Kinerja Amman Mineral (AMMN) Babak Belur: Pendapatan Anjlok 78%, Rugi Rp 2,97 T

ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Kepulan asap keluar dari cerobong pabrik smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Dusun Otak Keris, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat, NTB, Kamis (31/10/2024). Fasilitas smelter dan pemurnian logam mulia Amman berdiri di kawasan seluas 272 hektare dengan kapasitas pengolahan mencapai 900 ribu ton per tahun yang memproses konsentrat tembaga dari tambang Batu Hijau dan tambang Elang serta fluks silika sebanyak 139 ton per tahun.
30/10/2025, 16.29 WIB

Kinerja emiten pertambangan kongsi Grup Salim dan Keluarga Panigoro, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) babak belur pada kuartal ketiga 2025 ini. AMMN mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 178,53 juta atau sekitar Rp 2,97 triliun (kurs: 16.640 per dolar AS), berbalik dibandingkan laba periode yang sama tahun lalu US$ 717,11 juta.

Berdasarkan laporan keuangannya, penjualan bersih AMMN anjlok 78,1% dari US$ 2,49 miliar menjadi US$ 545,33 juta atau Rp 9,07 triliun. Penjualan domestik tercatat sebesar US$ 4,88 juta, sedangkan penjualan ekspor sebesar US$ 540,44 juta. 

Presiden Direktur AMMN, Arief Sidarto mengatakan, kerugian AMMN disebabkan oleh sejumlah hambatan dalam proses peningkatan kapasitas smelter serta larangan ekspor konsentrat yang berlaku sejak awal tahun. Selama masa transisi itu, perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan biaya, dan mempercepat kinerja produksi.

Ia juga menyebut ruginya AMMN gara-gara dampak transisi jangka pendek seiring dengan selesainya peralihan perusahaan menuju operasi hilir. Dengan penjualan katoda tembaga yang kembali dimulai sejak kuartal II dan penjualan emas murni sejak kuartal III kinerja keseluruhan mulai pulih.

Penurunan penjualan perusahaan juga dipicu oleh kebijakan yang membatasi AMMN untuk hanya menjual produk logam jadi, seperti katoda tembaga dan emas murni, bukan lagi dalam bentuk konsentrat seperti pada 2024. 

Penjualan katoda tembaga berkontribusi sekitar US$ 389 juta sejak kuartal II, sementara penjualan emas murni yang baru dimulai pada kuartal III menyumbang sekitar US$ 155 juta. Adapun US$ 1 juta sisanya berasal dari penyesuaian harga akhir dan volume atas penjualan konsentrat tahun sebelumnya.

“Perseroan sedang mengajukan izin ekspor konsentrat dan setelah izin tersebut diperoleh, AMMN akan dapat menjual baik konsentrat maupun produk logam jadi,” katanya dalam keterangan resmi dikutip keterbukaan informasi, Kamis (30/10). 

Dari sisi pertambangan, operasi tetap berjalan sesuai rencana. Tim AMMN juga akan terus meningkatkan volume bijih segar yang ditambang sejak kuartal kedua 2025. Adapun volume bijih segar di Q3 meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Q2. 

“Kami tetap yakin bahwa kegiatan penambangan dapat mencapai panduan produksi tahun 2025,” ucapnya.

Laporan Produksi

Adapun volume material yang ditambang hingga kuartal ketiga 2025 tercatat 6% lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Manajemen AMMN mengatakan, penurunan ini tergolong wajar karena volume penambangan pada 2024 mencapai rekor tertinggi dan diperkirakan akan menjadi salah satu pencapaian terbesar sepanjang umur tambang Batu Hijau.

Pada kuartal ketiga 2025, kegiatan penambangan difokuskan pada pengupasan lapisan batuan penutup (waste removal) serta pengambilan bijih berkadar rendah hingga menengah di bagian terluar Fase 8. Hal ini membuat volume bijih segar yang ditambang selama Januari–September 2025 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu meski meningkat signifikan secara kuartalan dari 5 juta ton  menjadi 14 juta ton.

Adapun biaya penambangan per unit naik 10% secara tahunan menjadi US$ 2,45 per ton, erutama karena jarak angkut yang lebih jauh, kenaikan harga bahan bakar, serta penurunan volume material. Meski demikian, biaya tersebut masih berada dalam kisaran anggaran perusahaan.

Selama sembilan bulan pertama 2025, produksi konsentrat mencapai 310.143 metrik ton kering, turun 51% secara tahunan. Produksi tembaga dan emas masing-masing sebesar 145 juta pon dan 75.621 ons, atau turun 57% dan 89% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini sudah diantisipasi karena sebagian besar bijih yang diolah berasal dari stok cadangan (stockpiles) dan bijih berkadar rendah dari Fase 8.

Di sisi lain, produksi katoda tembaga dari fasilitas smelter yang mulai beroperasi sejak akhir Maret 2025 mencapai 41.052 ton atau sekitar 91 juta pon selama 9M 2025. Sementara itu, produksi emas murni dari Precious Metals Refinery (PMR) yang mulai beroperasi pertengahan Juli menghasilkan 44.792 ons sepanjang Q3 2025.

Panduan Kinerja Perusahaan 2026

Pada 2026, manajemen AMMN memperkirakan operasi penambangan menghasilkan sekitar 900.000 metrik ton kering konsentrat. Produksi ini mengandung 485 juta pon (sekitar 220.000 ton) tembaga dan 579.000 ons emas.

Dari total tersebut, sekitar 500.000 metrik ton kering akan diproduksi dari pabrik konsentrator yang saat ini beroperasi, sedangkan 400.000 metrik ton kering sisanya ditargetkan berasal dari pabrik konsentrator baru, tergantung pada kemajuan proses komisioning.

Adapun pekerjaan perbaikan smelter ditargetkan rampung pada semester pertama 2026, dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) yang dilakukan secara bertahap sepanjang tahun. Saat ini, perusahaan belum dapat memberikan panduan produksi untuk katoda tembaga dan emas murni di 2026 karena fokus masih pada upaya mencapai kestabilan operasional smelter.

AMMAN juga tengah mengajukan izin ekspor konsentrat yang diperkirakan akan diperoleh pada kuartal keempat 2025 dengan masa berlaku enam bulan.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila