dari pinjaman dalam denominasi rupiah, dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura.
Ekspansi Pasar dan Strategi VTNY Hingga Akhir Tahun
Direktur Keuangan Venteny Kaleb Solaiman mengungkapkan, perusahaan saat ini tengah menjajaki potensi pasar baru di beberapa wilayah Indonesia, di antaranya Jawa Tengah, Bali dan Sulawesi Selatan.
“Dengan target pasar kami masih sama, yakni UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), women planners, dan ESG (lingkungan, sosial dan tata kelola),” ujarnya.
Dia menyampaikan, ada tiga strategi bisnis yang akan dilakukan Venteny di masa depan. Pertama, partnership dengan aktif mencari mitra strategis untuk berkolaborasi, khususnya melalui aplikasi yang dimiliki perseroan, SuperApp B2B2I. SuperApp memungkinkan perusahaan bekerja sama dengan institusi untuk memberikan layanan ke seluruh karyawannya.
Kedua, strategi pembiayaan business to business untuk memperkuat jaminan berupa aset atau asset based financing yang dapat membantu pengusaha mengonversi aset menjadi modal kerja atau arus kas lebih cepat dibanding mekanisme perbankan.
Ketiga, menghadirkan produk Inovatif yakni layanan Earned Wage Access (EWA) yang memungkinkan karyawan mengakses sebagian gajinya sebelum tanggal pembayaran resmi. Layanan ini ditujukan agar karyawan tidak perlu mencari pinjaman darurat di luar perusahaan.
Ke depan, Venteny juga melihat peluang besar di layanan financial wellness atau solusi kesejahteraan keuangan, seiring meningkatnya kebutuhan di sektor ini.
Venteny juga belum memiliki rencana untuk melakukan rights issue, buyback saham, atau aksi korporasi lainny hingga semester I 2025.
“Kami belum ada rencana ke arah sana dalam waktu dekat,” katanya.
Laba VTNY Naik 100% pada Semester 1 2025
Sepanjang paruh pertama 2025, VTNY membukukan laba bersih sebesar Rp 7,39 miliar. Torehan tersebut tumbuh 99,72% dari laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,70 miliar.
Adapun pendapatan perseroan naik 19,54% menjadi Rp 104,01 miliar dari Rp 87,94 miliar secara tahunan atau year on year (yoy). Beban pokok pendapatan juga ikut naik menjadi Rp 68,93 miliar dari Rp 58,25 miliar.
Pendapatan tersebut diperoleh dari penjualan barang digital sebesar Rp 47,67 miliar, bunga sebesar Rp 55,72 miliar, denda sebesar Rp 305,188 juta, administrasi sebesar Rp 298,46 juta dan pendapatan lain-lain sebesar Rp 3,17 juta.
Pada perdagangan hari ini pukul 13.30 WIB, harga saham VNTY turun 1,96% atau 2 poin ke level 100. Dalam waktu satu pekan terakhir, harga sahamnya melandai 6,54% dan turun 41,18% sejak awal tahun.